Lunacrest

Lunacrest
Chapter 74



Raiden mengerjap. Cahaya lembut memenuhi pemandangan. Dia bisa melihat daun pohon bergerak lembut. Matahari bersinar melaluinya. Mereka membentuk bayang-bayang samar pada dirinya dan gadis di sebelahnya.


Elloys terlelap dengan kepala bersandar di bahu Raiden. Dari jarak sedekat itu, Raiden bisa mencium wangi samar. Bukan bau api atau asap, melainkan sejenis aroma bunga yang sering membuatnya rindu. Kulit putih dan pipi merona itu membuatnya tergoda.


Jemari Raiden menyusuri rambut ungu Elloys. Dia tak pernah memperhatikan kalau warnanya begitu menarik di mata. Perlahan, jemarinya bergerak ke wajah. Kulit Elloys begitu lembut, mulus tak bercela. Raiden bukan hanya beryukur tak ada luka akibat pertempuran di sana. Kini ada perasaan timbul dalam benaknya. Dia ingin melindungi agar tak ada monster yang berani melukai.


Telunjuk Raiden tiba di dagu Elloys lalu ke bibirnya. Terasa begitu lembut, terasa begitu nyata. Saat itu, Elloys bergetar. Kelopak matanya terbuka mengekspos bola mata lembayung yang mengundang aura mistis. Raiden bisa merasakan bagaimana jantungnya berdebar makin kencang.


Elloys menarik kepalanya, hanya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Raiden. Napas mereka terasa panas dan juga memburu di saat sama. Tangan Elloys menyusuri rambutnya lalu perlahan menariknya lebih dekat. Makin dekat. Raiden pun memejamkan mata membiarkan Elloys memimpin.


Lantas, kehangatan lenyap digantikan rasa dingin.


“Mimpi, ya?” keluhnya. “Kenapa bisa mimpi begini, sih.”


Raiden tahu telah terbangun dari mimpi tapi tak cepat-cepat membuka mata. Separuh dirinya berharap mimpi akan berlanjut. Tentunya itu tidak terjadi.


Dia bergerak pelan di atas ranjang. Sekarang, ucapan Kisarumi masih terbayang dalam benak. Pilihannya berpengaruh besar bagi Lunacrest. Dia tidak paham apakah itu maksudnya pilihan yang telah dia buat atau pilihan yang akan dia ambil. Dia juga tidak mengerti pengaruh apa yang bisa terjadi. Dia tidak tahu apa arti ucapan tersebut.


Raiden akhirnya mengerjap dalam gelap. Dari jendela di kamar, dirinya sadar telah bangun lebih awal dibanding biasanya. Dia pun menurunkan kaki dari ranjang. Seketika, rasa dingin tak ramah merambat naik. Membuat sensasi geli, mengusir kantuk dalam sekejap.


Hari baru sudah datang.


Ketika keluar dari kamar, dia melihat Cookie tidur di depan pintu kamar Praxel. Si anjing kecil hampir selalu merengek agar bisa tidur sekamar dengan majikannya. Sayangnya, kedua majikannya tak pernah sekalipun mengabulkan permintaan itu. Jadi, dia sering sekali tidur di depan pintu kamar. Tak jarang pula, dia terdorong oleh pintu yang dibuka Praxel atau Raiden.


Raiden mengendap-endah bersama kapak besar di tangannya, keluar lewat pintu belakang. Dia bersyukur semalam tidur dengan kaus berlengan karena biasanya dia tidur bertelanjang dada. Pagi ini terasa dingin. Mungkin lebih dingin daripada biasanya. Udara dingin menyapa, menggoyang rerumputan, dedaunan, juga rambut cokelatnya. Raiden menguap lagi sembari berjalan ke tengah. Kelembabannya tak begitu nyaman di kulit.


Raiden memulai latihannya dengan lari mengelilingi rumah lebih dulu. Kemudian, dia mulai melakukan push up dan sit up. Setelahnya, barulah dia mengambil kapak, mengayunkannya dalam pola tertentu.


Sejak resmi menjadi Berserker, Raiden makin sadar kalau dirinya begitu menikmati menggenggam kapak. Jauh lebih menikmati daripada menggunakan palu. Terutama kalau membandingkan efek yang dihasilkan.


Elloys mungkin punya mata yang jeli, pikirnya.


Raiden pun berhenti, terengah-engah. Dadanya naik turun dengan cepat namun teratur. Sekarang dia juga menyadari kalau lebih sering memikirkan Elloys. Sebelum dia memulai latihan pagi, Elloys sudah lebih dulu datang dalam mimpinya. Sesuatu yang tidak bisa dia kontrol.


Raiden mendesah, menjatuhkan dirinya ke bawah. Entah apa yang membuat Elloys kini terasa begitu menarik. Dia tak kuasa menjauhkan dirinya dari segala pesona si Pyromancer. Rambutnya, matanya, aromanya, kekuatan, sekaligus sisi misteriusnya. Semua bagaikan magnet bagi dirinya. Dibandingkan Kelsey yang lembut seperti bunga lili, Elloys seperti mawar. Cantik memesona sekaligus berduri.


Mungkin dirinya terasa tertantang untuk membuat Elloys luluh. Kakaknya terlalu lembut untuk Elloys. Dia lebih cocok.


Raiden penasaran apakah dia sudah melakukan hal yang sama ketika melihat Elloys menangis sendirian di kolam pancing. Dia bersyukur menuruti insting yang membawanya ke sana. Lebih tepatnya, dia bersyukur menemukan Elloys saat itu.


“Aaargh!” Raiden mengacak-acak rambutnya. Dia seharusnya latihan bukan berfantasi ria. Sekarang pikirannya penuh dengan terlalu banyak angan-angan yang terlalu sulit diwujudkan.


Gongongan terdengar dari jauh. Raiden bisa melihat Cookie berlari riang padanya. Dia melompat riang di sekelilingnya lalu lari ke arah pohon besar. Di sana pun, si anjing berlari mengelilingi pohon lalu berhenti. Hidungnya mengendus udara. Ekornya tak lagi mengibas. Gonggongnya lenyap digantikan geraman pelan.


Raiden berdiri. Dia menyipitkan mata agar bisa melihat ke kejauhan. Bukan ke arah kota Korumbie yang megah. Jauh di belakang Korumbie, ada deretan pegunungan. Mereka nampak lain. Raiden tak memahami apa perbedaannya hingga cahaya mulai menunjukkan apa yang salah.


Ketika langit di sekeliingnya berangsur cerah, langit di atas pegunungan tetap suram. Mendung kelabu menggantung. Sesekali kilat menyambar. Bukan kilat oleh badai melainkan sesuatu yang lain. Kilat seharusnya datang dari langit bukan dari bawah. Langit tidak memanggil mereka. Mereka datang dari yang lain. Ukurannya tak bisa dibandingkan ukuran sihir Exodiart. Ini begitu besar sampai bisa terlihat dari jauh.


Berikutnya, kilat besar datang lagi. Kali ini disusul suara petir kencang yang merambat hingga ke tempatnya. Raiden tersentak kaget. Tanah di sekelilingnya ikut bergetar. Burung-burung di Korumbie berterbangan dalam takut. Cookie meringkuk di belakang kaki Raiden.


“Apa itu?” Praxel berlari keluar dari rumah, masih mengenakan baju tidurnya.


Raiden berpaling, hanya bisa menggeleng sambil angkat bahu.


“Ini cara membangunkan paling buruk yang kutahu,” omel Praxel lagi ketika tiba di samping Raiden. “Badai macam apa itu?”


“Mungkin bukan badai sama sekali.”


Praxel menyipitkan mata, mengamati bagaimana kilat masih sambar menyambar di bawah naungan langit kelabut. Ada secercah cahaya biru di bagian bawah, di antara celah-celah gunung. “Ini seperti mimpiku semalam,” gumamnya.


“Mimpi?” Sepertinya bukan hanya Raiden yang mendapat mimpi.


“Mimpi buruk.” Praxel bergidik. “Aku bermimpi seperti ucapan Kisarumi kemarin.”


“Monster?”


“Jauh lebih buruk. Kegelapan.” Praxel menelan ludah, menenangkan hatinya. “Aku melihat kita mendaki ke puncak menuju kegelapan.”


“Lalu? Apa kamu lihat kelanjutannya?”


“Tidak.” Praxel menggeleng. “Tapi, aku yakin kita akan segera tahu.” Dia melihat Vesa terbang mendekat dengan sepucuk surat di kakinya.