Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Balas dendam King



Waktu berjalan dengan cepat, siang pun berganti malam. Setelah semua penghuni kastil tertidur lelap, juan segera bersiap siap untuk berburu.


"Juan hari ini kita harus berburu lebih banyak dari biasanya. Aku sangat kelaparan, aku yakin kau pun kehausan. Aku merasakan yang kau merasakan, kau berkali kali menelan ludahmu sendiri. " ucap Lucifer disaat berlari dan melompat dari pohon satu ke pohon yang lain dengan begitu lincah nya.


"Ya kau benar, Juan sangat kehausan rasanya ini sungguh menyiksa. " sahut Juan sembari berkonsentrasi dan menembus kegelapan malam.


Sesampainya di tempat biasa mereka berkumpul mereka bertiga sudah menunggu. Mereka semua menunggu sambil merebahkan badannya.


Disaat Juan semakin dekat, seketika itu Leopard, King dan Queen bangkit dan dengan serentak menggeram keras. Juan terkejut dengan sikap ketiganya.


"Ada apa dengan kalian? " bentak Juan saat ketiganya enggan untuk mendekat.


King menggonggong cukup keras.


"Juan berbeda, bau Juan berbeda?? Apa maksud kalian dengan bau Juan berbeda. " ucap Juan tak mengerti.


Leopard menggeram keras, dengan nada tak suka.


"Bau yang aneh... !!! " Juan semakin bingung.


Kembali King menggonggong.


"Bau yang asing. Bau yang...... " seketika itu Juan teringat kembali dengan apa yang terjadi di kasti Aiden.


"Brengsek, bajingan itu. Ini pasti karena bajingan. Dia yang buat aku seperti ini. " maki Juan sembari sengusap rambutnya kasar.


"Juan sudah lah kita kesampingkan itu dulu. Kita berburu dulu. " ucap Lucifer.


"Kau hanya tau lapar lapar dan lapar Cifer. Liat reaksi mereka, gara gara Aiden. Si bajingan Aiden itu. Membuat aku kehilangan sisi manusia ku. Gara gara segel sialan ini. " ucap Juan dengan marah.


"Iya, saya tahu Anda marah karena perbuatan Aiden kemarin. Tapi tenang kan lah dirimu dulu Juan." ucap Lucifer.


Melihat kegusaran Juan, ketiganya mendekat pelan dan mulai mengendus Juan kembali, untuk mengenali bau Juan yang lain. Bau sosok iblis yang bercampur dengan bau yang berbeda.


Yah. Juan bukan lagi setengah manusia dan setengah iblis lagi. Melainkan bertambah lagi menjadi dengan aura yang lain. Vampir, dan Juan masih belum menyadarinya. Sisi manusia nya mulai melemah dengan berjalannya waktu. Sisi iblis masih mendominasi, semakin lama Juan semakin kejam dan dingin. Walau Juan masih bisa mengontrol emosinya tapi tatapan Juan tak bisa berbohong.


Setelah semua mulai terbiasa, Leopard, King dan Queen mulai bisa menerima kehadiran bau yang lain dari Juan. Juan pun tidak melihat hal aneh dari ketiganya.


Tapi tidak dengan King. Sejenak King menatap jauh kearah Kastil Charles. Dimana Aiden sedang tertidur pulas. Walau sejenak Aiden dapat merasakan hawa kebencian yang di keluarkan oleh King, Aiden hanya tersenyum tipis dan mengabaikannya.


"Dasar binatang lemah. " ucap Aiden lirih.


Karena baik King maupun Queen yang sebenarnya hanya seekor anjing, maka nafsu makannya pun tak sebesar Leopard. Sehingga Juan meminta King dan juga Queen hanya untuk pergi berpatroli, dan mengawasi daerah sekitar saja.


Sedangkan dirinya dan juga Leopard melakukan pemburuan seperti biasa. Ini menjadikan sebuah kesempatan bagi King.


Benar adanya King hanyalah seekor anjing.


Sehingga ikatan di antara mereka semua sangat kuat dan erat.


Kepergian Juan dan Leopard menjadi kesempatan bagi King untuk membalas dendam kepada Aiden yang telah membuat Juan berubah.


King menggonggong keras ke arah Queen agar dirinya pergi terlebih dahulu. Queen menolak karena Queen merasa ada yang tak beres dengan King.


Kembali King menggonggong kali ini disertai dengan geraman yang cukup keras. Mau tak mau Queen menuruti perkataan King. Queen pergi dengan pelan dan sesekali menoleh kebelakang menatap kearah King, dan kemudian berlari menghilang di kegelapan malam.


Dengan cepat King berlari kearah darimana Juan datang. Setelah sampai di semak semak King menggeram kasar.


Aiden merasa terganggu dengan hawa membunuh yang di pancarkan oleh King dan bangun dari tempat tidur nya.


Segera Aiden memakai jubah tidurnya dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Ditatap nya semak semak di bawah. Tampak terlihat warna mata mengkilap diantara semak semak. Mata King yang menatap tajam kearah Aiden yang berdiri dengan tenang nya diatas balkon. King menggeram dengan penuh emosi.


"Binatang aneh, seaneh pemiliknya. " ucap Aiden sinis.


"Tidak takut mati ditangan saya ini. " ucap Aiden meremehkan.


King masih menatap tajam kearah Aiden sambil menggeram keras.


"Mari kita lihat sekuat apa kamu. " ucap Aiden yang kemudian turun melompat dengan sangat mulus dan tenang.


Sesampainya di bawah. King tak mau membuang kesempatan segera ia melompat kearah Aiden dan menerkam nya. Bukannya tanpa persiapan, Aiden yang tampak tenang dan meremehkan King dengan sekejap memukul keras kepala King. Hingga terlempar dan jatuh dengan keras.


"Kaaaiiingggg.... " teriak King kesakitan.


King bangun dan menggelengkan kepalanya pelan, dan kembali berdiri tegak sembari menggeram keras.


Kembali King mengambil ancang ancang untuk menyerang Aiden.


"Rupanya benar benar ingin mati . " ucap Aiden sembari tersenyum bak iblis.


Kembali King melompat tapi kali ini nasib naas menimpah King, dengan sekali hunusan kuku tangan Aiden yang tajam langsung mengarah ke jantung King, dalam sekejap mata King tewas ditangan Aiden.


Mendengar keributan dan geraman, 2 orang penjaga berlari kearah sumber suara. Dilihatnya, Aiden yang sedang mengcengkram erat leher hewan dengan satu tangan sedangkan tangan satunya menembus tepat ke jantung hewan itu.


"Tuan muda Aiden, itu hewan peliharaan Tuan Juan. " ucap Seorang penjaga.


"Cepat bereskan tanpa bekas. " ucap Aiden sembari melempar tubuh King dan menatap tajam kearah 2 penjaga itu.


Bergegas kedua penjaga itu mengangkat tubuh King dan pergi berlalu. Sepeninggal kedua penjaga itu Aiden segera memanggil dua anak buah bayangan nya, keduanya pun datang menghadap. Dan membungkuk didepannya.


"Segera bereskan kedua penjaga itu tanpa ada bekas sama sekali. " perintah Aiden dengan dingin.


"Siap hamba laksanakan. " jawab keduanya dan kemudian menghilang.