
Dengan pelan tapi pasti Juan menabur bubuk putih itu yang ternyata adalah garam.
"Aaaaaaaaaaaaaaa...." teriak nya makin histeris dan menangis kesakitan.
"Papa, suruh dia bunuh saja aku, tak sanggup rasanya. " ucapnya terisak menahan perih.
"Hahahaha, . " tawa Juan keras.
"Memohon untuk mati mungkin Juan akan mengabulkannya. " ucap Juan.
"Saya mohon akhiri saja hidup kami Juan. Bukankah itu yang kamu inginkan. " ucap Reza gemeter.
"Kamu benar Reza, aku memang menginginkan kematian kalian. Tapi tidak semudah itu akan terkabul. " ucap Juan.
"Hatiku masih sakit. Kekasihku pergi tanpa sepatah katapun, dia diam membisu tidak berbicara atau mengucapkan salam terakhir nya. " ucap Juan lirih.
"Karena kamu. " kembali amarah Juan memuncak.
"Kamu yang hanya demi keserakahan mu, hanya karena sebuah proyek kecil, hanya karena ingin menghancurkan Papa. Begitu teganya kau mengambil nyawa kekasihku. " lanjut Juan.
"Maka dari itu, kamu pun harus merasakan halnya sama. " di dekatnya lagi istri nya.
"Merasakan bagaimana tersiksa nya bathin kamu saat melihat istri tercintamu berteriak kesakitan. " Juan pun menyiram setiap luka yang di derita istri Reza dengan cairan yang ternyata adalah cuka.
Kembali istri Reza berteriak histeris kemudian pingsan karena tak sanggup lagi merasakan sakitnya dan kali ini darahnya kembali menetes dan jatuh diwajah Reza.
"Tidakkkkkkk, cukup Juan. Tolong kasihani istri saya. Bunuh saja kami berdua. " teriak Reza tak sanggup lagi.
"Bunuh ya, emmm boleh kok. Tapi ada syaratnya . " ucap Juan sambil tersenyum iblis.
"Turunkan istri nya. Dan kamu pindah posisi borgolnya di depan. " perintah Juan.
Yang kemudian mengambil sebilah belati lagi.
"Apa pun yang kamu mau. " ucap Reza tak sadar akan ucapannya.
"Mudah sekali, tidak sulit. " ucap Juan tersenyum iblis.
"Kamu baringkan istrinya di pangkuan nya. " perintah Juan.
"Syarat nya adalah jika kamu ingin istri mati maka kamu sendirilah yang harus membunuhnya, atau kamu biarkan istri kamu hidup segan mati pun tak mau. " ucap Juan.
"Kau... Pilihan macam apa ini. " ucapnya tak percaya.
"Itu terserah kamu saja, akan Juan beri waktu. " ucap Juan.
Dilihatnya jam yang melingkar ditangan nya.
"Sekarang jam 16.35, akan aku beri waktu hingga malam hari, pikirkan baik baik. Dan satu lagi Juan gak punya banyak waktu. " ucap Juan tersenyum sinis.
Segera anak buahnya menyiram tubuh perempuan itu hingga sadar.
Bahkan Reza pun basah kuyup di buatnya. Dengan bersiul ringan, Juan mengambil beberapa paku dan kawat berduri.
"Hmmm apa yang kurang ya. " gumannya.
"Palu. Mana palunya? " tanya Juan.
Segera Reno mengambil palu.
"Untuk apa palu ini Juan.? " tanya Reno.
"Nanti kamu akan tahu. " jawab Juan pendek.
Juan menggulung kawat berduri hingga menyerupai mahkota.
"Membuat mahkota. " ucap Juan pendek.
Reno tak bisa berkata apa apa, Dia tahu betul betapa cintanya Juan terhadap Felix dan betapa menderitanya Dia kehilangan Felix. Reno baru tahu sekejam ini Bos nya menyiksa orang, ini baru perempuan entah apa yang terjadi pada pria itu apa bila perempuan itu mati. Tak lama kemudian mahkota itu selesai di buat
"Reno dan kamu angkat perempuan itu. " perintah Juan.
"Dan kalian berdua siapkan tempat istirahat untuk ku. " lanjut Juan.
Reno dan salah satu anak buahnya mengangkat tubuh istri Reza.
"Apa yang ingin kau lakukan. " ucap perempuan itu lirih.
"Shutt diam, Juan ingin membuat pajangan untuk suamimu. " ucap Juan tersenyum iblis.
"Juan saya mohon, hentikan. Jangan kau siksa istri ku lagi. " Reza memohon sambil menangis.
"Bukannya tadi Juan sudah memberi kamu pilihan, membunuh dia dengan tangan mu sendiri, atau melihat dia menderita hingga tak ingin hidup lagi. " ucap Juan.
Reno paham betul apa yang diinginkan Juan dibuatnya perempuan itu berdiri di kayu salib yang tak jauh di depan Reza.
"Tolong bunuh saja aku. " rintihnya pelan.
"Mintalah pada suami tercinta mu itu. Kau letakkan tangannya disini. "ucap Juan sambil memerintah anak buahnya.
Dan kemudian di paku telapak tangannya hingga menebus dan menancap di kayu. Tentu saja perempuan itu kembali berteriak histeris. Bukan hanya di kedua telapak tangan. Telapak kakinya pun tak luput dari tancapan paku. Darah segar mengalir di kedua telapak tangan dan kakinya.
Tak selesai disana Juan memberi sentuhan terakhir, dengan kasar Juan memberi mahkota duri di kepalanya hingga berdarah, dan melilitkan kawat berduri pada kedua lengan dan juga perut perempuan itu. Juan tak pernah memberi ijin untuk perempuan itu pingsan. Setiap dia pingsan disiram agar selalu sadar. Tubuhnya penuh luka darah segar mengalir disetiap luka yang ada.Luka dibuah dada yang robek, perut, paha, kedua telapak tangan dan kaki, tusukan kawat berduri di kepala, lengan dan juga perut.
Tubuhnya pucat mengigil kerena kedinginan dan menahan rasa sakit yang teramat sakit. Reza hanya mampu menatap tak berdaya melihat istrinya di salib di depannya. Reza bimbang antara membiarkan istri hidup atau mati ditangannya. Dia teramat sangat mencintai istrinya dan tak mungkin baginya untuk membunuh istri nya sendiri. Usai melakukan itu, Juan pergi meninggalkan Reza dan istri nya, tentu saja tak semudah itu dia membiarkannya. Juan memerintah anak buahnya untuk tetap menyiksa perempuan itu dengan memberikan cuka pada setiap lukanya. Sehingga teriakan nyaring tetap menggema di sel itu.