
Tak berapa lama kemudian Charles keluar dari ruangannya, di tatap nya Juan yang berdiri tak jauh dari pintu.
"Kalian papah Bara dan obati Dia. Dan kamu Juan masuk kedalam. " perintah Charles.
Segera Wilmer dan Kemal masuk kedalam dan membantu Bara untuk berdiri. Sedangkan Viona segera mengambilkan kotak P3K.
Kenzo hanya mampu menggelengkan kepala segera mereka membawa kekamar nya.
Setelah semua teratasi kembali Juan masuk kedalam ruang kerja Charles.
Charles duduk dan menunggu Juan dikursinya. Setelah pintu tertutup Charles hanya mampu menghela napas panjang.
"Anda tahu apa yang sudah di lakukan Bara? " tanya Charles dingin.
"Iya Pa. Juan baru saja tahu kalau selama ini Bara mencoba untuk mencari tahu siapa Juan sebenarnya. " jawab Juan lirih.
"Cobalah untuk berhati hati. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. " ucap Charles tegas.
"Pergi. Dan satu lagi besok ada rapat ikutlah dengan Louis. " perintah Charles.
Juan hanya menganggukkan kepalanya.
Waktu terus berjalan, walau lambat namun pasti. Semua mulai berubah sering dengan waktu. Kedekatan Louis dengan Juan pun terbilang jalan di tempat. Saling tertarik tapi enggan untuk mengakuinya.
Hingga suatu hari.
Pagi itu semua masih terlelap dari tidurnya. Juan bangun lebih awal seperti biasanya. Usai membersihkan diri segera Juan berpakaian santai memakai jeans, kaos dan juga hoodie serta sepatu kets. Dia pun memasang earphones dan memutar musik. Segera dia turun dan keluar dari rumah. Diambilnya motor kesayangan nya, dan melaju pergi. Ternyata kepergian Juan terlihat oleh Louis yang saat itu pun akan pergi juga kesuatu tempat. Beda nya Louis pergi dengan mobil dan seorang sopir bersamanya.
Pov Juan
Setelah keluar dari rumah. Juan pergi ke suatu tempat, sebuah taman yang biasa di gunakannya untuk menenangkan diri sekaligus menggerakkan badan. Setelah dirasa cukup untuk melakukan joging. Juan segera menghentikan aktivitas nya dan berjalan keluar taman. Kemudian segera menaiki motornya dan melakukan pergi dari taman. Bukannya pulang melainkan berhenti di sebuah kafe yang tak jauh dari taman tersebut. Usai memesan makanan untuk breakfast, Juan menunggu dengan memainkan ponselnya.
Pov Louis.
"Kemana dia pergi, pagi pagi begini sudah keluar. " guman Louis.
"Ayo kita berangkat. " ucap Louis kepada aopirnya.
Mereka pun melaju pergi. Ternyata arah pergian mereka searah, bedanya Juan pergi menuju taman sedangkan Louis kesuatu tempat dan menemukan seseorang.
Usai melakukan pertemuan Louis bermaksud untuk segera kembali ke rumah, tetapi niatnya di urungkan saat melihat seseorang yang sedang duduk seorang diri sambil menikmati minumannya.
"Berhenti, dan kamu langsung saja kembali. Saya ada perlu sebentar. " perintah Louis.
"Tapi Tuan Muda. " ucap Sang sopir.
"Sudah turuti saja perintah saya. " ucap Louis dingin.
Sang sopir pun mengikuti perintah majikannya. Setelah menghentikan mobilnya Louis segera turun dari mobil. Sang sopir pun segera berlalu dari majikannya itu.
Louis berjalan mendekati Juan yang sedang menikmati kopinya.
"Apa yang sedang anda lakukan disini. " ucap Louis tiba tiba dari belakang.
Sontak saja membuat Juan terkejut dan hampir saja menjatuhkan gelas kopi nya yang masih panas. Dengan reflek Louis memegang cangkir kopi itu, sehingga membuat sebagian kopinya terkena tangannya.
"Astaga kau. " ucap Juan terkejut
"Apa yang kau lakukan, cepat letakkan cangkir itu. " perintah Juan.
Louis meletakkan dan duduk di kursi kosong g sebelah Juan.
"Apa yang kau lakukan di belakang ku, Louis. " ucap Juan jengkel sambil meraih tangan Louis yang terkena tumpahan kopinya.
Louis hanya diam tanpa berkata apa apa sambil mengamati ekspresi Juan yang terbilang manis menurutnya.
"Lihat tangan kamu jadi semerah ini. " lanjut Juan sambil mengeluarkan sapu tangannya dan membalut tangannya dengan sapu tangan tanpa melihat Louis yang sedari tadi tersenyum tipis.
"Sekarang jelaskan kenapa kamu ada di belakang Juan? Dan sedang apa kamu di daerah sini? " tanya Juan dengan ekspresi lucunya.
"Kebetulan saya ada perlu di sekitar sini. Saat hendak pulang tidak sengaja saya melihat anda sendirian disini. " jawab Louis.
"Keperluan apa? " tanya Juan penasaran.
Belum sempat Louis menjawab ponsel Louis berdering.
"Maaf sebentar. " ucap Louis dan kemudian mengangkat ponselnya.
"Ya, hallo. " 📲 sapa Louis.
"Nyonya Tua Besar ingin berbicara dengan anda. " 📲 ucap suara di seberang.
"Haaa.... Berikan. " 📲 jawab Louis dingin.
"Louis, bagaimana acara breakfast tadi.? " 📲 tanya suara seorang pria dengan nada lembut.
"Nenek, saya tidak suka dengan apa yang Anda lakukan ini. Jadi tadi saya meninggalkannya di sana. " 📲jawab Louis dingin.
"Louis. Kamu membutuhkan seorang pendamping untuk menjaga Chessi. " 📲bentak suara disebrang.
"Saya tahu itu Nek, dan saya sudah mempunyai seseorang yang cocok untuk menggantikan posisinya menjaga Chessi. " 📲ucap Louis datar.
"Kalau memang benar sudah ada bawa dia kemari hari ini juga. Mengerti. " 📲 perintahnya.
"Baik, nanti malam kami akan kesana. " 📲 jawab Louis.
Kemudian di tutupnya ponselnya.
"Ada masalah apa? " Juan sambil menikmati sandwich nya.
"Ah, sampai lupa. Kamu belum pesan apa apa kan? " tanya Juan.
Tanpa persetujuan Louis, Juan memanggil seorang pelayan. Dan pelayan itu menghampirinya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan.? " tanyanya.
"Ya, saya pesan secangkir kopi lagi. Dan kamu Louis mau pesan apa? " tanya Juan.
"Samakan dengan Anda saja. " jawab Louis datar.
"Oke. Tolong 2 cangkir capucino latte, dan satu porsi sandwich. " ucap Juan sambil tersenyum manis.
"Baik Tuan, akan segera datang. " pelayan wanita itu tersenyum kembali kearah Juan, seakan akan ingin menggoda.
"Tidak bisakah ada untuk tidak tersenyum kepada orang lain. " tegur Louis.
Hingga membuat Juan terteguk tak percaya dan di tatap nya wajah Louis. Segera Louis memalingkan mukanya.
"Apa salahnya Juan tersenyum pada orang lain. " ucap Juan tak mengerti.
"Saya hanya tidak suka saja melihat anda tersenyum kepada orang lain. " jawab Louis.
"Sudah lah, sekarang ceritakan masalah kamu. Itupun kalau kamu mau. " lanjut Juan.
"Nenek saya, ibu dari Papa meminta saya agar cepat cepat untuk menikah. Entah sudah keberapa kali beliau menjodohkan saya dengan perempuan perempuan itu. Saya lelah mendengarnya." jelas Louis.
"Terpaksa tadi saya berbohong, jika saya sudah punya. Padahal saya masih belum ada. " lanjutnya lagi.
"Lalu sekarang apa yang akan kamu lakukan? " tanya Juan ikut prihatin.
"Seperti nya saya harus meminta tolong sahabat saya untuk berpura pura menjadi kekasih saya di depan Nenek. " jawabnya sedikit pasrah.
Tak lama kemudian pelayan wanita itu datang, dan kali ini dia begitu dekat dengan Juan hingga membuat Louis tak suka.