
Keinginan Exodiart lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Banyak guild tersebar di seluruh daerah, baik di ibu kota Korumbie hingga pelosok. Tiga guild teratas memang berada di ibu kota kerajaan tempat Lunacrest juga berada. Mereka adalah Maelstrom, Cimarec, dan Black Warrior. Ketiganya tidak perlu memasang pengumuman rekrutmen. Banyak orang mengantre untuk bergabung.
Pada dasarnya, ada batas anggota aktif dalam satu guild. Untuk kelas A seperti Maelstrom, mereka diizinkan memiliki 40 anggota aktif. Sementara guild kelas B hanya boleh memiliki 25 anggota aktif sementara guild kelas C seperti Lunacrest hanya 10 saja. Anggota aktif yang dimaksud adalah anggota-anggota yang akan turun ke lapangan untuk mengerjakan misi. Selain anggota aktif, guild juga diizinkan merekrut orang lain di belakang layar. Orang-orang ini bertugas mengurus administrasi dan sebagainya.
Kebanyakan guild besar terus merekrut orang sekalipun sudah memiliki anggota cukup. Orang-orang baru ini memang ditempatkan di bagian administrasi. Tidak sedikit dari orang-orang itu yang berharap akan diangkat menjadi anggota aktif ketika ada yang keluar atau pensiun. Di Lunacrest sendiri, ada Amari, gadis berkacamata bulat dengan rambut kepang panjang yang bertugas mengelola markas.
Markas Lunacrest terletak cukup dekat taman ibu kota. Meski begitu, karena letaknya di balik deretan bangunan tinggi, keributan taman tidak mampu mencapainya. Markas ini hanya terdiri dari dua lantai. Sama seperti bangunan sekitar, dinding bagian luarnya menonjolkan susunan bata yang dicat kelabu. Jendela-jendela besarnya senantiasa tertutup rapat. Namun, orang bisa melihat ke dalam karena tirainya dibuka sesuai jam operasional.
Guild Master Declan membebaskan jam kerja setiap guild. Karena memang ada beberapa misi yang hanya bisa dilakukan di malam hari. Declan tidak begitu suka mengikat guild dengan peraturan rumit. Kerajaan yang membuatkan detail setiap peraturannya.
Begitu masuk ke dalam markas, sebuah ruang tamu luas akan menyambut. Ada pula tangga pada bagian kiri ruangan. Di seberang tangga, Reiyuel sedang duduk di sofa kayu sambil membersihkan senjatanya. Amari duduk dekat dinding belakang, berseberangan dengan pintu masuk. Di sana meja kerjanya berada lengkap dengan rak buku dan lemari arsip. Sama seperti Exodiart dan Praxel, Amari juga sedang membahas mengenai ajang persaingan antar guild.
“Aku butuh tanda tanganmu di formulir pendaftaran.” Amari melempar tatapannya pada Reiyuel.
Keduanya tampak begitu kontras. Amari bagaikan matahari. Rambutnya keemasan, pakaiannya putih bersih. Sementara itu, Reiyuel berkulit pucat dengan rambut hitam legam. Dia juga mengenakan kaus hitam ketat menunjukkan otot-otot yang dia latih sejak kecil. Sebagai seorang Ripper, kelas lanjutan Assassin, mereka harus mampu melakukan gerakan cepat dan berbahaya. Setiap detik dihitung.
Reiyuel tak menoleh juga tak bersuara. Mata tajamnya menyapu deretan pisau beraneka ukuran di atas meja. Semua merupakan senjata-senjata favoritnya. Mereka tersimpan rapi dalam pakaian ketika dia berburu. Hanya ketika sedang membersihkan saja, senjata itu akan dikeluarkan seperti ini. Itu pud tidak semua. Reiyuel masih menyimpan beberapa bilah pisau pada pelindung tangan dan kaki.
Amari menarik secarik kertas dari tumpukan di atas meja. Sambil membawa kertas tersebut, dia melangkah menuju Reiyuel.
“Guild showdown?” Reiyuel akhirnya merespon.
“Benar sekali. Pendaftarannya baru dibuka kemarin.” Amari duduk di sisi lain sofa. Dia meletakkan kertas berikut pena dekat deretan senjata.
Bola mata biru Reiyuel membaca baik-baik tulisan pada kertas tersebut. “Kelsey tidak ada.”
“Kupikir, Exodiart memang tidak berniat mendaftarkan Kelsey. Aku hanya disuruh minta tanda tanganmu. Aku yakin Exodiart sendiri sudah bilang padamu.”
Reiyuel tak menjawab lagi, hanya mengangguk.
Saat itu, pintu depan terdorong. Raiden masuk sambil membopong palu besar. Palu itu diletakkannya dekat pintu sebelum bergabung dengan Reiyuel.
“Mereka menemui Bill. Aku kembali duluan.”
“Kamu terluka?” Amari tak perlu menunggu penjelasan. Setengah berlari, gadis itu pergi ke bagian belakang markas. Tak perlu waktu lama sampai dia membawa kotak kayu berisi obat-obat. “Biar kulihat lukamu.”
Markas Lunacrest tidak begitu besar. Di lantai satu, selain ruang tamu, ada pula area dapur di bagian belakang. Di lantai dua, ada area berkumpul lain, tempat mereka biasa mengadakan pertemuan juga dua kamar kosong yang bisa digunakan untuk istirahat. Tidak ada balai pengobatan khusus seperti di markas Maelstorm.
Raiden kadang enggan harus membuka pakaiannya di sana. Namun, karena hanya ada Amari dan Reiyuel, dia pun mengurungkan niat protesnya. Raiden duduk di bagian sofa lain. Setelah melepas pelindungnya, Raiden menarik kaus merahnya pada bagian yang terasa nyeri. Benar saja, ada luka lebam disertai beberapa lecet panjang di sana.
Amari mendesah selagi membuka kotak obat. Ini bukan pertama kalinya dia melihat anggota Lunacrest terluka. Dia juga yakin ini bukan terakhir kalinya. Nampaknya, di Endialte, anggota guild terluka setiap hari sudah jadi hal wajar. Maka dari itu, wajar pula bila bagian administrasi setidaknya memahami langkah-langkah pertolongan pertama. Amari membuka stoples kecil berisi gel bening.
“Ini akan mengurangi rasa sakitnya,” kata Amari. Jemarinya membubuhkan obat menggunakan media kapas bulat. “Apa ada lagi yang lain?” Pertanyaan datang lagi padahal dia belum selesai mengolesi semua permukaan luka.
Bagian ini bukan satu-satunya yang terasa nyeri. Namun, karena bagian lain tidak terasa sesakit itu, Raiden memilih diam. Dia masih ingin menyelesaikan misi solo yang dia ambil beberapa waktu lalu. Misi sejenis ini memang bisa dilakukan bersama orang lain. Meski begitu, imbalan hanya akan diberikan kepada orang yang mengambil misi.
Kebanyakan misi memiliki syarat-syarat tertentu. Misalnya, pada sebuah misi penyelamatan, petualang diwajibkan berkelompok dua orang dan salah satunya merupakan kelas Cleric. Misi yang diambil Raiden merupakan misi khusus kelas Vanguard. Dia harus menghancurkan karang besar dekat pesisir kota Korumbie. Batas waktunya adalah dua puluh empat jam. Artinya, kalau dia tidak melapor setelah dua puluh empat jam, misi akan dibuka kembali dan petualan lain bisa mengambilnya.
Misi itu sangat mudah. Imbalannya pun tergolong banyak. Pemberi misi adalah seorang pelaut kaya yang akan datang dalam waktu dekat. Dia ingin mencapai pesisir dengan aman. Karang bukan hanya membahayakan kedatangan kapal besarnya, lebih dari itu. Karang memungkinkan monster bersembunyi di sana. Tidak ada yang suka dengan serangan kejutan.
“Hei,” Amari mendekatkan wajahnya. “Apa ada lagi bagian yang sakit?”
Raiden baru sadar kalau dia belum menjawab pertanyaan Amari. Mendapati kalau Amari telah selesai memberikan obat pada lukanya, Raiden tersenyum tipis. “Nggak. Cuma ini. Terima kasih.”
Amari mulai membereskan kotak obatnya lagi.
Raiden melempar pandangannya ke arah palu di dekat pintu.
Reiyuel rupanya juga memperhatikan hal sama. “Retak halus.”
“Aku tahu. Aku akan butuh senjata baru.”