Lunacrest

Lunacrest
Chapter 66



Raiden tahu Elloys pasti kesulitan menangkap ceritanya yang hanya sepotong-sepotong. Meski begitu, tatapan Elloys terasa hangat padanya. Dia merasa kecemasan dan segala rasa kaku yang sempat muncul perlahan lenyap.


“Saat itu, kami hanya berpikir untuk main-main. Unjuk gigi. Bersenang-senang. Tak ada pemikiran apa pun. Waktu kami membawanya ke desa, para penduduk malah memuji kami. Kecuali ibuku. Dia marah besar.” Raiden menghela napas pendek, membasahi bibirnya yang kering.


“Kamu bilang para goblin itu jebakan.”


“Memang. Tiba-tiba saja tali pengikat goblin itu putus. Aku ingat dia membawa pisau tersembunyi di kakinya. Juga sejenis terompet. Aku ingat suaranya yang memilukan. Lalu… aku lihat kumpulan orc berlari masuk. Mereka… menghancurkan segalanya.” Raiden berhenti di sana. Tangannya yang terkepal kini gemetar.


“Bagaimana orang tuamu?”


“Semua orang melarikan diri. Termasuk orang tuaku. Aku berlari di belakang mereka. Tapi… Tapi, aku tertangkap. Aku berteriak minta tolong. Mereka sudah terlalu jauh. Orang-orang yang ada di sekitarku tidak berani menolong.”


Raiden menghela napas panjang lagi.


Elloys menantinya tanpa bertanya apapun.


“Para orc membunuh orang-orang desa. Aku melihat darah dan api di mana-mana. Tapi, mereka menyisakan kami, anak-anak kecil. Mereka membawa kami ke perkemahannya dalam kondisi terikat seperti kami mengikat si goblin. Aku melihat batu-batu disusun keliling, tumpukan kayu, dan api.” Raiden melemparkan pandangannya ke kuali sup di tengah kedai tersebut. “Aku tahu mereka akan memasak kami.”


Elloys mengikuti Raiden melirik ke arah kuali. “Kupikir, ini tempat yang buruk untuk mengenang kembali kejadian itu.”


“Tempat ini meningatkanku lebih baik akan apa yang terjadi.”


“Justru itu…” bisik Elloys.


“Termasuk saat kita melawan goblin dan orc.”


Elloys kini ingat ketika Raiden membatu saat mereka melawan goblin yang bersama para orc. Saat itu Raiden tiba-tiba saja berhenti bergerak. Wajah pucat dan tatapan mata penuh rasa takut. “Apa itu alasan kenapa kamu mendadak membeku?”


Raiden menunduk. “Maaf,” ujarnya nyaris tanpa suara.


Elloys mengulurkan tangan, menggenggam tangan Raiden yang masih bergetar. Dia menutupi tangan Raiden dalam genggamannya. “Hei, itu masa lalu. Saat ini, kamu berbeda. Jauh berbeda.”


“Aku tahu, aku tahu.” Raiden melanjutkan dengan suara gemetar. “Satu per satu temanku tewas di tangan orc. Aku enggak ingat berapa jam yang berlalu atau berapa hari. Akhirnya para prajurit kerajaan datang menyelamatkan. Praxel juga ada. Dia membawaku pulang. Lalu, aku ikut dengannya ke ibu kota.”


Elloys mengenali beberapa kesamaan ceritanya dengan Raiden. “Kamu merasa takut dan tidak berdaya. Kamu juga merasa bersalah karena membuat desamu hancur.”


Raiden mengangguk. “Aku sangat takut saat Praxel pergi. Dia tidak berpamitan atau bicara apapun. Dia mendadak hilang. Aku merasa tanpa arah. Saat para goblin menyerang, aku mendengarkan apa kata teman-temanku. Kupikir tidak ada salahnya membawa mosnter tangkapan ke desa. Kami akan dianggap pahlawan. Ternyata tidak. Semua mendadak jadi buruk. Padahal Praxel sudah berulang kali cerita para monster itu bahaya. Aku melupakan semuanya. Aku membiarkan desaku hancur dan teman-temanku terbunuh.”


“Itu bukan salahmu.”


“Aku tahu.” Raiden menjawab lagi, kali ini suaranya mulai kembali seperti biasa. “Aku hanya ingin menyalahkan orang lain.”


“Kamu menyalahkan Praxel?”


“Menyalahkan Praxel, para penduduk desa, orang tua yang meninggalkanku, teman-temanku. Aku menyalahkan semua orang sampai Praxel mengajakku ke Korumbie. Kupikir, saat itu aku mulai pulih.”


“Karena kamu dapat panduan?”


“Ya. Aku banyak mendapat arahan di sini. Bagaimana harus bertarung, bagaimana harus bertahan, bagaimana harus hidup. Aku belajar untuk berdiri di atas kakiku sendiri. Aku… sangat puas saat berhasil menyelesaikan ujian barusan.”


“Karena arahanku?” Elloys melempar senyum simpul.


Raiden menggeleng. “Te— Tentu saja enggak!” Kemudian, dia sadar kalau tangannya tak lagi bergetar melainkan hangat di dalam genggaman Elloys. Dia pun buru-buru menariknya. “A— Aku memutuskannya sendiri.”


Elloys pun cekikikan dibuatnya. “Iya, iya. Aku juga bangga padamu.”


Raiden merasakan pipinya memanas. Mendengar Elloys bangga padanya entah kenapa membuatnya senang. Raiden pun mengalihkan pembicaraan. “Oke, sekarang giliranmu.”


“Giliranku apa?”


“Cerita.”


“Kamu tahu apa maksudku.” Raiden menyipitkan mata.


Si Pyromancer pun tertawa. “Hahaha… Iya, iya. Kupikir kamu sudah lupa, lho. Kamu ingin aku cerita soal Black Knight?” Elloys mengucapkan dua kata terakhirnya tanpa suara.


“Apa kamu bagian dari mereka?”


Elloys menggeleng. “Hampir.”


“Kupikir mereka cuma menerima anggota kelas Assassin.”


“Memang. Tapi, mereka terbuka dengan kelas apapun dari pasangan anggota.”


“Pasangan?”


“Aku pernah cerita dekat dengan seorang cowok, ‘kan? Dia anggota mereka. Anggota yang cukup disegani dan dikagumi. Saat dia bilang kalau mau lebih serius denganku, dia memberiku sebuah syarat.”


“Kamu harus bergabung dengan mereka?”


“Benar. Bahkan, lebih buruk. Untuk jadi pasangan salah satu anggota mereka, aku juga harus menunjukkan kesetiaan dengan menghabisi satu target.”


Raiden merasakan napasnya tertahan, “Membunuh orang sungguhan?”


Elloys mengangguk diiringi desah pelan. “Aku jelas-jelas langsung menolaknya. Itu bukan aku. Aku berlatih sihir untuk melawan monster bukan mengambil nyawa manusia.”


“Setelah itu, kalian putus.”


“Ya… Kurang lebih seperti itu.” Elloys mendesah. “Sepertinya tragis, ya?”


“Kamu menyesali keputusanmu?”


“Kamu bercanda!?” sahut Elloys sambil tertawa. Dia melihat bara api di bawah kuali. Mereka membuat pantulan yang cukup jelas di bola mata Elloys. “Aku sangat bangga dengan diriku yang bisa membuat keputusan seperti itu. Tidak pernah sekalipun aku menyesali keputusan untuk berpisah dengannya.”


Raiden merasakan tatapannya terpaku pada wajah Elloys. Bagaimana dia bisa tersenyum pada kenangan semacam itu.


“Apa menurutmu aku menakutkan?” Elloys selanjutnya berpaling pada Raiden.


“Lumayan.”


Keduanya pun tertawa.


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Elloys hendak membayar namun Raiden justru membayar untuk mereka berdua.


“Oke, aku akan bayar makan malam kita selanjutnya,” Elloys menepuk bahu Raiden lalu mengamati suasana kedai lagi sebelum mereka pulang.


Raiden bersyukur dia tengah membelakangi Elloys. Dia tak bisa menahan senyumnya. Malam itu terasa cukup manis buatnya. Raiden bohong kalau bilang tak menantikan makan malam bersama Elloys lagi. Raiden hendak bertanya kalau Elloys perlu ditemani, tapi justru Elloys bicara lebih dulu.


“Jadi, selamat malam. Semoga bisa tidur nyenyak di markas.” Elloys tertawa kecil, melambai singkat, lalu berjalan menjauh dalam rintik hujan yang masih setia menemani malam mereka.


“Ya, selamat malam. Semoga kamu juga…” Raiden berhenti, mengganti kalimatnya. “Sampai ketemu besok!”


Elloys menoleh lagi, memberikan senyum terakhirnya. “Sampai besok, Raiden!”