
Hingga suatu malam saat Juan sendiri di dalam kamar sengaja Dia melepaskan kalung yg menahan Lucifer.
Perlahan namun pasti salah satu mata Juan berubah menjadi merah.
"Cifer, apa yang kamu lakukan di dalam perut ku? " tanya Juan datar.
"Memakan energi bayi itu. " jawab Lucifer pendek.
"Cifer, hentikan itu. Biarkan bayi itu ada? " ucap Juan.
"Apa kamu fikir Dia akan menghendaki bayi ini. Jawabnya adalah tidak, dari pada kau terluka lebih baik bayi ini musnah. " ucap Lucifer yang kemudian memejamkan mata dan menghilang.
Kembali Juan memakai kalung itu dan kembali ke ranjang menghampiri kekasihnya. Di tatap nya Louis lekat lekat.
"Kenapa semua tak menginginkan bayi ini. " keluh Juan sambil mengelus perutnya pelan. Dan menangis dalam diam.
Keesokan harinya sesuai dugaan Lucifer. Charles tiba di rumah. Awalnya semua baik baik saja, hingga Louis datang ke ruang kerja Charles dan entah apa yang di bicarakan. Hingga seorang pelayan datang memanggil Juan yang sedang berbaring malas di dalam kamarnya.
"Tuan Juan. Tuan besar memanggil Anda dan meminta Anda untuk datang ke ruang kerjanya. " ucap seorang pelayan yang baru datang kekamar nya.
"Oh iya. Juan segera datang ke sana. " sahut Juan dan segera beranjak dari ranjang.
Juan terlihat bingung.
"Apa Louis sudah bicara sama Papa ya. " gumannya lirih.
Sesampainya di depan pintu segera Juan mengetuk pintu.
"Masuk." sahut Charles datar.
Juan segera masuk ke dalam, ternyata di dalam sudah ada Louis yang sedang berlutut dan Kenzo yang duduk di bangku dengan wajah merasa bersalah.
"Pa, ini bukan salah Juan. " ucap Louis lirih saat tahu akan kehadiran Juan.
"Berlutut, " perintah Charles sambil menatap Juan.
"Charles, biarkan Juan duduk di kursi. " ujar Kenzo.
Charles menatap ke arah Kenzo.
"Baiklah, Anda duduk dikursi. " perintah Charles.
Juan hanya menuruti perintah Charles dan menunduk.
"Tidak ada kah yang ingin Anda jelaskan kepada saya." pintah Charles menatap Juan.
"Juan hamil Pa. " ucap Juan tanpa mampu menatap mata Charles.
"Gugurkan." perintah Charles.
"Tidak ada kata tapi. Jika saya perintahkan untuk menggugurkannya, maka gugurkan. " bentak Charles.
"Bayi ini tidak bersalah. Keberadaannya juga bukan karena paksaan. Nenek menginginkannya. " bantah Juan.
Hingga membuat Kenzo dan Louis tak percaya saat mendengar ucapan Juan.
"Apa saya perduli dengan keinginan Nenek tua itu. Saya tetap tidak menginginkan kehadiran bayi itu, karena ini bukan saatnya Anda memiliki seorang bayi. " ucap Charles.
"Tapi bayi ini sudah hadir Pa. Mana mungkin Juan sanggup melenyapkannya. " bantah Juan.
"Louis. Anda masih ingat bukan apa yang terjadi dengan istri Anda dulu. " ucap Charles.
"Saya tidak ingin hal itu terulang kembali. " lanjut Charles.
Louis hanya mampu terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi.
"Juan. Saya sudah memperingatkan Anda. Lebih baik Anda mengikuti apa yang saya katakan. " ucap Charles sambil berlalu dari hadapan mereka.
Kenzo pun mengikuti langkah Charles dan keluar bersama.
Sepeninggal Charles dan Kenzo, Juan hanya mampu menangis pelan. Louis berdiri dan menghampirinya.
"Juan, Anda semakin lemah sejak kehadiran anak ini. " ucap Louis sambil memeluk Juan.
"Tapi Dia tak bersalah. Apa salahnya Juan ingin mempertahankan Bayi ini. " jelas Juan lirih.
"Anda tak salah. Baiklah kita pertahankan bayi ini, tapi ingat jika terjadi apa apa dengan Anda pada saat itu juga akan saya akhir bayi ini. " ucap Louis tegas.
Juan hanya mampu mengangguk lemah. Louis membantu Juan beranjak dari kursi dan keluar dari ruang kerja Charles.
Semakin lama perubahan dalam diri Juan tampak terlihat jelas, Bara dan yang lainnya mulai curiga akan keadaan Juan. Disembunyikan seperti apapun semua bakal terbuka. Seperti hal nya sore itu, disaat semua sedang asyik bercengkrama, bergurau santai di tepi kolam renang. Begitu juga dengan Juan, tiba tiba Juan merasa mual dan membuat dia harus segera berlari masuk ke wastafel. Tanpa sengaja Juan hampir menabrak Kenzo yang muncul dengan tiba tiba juga.
"Juan, hati hati jangan berlari seperti itu. Kalau jatuh bagaimana dengan bayimu. " pekik Kenzo tak sadar.
Juan terkejut bukan main dan segera berlalu dari Kenzo, tak jauh dari sana Bara berdiri dan terdiam bak patung. Bara terkejut bukan main mendengar ucapan Kenzo. Tak beda jauh dengan Bara, Kenzo pun terkejut melihat Bara berdiri tak jauh dari mereka. Rasa bersalah muncul dan menghampiri Juan yang sedang memuntahkan apa yang di makannya tadi.
"Ayah terlalu keras bicara tadi, bagaimana kalau ada yang dengar? " keluh Juan saat tahu Kenzo menghampiri nya.
"Sudah terlambat, Bara mendengar perkataan saya tadi. Maaf. " ucap Kenzo merasa bersalah.
"Haaa.... Sudahlah semua sudah terlanjur. Toh suatu hari nanti mereka semua juga akan tahu. Ayah jangan merasa bersalah seperti itu, ini juga salah Juan kok. " jelas Juan sambil tersenyum tipis.
"Bagaimana kondisi kamu, masih mual?. " tanya Kenzo sedikit khawatir.
"Sudah baikan. " jawab Juan lirih.