Lunacrest

Lunacrest
Chapter 83



Mendengar jawaban seperti itu justru membuat Raiden makin tak sabar. “Bisakah kamu berhenti memberi kami teka teki dan langsung saja ke poinnya? Apa benar kamu dari pegunungan Pothine?”


“Saat ini aku tidak sedang memberimu teka-teki, Raiden.” Curio menggeleng. “Ah, seharusnya aku cerita lebih awal. Tidak kusangka kalau akan jadi begini.”


“Apa maksudmu!?” Raiden makin tak sabar.


Curio menghela napas pendek. “Tepat sebelum ke Korumbie minggu ini, aku melewati pegunungan Pothine. Aku melihat mereka. Para demon.”


Amari menahan napasnya. “Kamu yakin?”


“Sangat yakin. Aku kenal para demon. Kulit pucat mereka, telinga runcing, juga seringai menyebalkan. Tapi, jangan khawatir, Amari cantik. Aku tidak melihat Jataleiya atau demon-demon kuat. Mereka mungkin hanya demon-demon kecil yang tak sabar akan kebangkitan sang ratu. Mereka mengumpulkan banyak monster lain untuk bergabung di bawah mereka.” Curio meletakkan kecapinya di meja.


“Sebanyak apa?” Raiden buru-buru menghampiri Curio.


“Aku tidak melihat jelas, tapi pasti cukup untuk menghabisi pasukan atau siapapun yang dikirim untuk memeriksa pegunungan.”


“Monster apa yang kita bicarakan di sini?”


“Monster seperti apa yang ada dalam bayanganmu?”


Raiden tak suka saat Curio balik bertanya padanya. “Orc? Goblin? Gargoyle?”


“Semula aku juga berpikir kalau mereka merekrut monster-monster kecil untuk bawahan. Tapi, tampaknya mereka ingin sesuatu yang jauh lebih kuat. Monster besar, kuat, ganas, beracun, berbahaya. Sebut saja seperti chimaera dan minotaur.”


Amari menggeleng. “Kamu mengada-ada!”


“Aku mengatakan yang kulihat. Percaya atau tidak, terserah padamu.”


“Setahuku, minotaur tidak menerima perintah dari siapa pun. Mereka bergerak sendiri.” Sekalipun Amari tidak pernah turun langsung ke lapangan apalagi bertemu para monster, dia mempelajari banyak untuk melengkapi pekerjaannya sebagai administrator guild. “Chimaera juga tidak mungkin berada di Pothine. Monster itu berbahaya. Para prajurit seharusnya langsung melapor kalau melihat monster seperti chimaera.”


Elloys membiarkan kalimatnya menggantung. “Kecuali…”


“Kecuali mereka tidak melihatnya,” sambung Raiden.


“Tapi, bagaimana bisa?” Amari terdengar sangsi. “Ada menara penjaga di sana. Kudengar dari Exodiart kalau mereka melapor secara rutin. Mereka juga melakukan patroli. Tidak mungkin mereka melewatkan monster-monster semacam itu. Maksudku, monster-monster itu besar, kan?”


Exodiart memberikan penjelasan lebih lengkap pada Amari agar gadis itu tak kebingungan saat harus menyelesaikan laporan. Dia harus membuat berkas serta catatan untuk keperluan guild.


Keempat anggota Lunacrest itu mulai beradu argumen. Mereka menebak-nebak bagaimana mungkin para prajurit tak mendeteksi keberadaan para demon dan monster yang mereka rekrut.


“Bagaimana kalau kita ganti pertanyaannya?” sahut Elloys.


“Ganti seperti apa?” Keniaru menggaruk kepala, tak yakin dengan maksud kakaknya.


“Bagaimana kalau laporan itu tidak pernah sampai ke kerajaan? Bagaimana kalau mereka benar melihatnya tapi tak bisa melapor? Bagaimana kalau laporan yang masuk ke kerajaan diganti?” Elloys menarik napas dalam-dalam. “Ini enggak akan berakhir baik.”


“Orang dalam!” sahut Raiden. “Kalau ada orang dalam yang menyembunyikan fakta ini, kita semua dalam masalah.”


“Menurutmu, mereka akan melakukan penyerangan ke Korumbie?”


“Ya. Pertama, mengurangi jumlah para prajurit dan petualang dengan jebakan semacam ini. Juga menjatuhkan mental kita semua. Selanjutnya, penyerangan besar-besaran ke Korumbie.” Raiden mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Ketika menelan ludah, Raiden merasakan tenggorokannya pahit. “Mereka ingin mengulang tragedi sebelas tahun lalu.”


“Kegelapan mendekat tapi tak mengusik bulan di puncak.” Curio memejamkan mata. “Masalah besar akan melanda tapi aku yakin kalau Lunacrest bisa bertahan. Ah, bukan. Aku yakin kalau Lunacrest tidak akan terlibat.”


Amari menyilangkan tangan di depan dadanya. “Jangan bilang kalau kamu bisa mendapat penglihatan seperti Kisarumi.”


“Tidak persis.” Curio membuka matanya.


“Mungkin juga tidak akurat.”


Amari mendesah kesal. Curio tidak perlu meniru Kisarumi untuk membuat sajak dan menimbulkan pertanyaa. Ah, bukan. Dia lebih kesal karena menyadari kalau Curio seharusnya bisa memberitahu mereka lebih awal, melewatkan mereka dari masalah ini.


Raiden beranjak mendekat ke sofa, mengambil kapaknya. “Kalau benar banyak monster kuat di sana, kita harus segera menyusul mereka.”


“Bagaimana caranya? Kita akan makan waktu berhari-hari kalau harus berjalan ke sana. Aku juga enggak yakin ada kereta yang mau membawa kita ke sana dalam kondisi seperti ini,” sahut Keniaru. “Semuanya sudah terlambat saat kita sampai.”


“Kita memang tidak bisa ke sana sendiri. Kita butuh bantuan Guild Master Declan. Kita harus memperingatkannya—”


“Tanpa bukti?” sahut Curio. “Declan tua akan mengusirmu dari ruangannya. Itu pun kalau kalian bisa menemukannya dan dia mau menemui kalian.”


Teori soal orang dalam membuat Elloys bergidik ngeri. Dia tahu banyak pembunuhan terjadi ketika cukup dekat dengan seorang Black Knight. Bukan tidak mungkin kalau saat ini nyawa Guild Master Declan diincar. Dia paham jelas ucapan Curio sebelumnya. Kadang, ketidaktahuan membawa ketenangan.


“Kita tidak pernah tahu sebelum kita coba!” sahut Raiden.


Curio membuat senyum simpul. “Sepertinya kamu tipe yang gegabah saat gelisah, ya?”


“Kamu pikir aku akan duduk diam di sini selagi kakakku terancam?” Raiden mulai melangkah ke pintu.


“Apa kamu berpikir bisa menyelamatkan mereka kalau tiba di sana?”


Pertanyaan Curio sukses membuat Raiden berhenti di depan pintu markas. “Enggak. Tapi, aku yakin bisa membuat perubahan.”


“Hahaha…” Curio malah tertawa mendengarnya.


Elloys menangkap alasan kenapa dia tertawa. “Kamu punya cara sendiri untuk tiba di sana, ‘kan? Beritahu kami!”


Curio tersenyum. “Aku tidak bisa menjamin kalau kalian bisa kembali dengan selamat.”


“Bukan masalah. Sejak awal, itu risiko para petualang.” Elloys mengulurkan tangannya ke Curio. “Jadi, apa trikmu? Portal sihir? Menunggangi naga? Aku yakin kamu punya jalur sendiri.”


“Tunggu sebentar. Sebelumnya, siapa yang akan pergi ke sana?”


Elloys dan Raiden bertukar pandang. Kemudian, mereka serentak melirik Keniaru.


Keniaru langsung berkacak pinggang. “Jangan berani meninggalkanku di sini! Tapi, kalau kita semua pergi, siapa yang akan menjaga piala itu?”


Tepat saat itu, pintu terbuka. Harufuji melangkah masuk dengan kantong kertas dalam pelukannya. “Selamat pagi, teman-teman. Aku membawa buah persik. Banyak. Tetanggaku baru saja memanen kebun…” Dia kemudian berhenti saat menyadari semua tatapan sedang terarah padanya. “Eh, apa aku datang di saat yang salah? Kenapa mendadak firasatku tak enak?”


“Kalian akan meninggalkannya di sini untuk menjaga piala Angelic Desert?” tebak Curio. “Boleh kuberi saran? Itu ide yang sangat buruk. Sungguh.”