
Raiden benar-benar tak tahu apa yang membuatnya membiarkan Elloys ikut dengannya. Mereka sudah selesai menyantap ikan bakar buatan Elloys. Raiden harus mengakui itu salah satu sarapan terlezat yang pernah dia nikmati. Elloys pun cepat-cepat makan, berganti pakaian lalu barulah keduanya berjalan berdua ke pusat ibu kota di mana kantor-kantor kerajaan dan petualang berjajar.
Jalan berbatu yang mereka lalui cukup ramai. Banyak para pedagang kios kecil menjajakkan jualannya, ada pula orang-orang seperti Raiden yang ingin mengurus soal kenaikan kelas.
“Bagaimana denganmu?” Elloys membuka percakapan.
“Bagaimana apanya?”
“Kalian tinggal berdua?”
“Iya.” Suara Raiden tenggelam dalam keramaian.
Elloys mengamati wajah Raiden lekat-lekat. Si calon Berserker menatap ke depan dengan tatapan sayu. Elloys menanti ketika mereka mencapai area yang lebih sepi. “Maaf.
“Untuk apa?”
“Aku tahu kamu sedang bertengkar dengan Praxel tapi malah bertanya soal keluarga. Maaf, membuatmu enggak nyaman.” Elloys menggigit bibir. Dia menarik tangannya ke belakang di mana tongkatnya disimpan. Jemarinya menyusuri lapisan tongkat. “Aku hanya merasa sayang sekali kalau saudara bertengkar.”
“Kamu punya saudara?” Giliran Raiden mengamati wajah Elloys.
Elloys menggeleng. “Aku anak tunggal. Karena itu, aku cukup akrab dengan saudara sepupu.”
“Seperti Keniaru.”
“Kamu tahu? Ken ke sini juga gara-gara aku.” Elloys cekikikan ketika mengingatkanya. Hanya sebentar, kemudian senyumnya lenyap. “Ken punya seorang kakak. Dia… sudah tidak ada. Sebelum dia tewas, Ken bertengkar dengannya. Dia… Ken, maksudku, menyesal karena tidak sempat minta maaf atau semacam itu.”
“Boleh aku tanya. Kenapa dia meninggal? Monster.”
“Tepat sekali.”
“Dia seorang petualang?”
“Dia hanya seorang anak sembrono yang sembarangan saja main gebuk. Waktu itu umurnya masih dua belas tahun. Atau sepuluh, aku lupa.”
“Apa itu alasanmu jadi petualang?”
“Enggak juga. Sejak kecil, aku memang tertarik dengan sihir.”
“Bagaimana dengan Ken?”
“Oke, soal itu, mungkin dia tertarik jadi petualang gara-gara aku. Mungkin. Ya sudah, jadi aku membantunya ini itu agar dia benar-benar bisa jadi petualang yang optimal.”
Raiden mendesah. “Kamu juga menganggapku seperti adikmu, toh?”
“Memang salah?”
Raiden tak menjawab.
Mereka telah tiba di depan kantor Warrior. Gedungnya hampir sama dengan gedung-gedung lain yang berada sederet dengannya. Mereka semua merupakan kantor-kantor yang diperuntukkan khusus mengatur kelas para petualang. Perbedaan mereka adalah pada cat yang digunakan untuk melapisi bata luar gedung. Kantor Warrior menggunakan warna merah, kelihatan biasa. Elloys selalu merasa gedung Mage paling menonojol dengan warna lembayungnya.
Prosesnya berlangsung seperti ingatan Elloys. Ada kalanya Raiden harus masuk ke ruangan seorang diri, ada kalanya Elloys bisa membantu Raiden membawakan lembar-lembaran ringkih. Tidak sampai satu jam setelahnya, Raiden pun resmi mendapatkan kelas ketiganya, Berserker.
Ketika mereka meninggalkan kantor Warrior pun, Elloys membantu membawakan map berisi berkas-berkas Raiden meski mantan Vanguard itu sebenangnya menolak.
“Aku akan bicara dengan Praxel setelah ini,” ujar Raiden lirih. “Jujur saja, rasanya aneh. Padahal kami bertemu setiap hari, di rumah.”
“Kamu takut dia marah kalau tahu kamu jadi Berserker bukan Destroyer?”
“Enggak. Dia menyerahkan semua keputusannya padaku.”
“Oh.”
“Kalau kupikir-pikir, mungkin aku sama seperti Keniaru. Aku ke sini untuk mengikuti Praxel. Waktu itu…” Raiden berhenti. Saat mengira kalau dirinya bisa menyambung kalimatnya, Raiden malah mendapati dirinya berhenti bicara sama sekali.
“Raiden,” akhirnya Elloys yang bicara. “Kamu enggak harus cerita kalau enggak mau. Aku sangat paham. Setiap orang punya luka mereka masing-masing.”
“Bagaimana denganmu? Apa lukamu?” Raiden mengembalikan pertanyaan pada Elloys.
Gadis itu terhenyak pada pertanyaan Raiden. Dia mengigit bibirnya lagi sambil memperhatikan bagaimana sepatunya menapaki jalanan berbatu. “Itu—”
“Jangan cerita kalau enggak mau.” Raiden membalas Elloys dengan kalimatnya sendiri. Tanpa maksud menyakiti sama sekali. Dia tersenyum simpul ketika Elloys melongo padanya. “Setiap orang punya luka mereka masing-masing. Aku paham sekarang.”
“Hahaha…” Elloys malah tertawa. “Kamu belajar dengan cepat.”
“Banyak yang bilang begitu.”
“Tapi, kurasa aku memang ingin berbagi itu denganmu. Lukaku. Bukan luka fisik. Sesuatu yang menyakiti bagian dalam bukan bagian luar. Mereka bilang, kalau kamu sudah bisa membicarakannya, berarti lukanya sudah mulai sembuh.” Elloys menarik napas dalam-dalam. “Aku punya keberuntungan buruk soal cowok.”
Raiden langsung mengernyit mendengarnya.
“Aku cerewet, suka seenaknya, terlalu agresif.”
Raiden masih mengernyit. Dia tak yakin ingin mendengarkan semua pengakuan Elloys di gang sepi tanpa orang lain berlalu lalang sama sekali. Di matanya, Elloys punya tubuh bagus dan penampilan menarik. Dia yakin kebanyakan laki-laki akan sependapat dengannya. Karena itu, sebagian dirinya penasaran. “Aku bisa melihatnya. Terus?”
“Cowok yang kusuka, jadian dengan teman baikku sendiri. Menurutnya, aku berisik.”
Raiden memutar bola mata, mengatupkan bibir, menahan diri agar tak berkomentar. Dia tak bisa tak setuju dengan pendapat itu.
Elloys melanjutkan. “Lalu, ada lagi. Cowok ini ternyata memutuskan untuk tidak menikah demi mengejar karier.”
“Itu langka.”
“Tentu saja. Terus, cowok yang sempat jadi pacarku, menyerah dengan sikapku. Dia bilang aku terlalu mengaturnya padahal usia kami terpaut jauh. Dia sepuluh tahun lebih tua dariku. Dunia kami berbeda. Dia enggak suka aku keluar untuk berburu monster.”
“Beda pandangan soal hal-hal penting.”
“Benar. Terus—”
“Ada lagi?” Raiden merasakan dahinya berkerut.
“Cowok ini. Dia… berbeda. Jauh berbeda dibandingkan semua cowok yang dekat padaku. Dia kuat, pengertian, sabar, tapi juga dingin. Misterius tapi memesona. Aku tahu kami cocok. Kami suka berpetualang berdua, menghancurkan perkemahan monster, berburu. Setiap aku kesal, dia selalu mengajakku memancing. Sangat. Aneh. Dia meminta cewek aktif sepertiku untuk memancing dengan segala ketenangan dan kesabaran. Waktu kutanya kenapa, dia tidak mau bilang. Dia hanya bilang memancing cocok untukku. Aneh, ‘kan? Jadi, aku mendesaknya. Aku tanya apa itu semacam terapi. Dia juga bilang bukan.”
“Apa itu karena kamu Pyromancer? Kamu seperti api membara. Kegiatan yang berhubungan dengan air bisa membuatmu tenang.”
Elloys terdiam sebentar mendengar tebakan Raiden. “Benar. Dia bilang begitu. Kenapa kamu bisa berpikir begitu? Apa itu hal yang sangat jelas akan dipikirkan cowo.”
“Entahlah.” Raiden juga tak mengerti kenapa dirinya bisa berpikir begitu. “Lalu, apa masalah di antara kalian.”
“Pekerjaannya. Dia seorang Slayer. Bukan sekadar kelas lanjutan dari Assassin. Dia Slayer sungguhan.”
Raiden merasakan hawa dingin mulai merambati pungunggnya. “Pembunuh bayaran?”
Elloys menggeleng, membuat senyum tipis, berkata pelan seolah berbisik. “Oh, dia lebih keren dari itu. Dia salah seorang Black Knight.”
Mendengar salah satu sindikat paling berbahaya disebut, Raiden spontan mengawasi sekeliling.
“Jangan khawatir,” kata Elloys masih dengan suara pelan. “Mereka tidak di sini.”
“Bagaimana kamu tahu?”
“Mereka enggak akan menyakiti calon anggota mereka.”
“Apa—”
“Akan kuceritakan lebih banyak kalau kamu cerita punyamu.”