
Exodiart akhirnya memutuskan kalau akan pergi bersama Praxel, Kelsey, dan Mimi. Mereka sudah biasa bekerja bersama. Tidak jarang mereka seolah bisa membaca pikiran satu sama lain. Cukup kontak mata, tidak usah bicara.
Pegunungan Pothine sebenarnya cukup jauh dari ibu kota Korumbie. Butuh berhari-hari hingga tiba di sana. Untungnya, untuk ini, kerajaan akan mengirim mereka melalui balon udara milik kerajaan. Kerajaan membawa kedua belas guild dalam dua balon udara berbeda. Balon udara itu membawa sebuah wadah berbentuk seperti kapal laut pada umumnya. Kerajaan punya berbagai ukuran balon udara. Mereka akan diantar menggunakan balon udara terkecil yang ada.
Exodiart bersyukur karena ketika mereka naik, mereka segera digiring menuju ke ruangan masing-masing untuk bersiap. Dengan begitu, mereka tidak perlu bercengkrama dengan guild lain. Dia yakin ini juga salah satu siasat dari jendral Fawke dan Guild Master Declan.
Mereka tak banyak bicara sepanjang perjalanan. Kelsey dan Praxel suka melihat-lihat dari jendela ruangan mereka. Mierai melakukan pemanasan untuk kaki dan lengannya. Badannya lentur bak akrobatik. Exodiart duduk melihat gulungan peta untuk kesekian kalinya.
Misi kali ini bisa berjalan salah karena berbagai hal. Bagaimana tidak, mereka bisa dianggap berhadapan langsung dengan para prajurit. Padahal, seharusnya mereka rekan, bukan musuh. Ini saja sudah jadi cukup alasan bagi mereka untuk cemas. Jangan salah, Exodiart juga cemas. Namun, dia lebih cemas dengan apa yang akan mereka temui nanti. Entah mengapa, dia cukup yakin tidak akan bertemu prajurit biasa.
Kegelapan yang disebut Kisarumi membuatnya berpikiran aneh-aneh. Belum lagi soal siapa yang harus dipercaya. Sekalipun tidak mengatakannya, Exodiart sudah punya jawaban akan pertanyaan tersebut. Dia memilih percaya pada dirinya sendiri.
Karena dia percaya pada dirinya sendiri, dia juga percaya pada penilaiannya. Dia percaya kalau Praxel tidak merebut Kelsey dan tidak akan mengkhianatinya. Dia juga percaya kalau mereka akan pulang dengan selamat melalui misi ini. Dia juga percaya Lunacrest akan baik-baik saja sekalipun dia pergi.
PLOK!
Exodiart tersentak saat ada sebuah tepukan tangan tepat di depannya. Mierai menatapnya dengan mata bulat besar. Setelah melihat reaksinya, Mierai malah tertawa terbahak-bahak.
“Apa?”
“Hahaha…” Mierai masih melanjutkan tertawa sambil mengusap air yang menuruni pipinya. “Maaf, maaf. Aku hanya tidak mau kamu melewatkan pemandangan spektakuler ini, kapten!” Mierai mengedipkan sebelah mata.
Di belakang Mierai, terbentang jendela besar yang menunjukkan pemandangan luar. Mierai tidak mengada-ada soal pemandangan spektakuler. Exodiart bisa melihat bagaimana langit kelabu membentang di atas pepohonan tinggi serta jurang. Memukau dan menakutkan di saat bersamaan.
“Kita sampai…” Exodiart tak percaya ucapan itu keluar begitu pelan dari bibirnya.
“Kamu takut.”
“Aku hanya sedikit gelisah.”
“Kamu salah satu Crusader terbaik di ibu kota dan kamu gelisah saat akan berhadapan dengan prajurit?” Mierai bertanya. Dia sudah mendengar detail misi sebelum mereka pergi. Gadis itu kemudian tersenyum, “Kupikir itu yang membuatmu tetap hidup sampai saat ini.”
“Haha… Apa itu sebuah pujian?”
“Tentu saja!”
Mereka mendarat di atas tanah lapang berbatu di ujung tebing. Udaranya terasa menusuk, tidak bersahabat sama sekali. Belum lagi adanya kilat serta petir sambar menyambar diawali rangkaian gemuruh. Keempatnya mengenakan pelindung bahu yang diberikan Exodiart. Kerahnya tinggi, bahannya juga tebal. Cukup ampuh untuk menahan dingin. Mierai sadar kalau ini mungkin akan menyusahkan gerakannya. Dan, dia sudah siap melepaskan miliknya bila diperlukan nanti.
Guild lain sudah keluar lebih dulu. Lunacrest sengaja diberikan kesempatan terakhir.
“Tempatnya dekat, bukan?” bisik Kelsey.
“Semoga.” Exodiart sendiri tidak yakin di mana tempatnya.
Tak seorang pun dari mereka pernah ke sana. Pegunungan Pothine tidak menawarkan lokasi yang indah untuk berlibur. Tidak juga memiliki hewan atau tanaman langka untuk dicari. Sebagian besar areanya merupakan tanah gersang berbatu. Hanya sebagian saja yang ditumbuhi pepohonan. Selain pohon, ada pula semak berduri yang tumbuh liar.
“Kenapa mereka membuat menara penjaga di sini?” Mierai mengamati bagaimana perjalanan mereka didominasi hal-hal kelabu membosankan.
“Mereka harus menjaga setiap sudut Endialte.” Praxel memberi jawab.
“Bukan. Maksudku, mereka seharusnya bisa membuat menara di tempat yang lebih nyaman.” Mierai melompat tinggi, memijak batang pohon seolah mereka tanah landai, lalu berdiri di atas salah satu dahan gemuk. “Kalau boleh jujur, aku tidak melihat apa pun dari tempat yang kita tuju.”
Exodiart berhenti sejenak, mengistirahatkan kakinya sebentar. “Jangan cemas. Kita berjalan ke arah yang benar. Ayo!”
Mierai pun turun, berlari kembali bersama para rekan-rekannya. Dalam hatinya, dia mulai merasakan ketenangan. Seperti ucapannya tadi, dia tidak melihat asap atau kilat dari tempat yang akan mereka tuju. Mungkin sebuah pertanda baik. Mereka semakin menjauh dari pusat kilat dan petir.
Exodiart tidak merasakan hal yang sama, begitu pula Praxel. Mereka berdua bisa merasakan kecemasan yang sama. Tidak ada tanda-tanda di tempat tujuan bukan berarti berita baik. Bisa jadi itu hal buruk. Praxel kini berlari di samping ketuanya. Mereka sempat bertukar pandang.
“Apa yang akan kita katakan pada para prajurit?” Praxel bertanya di tengah napasnya yang terengah-engah. Perjalanan mereka bukan hanya menanjak, tapi juga dipenuhi tanah keras serta batu kerikil yang cenderung mengundang tersandung.
“Kita tersesat,” jawab Exodiart.
“Mereka tidak akan percaya.”
“Aku terbuka pada saranmu.”
“Bagaimana kalau kita mengamati dulu dari jauh?”
“Ya, itu juga termasuk rencanaku. Kita tidak mungkin langsung nongol di depan mereka. Ingat kata Master Declan. Kita tidak tahu siapa rekan, siapa musuh.”
Exodiart mendapati tanjakan tinggi kembali menghadang di depan. Dia pun menggunakan tangan dan kakinya demi memanjat tanjakan tersebut. Praxel mengikuti di belakangnya. Barulah setelah mereka berada di puncak, kedua laki-laki ini membantu rekan perempuan mereka.
Dari tempat itu, Exodiart bisa melihat bendera Endialte berkibar mengatasi puncak-puncak pepohonan. Biasanya bendera ini berkibar dari atas menara batu penjaga. Mereka sudah sangat dekat.
“Ini… sedikit berbeda dari bayangku,” kata Exodiart, mengatur napasnya.
“Apa yang kamu harapkan?”
Exodiart berbisik pada wakilnya. “Boleh jujur? Aku bahkan tidak mengira kita akan menemukan menaranya masih berdiri utuh.”
Praxel sedikit menyesal ketika bertanya. Bukan karena Exodiart memberi kesan menakut-nakuti, melainkan karena dia juga sempat berpikir hal yang sama beberapa saat lalu. Apa pun yang menanti di sana mungkin benar-benar di luar dugaan.