
Setelah Mattheo masuk dan duduk di kursi yang memang di peruntukan untuk nya segera Juan mengambil arsip dan segala dokumen yang harus di pelajari oleh Mattheo.
"Mattheo ini dokume dokumen yang harus kamu pelajari. " ucap Juan menyerahkan dokumen dengan tanpa basa basi atau ekspresi.
"Mattheo? Kamu? " beo Mattheo sambil menopangkan dagunya di kedua tangannya yang saling menggenggam.
Juan hanya melirik kearahnya tanpa ekspresi.
"Haruskah Juan memanggil dengan sebutan Tuan Muda juga. " ucap Juan sinis.
"Dimana rasa hormat Anda kepada pimpinan. " ucap Mattheo datar.
Juan menatap tajam kearah Mattheo.
"Mungkin Anda tidak tahu. Saya berada disini memang sebagai sekretaris Anda. Tapi Anda harus tahu satu hal. Saya, Juan tidak pernah suka diperintah. " ucap Juan tegas.
"Tentu saja sebagai sekretaris saya akan mengikuti kemana Anda akan pergi, memberitahu dan mengatur jadwal rapat serta pertemuan dengan klien. " jelas Juan.
"Di depan semua karyawan Juan akan memanggil Anda Tuan Muda. Tapi jika kita hanya berdua seperti ini, Juan akan memanggil nama Anda yaitu, Mattheo atau Theo. " lanjut Juan.
Mattheo terteguk dengan keberanian Juan. Baru kali ini ada yang berani membantahnya.
"Sombong." guman Mattheo.
Juan hanya melirik kearahnya dan tersenyum tipis.
"Sekalian tolong ini dipelajari, dan 2 dokumen ini kamu tolak. " ucap Juan.
"Apa alasan kedua dokumen ini di tolak? " tanya Mattheo sambil memperhatikan dia dokumen yang masuk ke daftar hitam.
"Kedua dokumen tersebut tidak akan membuat perusahaan kita maju, bahkan akan membuat kita mengalami rugi besar. Pimpinan mereka semua adalah musuh dalam selimut. Perkataan mereka penuh dengan kepalsuan. " jelas Juan.
"Dari mana Anda tahu itu. Bertemu saja Anda tidak pernah.?" tanya Mattheo tanpa melepaskan padangan dari Dokumen.
"Juan orang yang sangat peka. Juan lihat Aura hitam dari tubuh meraka. Lebih baik tolak saja. " jelas Juan.
"Anda melihat aura hitam? “ tanya Mattheo tak percaya.
"Juan tak akan mengatakan secara terperinci, lebih baik kamu turuti saja. Juan tak mau mendapat siksaan dari Papa lagi. Ini perintah langsung dari Papa. Juan bertanggung jawab untuk menilai siapa siapa yang layak bekerja sama dengan kita atau bawahan mana yang pantas mengambil proyek yang akan bekerja sama dengan kita. " jelas Juan datar.
"Sepercaya itukah Papa dengan Anda.? " ucap Mattheo masih tak percaya.
"Percaya atau tidak percaya itu terserah kamu. Tapi ingat Juan tak mau ambil resiko lagi. Sudah cukup lama Juan tak mendapat siksa cambuk dan tusuk belati dari Papa. Dan Juan tak ingin lagi merasakan itu. " ucap Juan sambil menatap tajam kearah Mattheo.
"Tolong dengan sangat pelajari dokumen ini, besok dan lusa kita akan bertemu mereka, sedangkan yang 2 itu segera lakukan pembatalan, seseorang akan mengambilnya dan akan langsung mengembalikannya. Juan ada diruangan sendiri. Jika butuh apa panggil saja melalui itu. " jelas Juan sambil menunjuk kearah telpon yang ada di meja.
"Permisi." lanjut Juan yang kemudian meninggalkan Mattheo sendiri.
Mattheo terdiam tak tahu harus berkata apa lagi. Karena baru kali ini Dia melihat ada bawahan yang begitu tak sopan kepada dirinya.
"Apa apaan ini, kenapa Papa memperkerjakan orang yang sombong seperti itu. Inikah orang yang membuat ketiga adikku terpikat. Apanya yang memikat. " gerutu Mattheo.
Mattheo benar benar tak habis pikir dan tak tahu lagi harus berbuat apa. Entah karena jengkel atau apa, Mattheo dengan sengaja membuat Juan sedikit emosi. Tanpa alasan yang jelas sengaja Mattheo memanggilnya.
"Juan bisa datang keruangan saya. " 📠 perintah Mattheo.
"Baik. " 📠 jawab Juan yang kemudian bergegas ke ruangan Mattheo.
"Ada perlu apa memanggil Juan? " jawab Juan.
"Tolong buatkan saya secangkir kopi latte. Saya tidak suka kopi hitam. " perintah Mattheo tanpa menatap ke arah Juan.
Juan terteguk tak percaya, baru kali ini dia mendapat perintah untuk membuatkan secangkir kopi. Padahal itu menjadi tugas seorang office boy.
"Secangkir kopi? Kenapa harus Juan yang membuatkannya? Harusnya kamu memanggil office boy bukan Juan. " ucap Juan datar.
"Kauu.... Haa.... Baiklah. " Juan akhirnya menyerah dan pergi ke pantry di dalam ruangan Mattheo.
Dari kejauhan Mattheo tersenyum smrik.
Tak lama kemudian Juan datang dengan secangkir kopi di tangannya.
"Ini kopinya " ucap Juan sembari meletakkan di meja.
Mattheo mengambil tanpa bicara apapun. Saat Juan hendak meninggalkan ruangan.
"Terlalu manis, saya tidak suka yang terlalu manis. Ganti yang baru. " perintah Mattheo.
Dengan enggan Juan menghampiri dan mengambil cangkir kembali ke pantry membuatkan kopi latte baru dengan takaran yang berbeda. Juan kembali meletakkan kopi dimeja. Sedangkan Mattheo kembali mencicipi sedikit kopinya.
"Terlalu pahit. Buat lagi. " perintah Mattheo tanpa melihat ekspresi Juan yang mulai berubah.
Juan mulai sedikit kesal melihat ulah Mattheo. Dengan sedikit kasar diambilnya cangkir kopi dan berlalu. Mattheo melirik punggung Juan dengan senyum smriknya.
Tak butuh waktu lama Juan kembali dengan secangkir kopi baru.
"Ini. " ucap Juan datar sekaligus kesal.
Mattheo menatap dengan sedikit mengangkat alisnya.
"Panas, ini bahkan tidak bisa diminum. " ucap Mattheo datar dan menahan senyum.
"Kauu..... " pekik Juan mulai kesal.
"Tadi terlalu manis, lalu terlalu pahit sekarang panas. Sebenarnya apa mau mu sih, kalau terlalu panas tunggu dan biarkan dingin kan bisa. " ucap Juan kesal.
"Sebenarnya Anda bisa apa tidak membuatkan secangkir kopi. " ucap Mattheo mengabaikan protes Juan.
"Juan disini bukan hanya sekedar untuk membuatkan kopi untuk kamu. Di meja Juan masih banyak berkas yang harus Juan selesaikan saat ini juga. Jadi tolong jika tidak terlalu penting jangan panggil Juan. " ucap Juan semakin kesal.
"Bukannya tugas sekretaris adalah melayani atasannya. Saya hanya meminta Anda untuk membuatkan kopi bukan kah itu termasuk tugas Anda juga. " jelas Mattheo sambil tersenyum senang.
"Tugas Juan melayani kamu, disaat kamu membutuh bantuan soal pekerjaan bukan membuatkan kopi seperti ini." ucap Juan sedikit meninggikan nada suaranya.
"Saya tidak mau tahu. Buatkan saya kopi yang baru. Tidak terlalu manis atau pahit, jangan terlalu panas atau dingin dan berikan sedikit taburan bubuk cacao di atasnya. " jelas Mattheo sambil menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap Juan.
"Kauuu...... " pekik Juan tak Terima.
"Haaa..... Menjengkelkan. " ucap Juan yang kemudian berlalu.
"Jangan manis, atau pahit, jangan panas atau dingin. Bla bla bla bla.... " gerutu Juan sambil berjalan kearah dapur.
"Saya mendengar ucapan Anda. " ucap Mattheo sambil tersenyum senang.
"Bodooo.... " teriak Juan dari arah pantry.
"Cukup manis. " ucap Mattheo lirih dan kemudian tenggelam dalam dokumen yang ada di depannya.
Tak lama kemudian Juan kembali dengan secangkir kopi dan meletakkan nya.
"Tidak terlalu manis atau pahit, tidak terlalu panas atau dingin dan ada taburan cacao diatas nya. Tolong lain kali suruh office boy untuk membuatnya. Jika kurang pas silakan buat sendiri. " ucap Juan yang kemudian benar benar meninggalkan ruangan Mattheo.
Mattheo menatap kepergian Juan hingga benar benar keluar dari ruangan. Dirasa pintu sudah tertutup rapat meledak juga tawa Mattheo.
"Benar benar cukup senang menggoda nya. Juan. Yohanes Juan Christopher. Apa yang membuat semua saudara saudara saya bertekuk lutut dihadapan Anda. Felix, si playboy yang tak bisa tahan dengan 1 orang kekasih dalam waktu yang lama tapi dengan Anda bisa bertahan cukup lama sampai tragedi itu datang. Luis seorang pria yang dingin bak gunung es bisa mencair dengan begitu mudahnya. Kemudian Aiden si Vampir rela tertidur panjang ditangan Anda. " guman Mattheo.
"Siapa Anda sebenarnya, dan apa yang Anda sembunyikan di balik topeng wajah Anda itu. " lanjut Mattheo.