Lunacrest

Lunacrest
Chapter 47



Selagi para perwakilan guild mencari bendera, para pemusik kembali masuk ke dalam arena. Mereka memainkan berbagai lagu. Para penonton mendapat pertunjukan dengan standar istana. Sebuah dilema bagi orang-orang seperti Elloys. Dia bukannya tidak suka dengan pertunjukan sebaik itu, hanya saja dia lebih memilih melihat para petualang melawan satu sama lain hingga tiba di atas.


Pertunjukan terus berjalan sekalipun guild pertama dengan bendera telah datang. Mereka duduk di tepi arena, dekat para pemain musik yang masih memberikan atraksi. Begitu seterusnya, guild kedua, guild ketiga, guild keempat. Setelah itu, Elloys berseru.


“Itu Exodiart!”


Mata para anggota Lunacrest mengenali ketika ketua guild mereka datang membawa tongkat kecil dengan bendera warna pelangi terikat di ujungnya. Ketiganya berlari sambil melirik pada rekan-rekan guild mereka.


“Bagaimana bisa…” Amari melongo. Matanya terpaku pada ukuran bendera yang jauh lebih kecil dari perkiraanya. “Kukira mereka enggak akan bisa menemukannya secepat ini. Bukan, bukan. Kupikir mereka bahkan enggak akan bisa menemukannya sama sekali. Ini seperti permainan petak umpet, ‘kan?”


Mierai menepuk bahu temannya. “Siapa yang peduli? Yang penting, guild kita lolos babak penyisihan!”


Lunacrest jadi guild kelima yang membawa bendera kembali ke dalam arena. Mereka menanti hampir satu jam hingga ketiga puluh dua guild dinyatakan lolos ke babak selanjutnya, yaitu turnamen.


Bagian turnamen ini adalah acara utama dan bentuk sesungguhnya dari Guild Showdown. Acara ini akan memakan waktu lima hari dimulai dari hari Selasa. Di hari kelima, pada final Guild Showdown nanti, keseluruhan rangkaian acara akan ditutup dengan parade meriah setelah pengumuman pemenang.


 


 


Pada bagian turnamen Guild Showdown, penonton akan melihat pertempuran satu lawan satu dari perwakilan masing-masing guild. Guild boleh mengirimkan orang yang sama untuk melawan orang selanjutnya di guild lawan, tentu saja bila mereka menang. Hal ini sangat jarang terjadi tapi bukannya tidak pernah. Agaknya, di Guild Showdown kali ini, Lunacrest membuat strateginya sendiri.


Exodiart memasang Reiyuel sebagai orang pertama, dirinya sendiri sebagai orang kedua, dan Harufuji di posisi terakhir. Artinya, bila Reiyuel menang melawan orang pertama, dirinya boleh maju lagi melawan orang kedua. Inilah yang membuat Exodiart — secara tidak sengaja — mengubah pilihannya menjadi strategi tersendiri menuju kemenangan.


Bagaimana tidak? Reiyuel sendirian saja bisa menang melawan dua orang berturut-turut dari guild lawan. Mereka bahkan tidak perlu mengadakan pertandingan ketiga. Hal ini terjadi dalam berturut-turut melawan dua guild berbeda atau berturut-turut dalam total empat pertandingan.


Exodiart tidak perlu turun ke arena, apalagi Harufuji. Pada pertandingan melawan guild ketiga, penentuan menuju delapan besar, Exodiart memaksa Reiyuel mundur setelah melawan orang pertama. Dia sendiri maju melawan orang kedua dan menang. Lagi-lagi, Harufuji tak mendapat kesempatan. Meski begitu, dia justru terlihat santai tak perlu turun di pertandingan. Seandainya Harufuji adalah Elloys, ceritanya pasti berbeda. Mungkin dia akan mengomel karena tidak diturunkan di awal.


Exodiart sangat senang dengan performa timnya. Amari sejak awal membantu mengumpulkan berbagai informasi mengenai lawan yang mungkin akan mereka temui. Informasinya tersaji terarut, cepat, tepat, bahkan akurat. Memang bukan sebuah poin penentu apalagi jaminan kemenangan, tapi perwakilan Lunacrest jadi bisa punya perkiraan mengenai lawan. Jauh lebih baik daripada menebak-nebak.


Hari Kamis sore itu, Lunacrest dinyatakan lolos ke semifinal.


 


 


Pertandingan semifinal diadakan Jumat pagi, pukul sembilan. Seluruh anggota Lunacrest turut menyaksikan termasuk Kelsey. Mereka menempati posisi yang cukup strategis, di bagian bawah dekat dengan arena tempat pertempuran berlangsung. Hal ini memang merupakan keistimewaan guild-guild pemenang.


Elloys kini duduk diapit Mierai dan Keniaru. Dia bisa ngobrol sepanjang pertandingan dengan Mierai. Mereka sering sekali punya pendapat sama. Mulai dari teknik apa yang seharusnya digunakan, kapan, hingga pakaian seperti apa yang dipakai para peserta Guild Showdown. Keniaru tak terganggu dengan ocehan kakak sepupunya. Dia sudah sangat biasa mendengarkan hal-hal semacam itu.


“Lunacrest baru pertama kali mengikuti Guild Showdown, ‘kan?” tanya Elloys pada Mierai.


“Iya. Kita guild baru.”


“Jangan katakan, Ell!”


“—terlalu mudah?”


Mierai terdiam sesaat sebelum akhirnya tawa menyembur keluar darinya. “Oke, oke. Biasanya hal buruk terjadi setelah seseorang bilang sesuatu terjadi terlalu mudah. Kuharap kali ini berbeda. Hahaha…”


“Baik, mungkin itu cuma perasaanku.” Elloys malah ikut tertawa.


Keduanya paham benar kalau Guild Showdown melarang guild-guild kelas atas seperti Maelstrom ikut serta. Sekalipun demikian, masih banyak guild kuat lain yang bisa ikut serta pula. Saat ini Lunacrest bisa maju ke semifinal tanpa halangan berarti. Entah karena keberuntungan, entah karena kebetulan.


Mierai merapatkan badannya ke Elloys agar bisa berbisik langsung ke telinga temannya. “Sebenarnya… Aku dengar beberapa rumor soal guild-guild di Korumbie. Bukan sembarang guild, tapi guild-guild kuat. Maksudku, guild-guild yang ada di urutan sepuluh atau dua puluh besar.” Mierai memberikan penekanan di akhir kalimatnya.


“Guild yang dijagokan menang di Showdown,” bisik Elloys.


“Benar. Bagaimana bilangnya, ya? Mereka tidak maksimal.”


“Mereka membuat semua berantakan. Aku bicara soal taruhan.”


“Hei, jangan bilang kalau kamu juga suka ikut taruhan Guild Showdown.”


“Enggak!” sahut Elloys. “Tahun ini enggak. Aku merasa tidak enak kalau sampai memihak guild lain bukannya mendukung Lunacrest.”


“Hei! Itu sangat… nakal.”


“Mau ikut kapan-kapan?” Elloys mengedipkan sebelah matanya.


Seolah membalas, Mierai ikut mengedipkan sebelah matanya juga. “Tahun depan.”


Seperti pertandingan-pertandingan sebelumnya, Shania menjadi pembawa acara. Kali ini, dia tampil dengan serba hijau. Tugasnya memimpin acara sekaligus memberikan informasi secara segar. Dia memanggil kedua guild, memperkenalkan setiap anggota perwakilannya, lalu membacakan peraturan yang berlaku.


Pada semifinal juga final Guild Showdown, pertandingannya akan dibuat tiga lawan tiga bukan lagi satu lawan satu. Artinya, ketiga peserta boleh langsung turun ke arena bersamaan. Di final inilah, kerja sama anggota guild akan benar-benar diuji.


Lawan Lunacrest di semifinal ini adalah sebuah guild yang telah berdiri lebih dari lima tahun silam. Guild tersebut menurunkan seorang Guardian, seorang Berserker, dan seorang Cryomancer. Pertandingan tidak berlangsung lama. Tidak sampai setengah jam berlalu, Lunacrest dinyatakan sebagai pemenang.


Suara gemuruh penonton memenuhi arena.


Kali ini giliran Mierai merasa resah. “Kita masuk final? Serius?”


“Kenapa mereka hanya menurunkan anggota baru saja?” Elloys mencibir. “Aku ingat pernah bertemu mereka di kantor Guild Master Declan saat hendak mencari informasi soal guild. Seingatku mereka juga ingin mendaftar ke Mael— Eh, maksudku, mendaftar ke guild.” Matanya mengamati tribun seberang di mana para anggota guild lawan juga sedang menonton. “Mereka bahkan hanya mengirim tiga orang untuk nonton semifinal? Keterlaluan.”


Mierai menggeleng. “Tadi kamu bilang apa soal terlalu mudah?”