
Saat hendak keluar ternyata sudah ada Luois di depan kamarnya.
"Ada perlu apa? " tanya Juan dingin.
"Hari ini anda harus ikut saya mengunjungi proyek yang tertunda." jawab Louis.
"Tidakkah tadi kamu dengar, Juan tidak bisa bekerja sekarang. Tunggu urusan Juan selesai. " jawab Juan menatap Louis.
"Anda seperti anak kecil, memanggil nama sendiri. " ucap Louis.
"Dan kamu tak menghiraukan ucapan Juan. " jawab Juan yang kemudian berlalu.
Segera di pegangnya tangan Juan untuk menghentikan langkah nya.
"Kamu mau apa sih? " bentak Juan.
"Sudah saya bilang anda harus ikut saya ke proyek tersebut. " perintah nya.
"Tunda besok, hari ini akan Juan bereskan urusan Juan. " ucap Juan sambil mencoba melepaskan tangannya Louis.
"Baiklah saya bantu anda membereskan masalah anda, setelah itu anda ikut saya. " ucapnya datar.
"Haaa..... Terserah kamu lah. " akhirnya Juan mengalah juga.
Di tatap nya penampilan Luis.
"Apa kamu akan memakai baju ini untuk ikut dengan saya. ? " tanya Juan sedikit tak percaya.
"Ya." jawab nya pendek.
"Terserah kamu saja. " Juan pun berlalu dan Louis mengikuti dari belakang .
"Cukup manis juga. " guman Louis lirih.
"Apa yang kamu katakan tadi. " kata Juan tanpa menoleh.
"Tidak ada. " jawab Louis pendek.
Mereka pun keluar dan menuju garasi. Disaat Juan hendak menuju motornya Louis segera menarik tangan Juan menuju mobilnya.
"Lebih cepat dengan mobil. " ucap Louis pendek.
Juan hanya menghela napas pendek dan menuruti perkataan Louis. Juan sendiri merasa aneh kenapa dengan mudahnya Juan menuruti perkataan Louis.
Di dalam mobil semua hening, tak ada percakapan, tak ada pembicaraan. Semua berada di dunianya masing masing. Untuk petunjuk arah Juan sudah memberikan arahan kepada Louis, sehingga Louis hanya tinggal mengikuti saja petunjuk yang di berikan. Karena tempat yang di tuju oleh mereka tidak ada di dalam peta, semua tersamarkan oleh hutan. Padahal jika di cari dan di lihat dengan benar ada jalan yang memang telah lama tidak di lewati alias telat terblokir. Hanya Juan yang bisa lewat disana.
Sesampainya ketempat yang di maksud, Louis sedikit ragu untuk masuk kedalam.
"Kenapa, apa kamu akan menunggu disini saja. " ucap Juan meremehkan.
Akhirnya Louis mengikuti Juan. Dan ternyata kali ini bukan hanya Reno yang menunggunya, Leopard, King dan juga Queen ikut menunggu nya juga.
"Wah wah kalian datang juga rupanya. Apa kalian ingin bermain main juga? " tanya Juan.
Leopard menggeram keras, begitu juga dengan King dan Queen mereka menggonggong keras.
Luis terkejut melihat interaksi hewan tersebut dengan Juan.
"Oh Dia. Namanya Louis. Emmm.... " Juan tampak bingung saat hendak mengatakan nama lengkap nya.
Di tatap nya Louis.
"Nama lengkap kamu siapa. " tanya Juan kekanak-kanakan.
Sejenak Louis tertegun. Sedangkan Reno tertawa kecil.
"Dasar bego. " gerutu Reno.
Juan menatap Reno dengan tatapan tak suka.
Queen menggonggong pelan kearah Juan.
"Kamu juga Queen. " ucap Juan sambil mengelus kepala Queen.
Louis hanya menatap tak percaya.
"Louis Regulus aridam Ethelbert. " sahut Louis.
"Ehh apa tadi, Louis Regulus Aridam.... " Juan sedikit kesulitan.
"Panggil saja Louis. " ucap nya singkat.
"Saya Reno, tangan kanan Juan. " sahut Reno, sambil mengulirkan tangannya.
Louis pun menyambut uluran tangannya.
"Sudah lah, ayo masuk Juan tak sabar ingin bersenang-senang lagi." ucap Juan.
"Apa semua yang Juan minta kemarin sudah disiapkan.? " tanya Juan.
Reno mengangguk pelan. Mereka semua masuk ke dalam dan menuju ke sel dimana semalaman Juan melakukan aksi brutalnya. Saat di tatap nya mayat istri Reza yang sudah mulai membengkak Juan mulai nampak tak senang.
"Buang bangkai perempuan itu kejurang, sebelum berbau busuk. " perintah Juan saat sampai di depan sel.
Terkejut bukan main saat Reza mendengarkan perintah Juan.
"Kenapa peliharaan ku saja tak mau mendekati mayat istri mu. Lalu buat apa aku menyimpan mayat istri mu. " ucap Juan dingin.
"Siapa dia Juan.? " tanya Louis datar.
"Dia adalah Tuan Reza Adiputra. Orang yang sudah menyewa pembunuh bayar untuk menyerang kekasihku Felix. " jelas Juan dingin.
"Begitu rupanya. Apa ini pekerjaan yang Anda maksud. " ucap Louis menatap Juan.
"Ya. Kemarin Juan habis bermain main dengan istri nya, sekarang saatnya Juan bermain main dengan nya. " ucap Juan sambil memandangi mayat perempuan yang sudah terbujur kaku.
Dan kemudian segera di bereskan oleh anak buah. Reza hanya mampu terdiam.
"Kenapa anda mengotori tangan anda, biarkan anak buah anda yang membereskan Dia, bukannya anda sudah membuat dia bagaikan mayat hidup. Tidak seru menyiksa orang yang sudah seperti mayat hidup. " bujuk Louis.
"Ahh kamu benar. Tak seru menyiksa orang yang sudah mati rasa. " Juan setuju dengan ucapan Louis.
"Kalau begitu ayo pergi dari sini dan ikut saya. " ucap Louis tegas.
"Tapi... . . " belum sempat Juan berbicara Louis sudah menarik tangan Juan.
"Reno siksa dia sampai mati, lalu buang seperti biasanya. " teriak Juan.
Reno hanya mengganggu tanda setuju. Di dalam hati Reno sangat berterima kasih pada Louis, berkat Dia Reno tak lagi melihat siksaan yang diberikan Juan pada orang itu. Bukannya takut tapi lebih ke tak ingin membuat Juan menjadi sosok iblis.