
Juan menghampiri dan memeluk dari belakang.
Aiden terkejut dan di tatap nya dengan pandangan dingin hingga menusuk jantung Juan. Juan terpaku dan melepas pelukannya secara refleks.
"Siapa Anda? Dan kenapa Anda memeluk saya dengan tiba tiba? " ucap Aiden datar dan dingin.
"A... Aiden. Ini Aku Juan. " ucap Juan gugup.
"Juan, Juan." ucap Aiden berkali kali.
Aiden mencoba mengingat nama itu dan mengendalikan auranya yang sempat terlepas.
Aiden menatap lekat wajah Juan, sedikit demi sedikit raut wajah Aiden yang semula dingin menjadi hangat kembali.
"Juan, kenapa anda masih ada disini.? " ucap Aiden setelah tersadar.
Kembali Juan menghampiri dan memeluk erat tubuh Aiden kemudian menangis.
"Aiden kau membuat Juan takut. Juan kira kau akan benar benar melupakan Juan. Hiks hiks hiks. " tangis Juan.
Aiden memeluk tubuh Juan.
"Juan cepat pergi dari sini. Saya tidak mampu lagi menekan aura dan kekuatan ini." ucap Aiden .
"Kembalilah saat matahari terbit semua akan baik baik saja. " lanjut Aiden menenangkan.
"Berjanjilah semua akan baik baik saja. " sahut Juan tersenyum.
Aiden mengangguk pelan dan tersenyum. Juan membalas dengan senyuman manis. Di kecup lembut nya bibir Juan, dan di ***** pelan. Seakan-akan enggan untuk melepaskan nya. Hanya saja mau tak mau Aiden harus melepaskannya juga, Juan pun merasa berat meninggalkan Aiden.
"Juan ayo cepat. Kekuatan ku akan meledak itu tak baik nanti nya. " ucap Lucifer, menatap Aiden dengan tatapan penuh arti melalui mata Juan.
Aiden menatap tajam kearah Juan.
"Pergilah Juan. " pintah Aiden.
Juan pun melangkah pergi menjauhi Aiden, dan keluar dari villa Aiden. Aiden menatap dengan tatap dingin kembali.
"Iblis.... " desisnya lirih.
Juan pun pergi dari villa Aiden, setelah dirasa cukup aman. Segera Juan memutar dan menyelinap masuk ke villa Aiden melalui pintu belakang. Dan bersembunyi di tempat yang terdalam dan jarang di datangi oleh Aiden. Itu menurut Juan.
Bulan merah mulai menampakan diri. Bersinar dengan angkuh di atas langit. Memancarkan cahaya merah, membuat siapa pun yang melihatnya bergidik ngeri.
Tak hanya itu burung yang tadinya riuh menjadi terdiam dan bersembunyi. Menyisahkan burung gagak yang berkicau saling sahut sahutan membuat suasana semakin mencekam.
Queen melolong dengan suara khasnya menambah keangkuhan rembulan merah.
(POV Charles)
Charles yang saat itu berada di kastil menatap tak suka dengan suasana yang ada. Disaat Juan membangkitkan kekuatannya, Charles merasa tak segelisah saat ini. Ada perasaan yang tak enak menyelinap di hatinya. Charles merasa akan terjadi hal besar di bulan merah kali ini. Kenzo yang merasakan kegelisahan ini segera menghampiri Charles.
"Ada yang sedang kamu fikirkan Charles? " tanya Kenzo.
Seketika Charles tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Iya." jawab Charles datar.
"Apa karena bulan merah itu? " tanya Kenzo kembali.
"Anda benar. Akan terjadi bencana besar. Tapi apa itu saya tidak tahu. " ucap Charles datar.
"Semoga bukan hal yang buruk. " hibur Kenzo.
"Semoga." sahut Charles.
"Sudah malam. Anda pergilah tidur. Saya rasa anak anak yang lain sudah terlelap juga. " pintah Charles.
"Iya, mereka pergi tidur sejak sore tadi. Semoga tak ada yang terbangun. " Kenzo menatap Charles dengan rasa khawatir.
"Saya baik baik saja. Anda segera lah istirahat. " kembali Charles menyakinkan Kenzo.
Kenzo pun segera beranjak ke peraduannya dan berbaring. Karena dia pun merasa mengantuk.