
"Maaf nona, tidak bisakah anda tidak terlalu dekat dengan milik orang lain. " tegur Louis.
Sontak membuat pelayan wanita itu terkejut dan sedikit menjauh, setelah meletakan pesanan segera berlalu dari hadapan mereka.
Juan tak kalah terkejutnya, tapi hanya mampu menatap tak tahu harus ber kata apa. Louis mengalihkan perhatian Juan dengan meminum kopi yang di pesannya tadi.
"Ah ya. Soal tadi. " ucap Juan.
Louis segera memandang Juan.
"Buat apa kamu jauh jauh mencari bantuan. Kalau mau Juan akan bantu kamu. " lanjut Juan.
"Benarkah Anda akan membantu saya? " ucap Louis tak percaya.
"Iya, Juan akan bantu kamu. Tapi cerita lebih detail agar nanti Nenek tak curiga. " ucap Juan.
"Baiklah, disini nanti kita berpura pura sudah berpacaran cukup lama sekitar 1 tahun. Dan satu lagi saya sudah mempunyai seorang anak, namanya Zellina Chessy Maida Ethelbert. Usianya 5 tahun, ibunya sudah meninggal. " jelas Louis.
Hingga membuat Juan terkejut.
"Kamu sudah punya anak berusia segitu. " ulang Juan.
Louis mengangguk pelan.
"Baiklah Juan mengerti. Kapan kita akan bertemu Nenek. ? " tanya Juan.
"Hari ini. Tepatnya nanti malam. " jawab Louis sambil memotong sandwich dan memakannya.
"What?. Secepat itu? " tanya Juan terkejut.
"Ya. Dan kita akan makan malam bersama Beliau. " jawab Louis kembali.
"Waduh. Juan tak ada baju formal. " ujar Juan spontan.
"Kalau masalah itu jangan khawatir. " jawab Louis pendek.
Segera Louis mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
"Saya akan ke Mall biasanya, siapkan semua tanpa ada gangguan. "📲 perintah Louis.
Di tutup ponselnya secara sepihak.
"Mari ikut saya. Kita kesana memakai kendaraan Anda. " ajak Louis.
"Sebentar." jawab Juan pendek.
Segera Juan memanggil pelayan untuk minta bon nya. Setelah membayar semua mereka berdua segera beranjak dari kursinya. Dengan sengaja Louis menggandeng tangan Juan menuju ke parkiran di mana motor Juan terparkir cantik di sana. Juan hanya diam dan tersenyum.
"Hmm seperti inikah rasanya memegang tangan seorang kekasih" kata Louis dalam hati.
Tanpa di ketahui oleh Juan, Louis tersenyum tipis. Seorang yang dingin bak es, seorang bos yang terkenal kejam tanpa perasaan ternyata bisa tersenyum. Mungkin itu yang akan di pikirkan anak buah nya kalau mereka tahu.
Sesampainya di parkiran segera Juan memberikan kunci motornya.
"Juan, helm cuma ada 1 saja? " tanya Louis bingung.
"Karena Louis yang bawa motornya, jadi yang pakai harus Louis. Juan bisa berlindung dari angin di punggung Louis. " lanjut Juan sambil tersenyum manis.
Deg.
Seketika jantung Louis berdetak kencang melihat senyuman Juan. Ingin rasanya Louis memakan habis bibir tipis Juan itu.
"Baiklah ayo naik. " ucap Louis mengalihkan
perhatian Juan sambil naik ke atas motor Juan.
Dalam perjalanan tanpa ada suara atau perbincangan semua terdiam dengan pikiran masing masing. Louis yang melambatkan laju motornya serta Juan yang memeluk erat pinggang dan bersandar pada punggung Louis.
Sungguh seperti orang yang sedang berkencan, mungkin itu yang ada di pikiran orang yang melihatnya.
Sesampainya di sebuah mall ternama di kota itu Juan terkejut. Bagai mana tidak, hampir di berbagai sudut Mall ada anak buah Louis yang sedang berjaga jaga. Mereka turun tepat di depan pintu masuk. Setelah melepaskan helm dan dilihatnya rambut Juan yang acak acakan karena diterpa angin, segera Louis merapikan rambutnya dengan tangan.
Juan terkejut bukan main, bukan hanya Juan, sebagian anak buah Louis pun sama. Tak seperti biasanya Bos mereka yang sedingin es bisa melakukan hal seromantis itu.
Semua pengunjung nampak iri melihat hal itu. Di genggam eratnya tangan Juan dan di ajaknya Dia ketempat dimana butik yang sudah menjadi tempat favorit nya.
"Selamat datang tuan. " ucap penjaga toko.
Dan kemudian memandang terkejut karena tak biasanya melihat Louis datang dengan seseorang.
"Manis juga pria ini. Apa dia simpanan tuan muda " pikir manejer toko.
"Kamu, pilihkan baju yang pas buat dia, sekalian anting, jam tangan, bros dan juga pin yang senada dengan bajunya" perintah Louis.
Semua penjaga toko mulai sibuk mencari kan stelan jas pas buat Juan.
"Dan satu lagi carikan sepasang jas buat kami, dan aksesoris juga. " perintah Louis.
Semua pegawai berkejut tapi mereka tetap melakukan perintahnya.
Setelah semua di dapat, segera semua barang di simpan dalam paperbag. Salah seorang anak buahnya membawa semua barang tersebut ke mobil.
"Kamu bawa semua barang itu ke rumah Tuan Besar Ethelbert, termasuk milik Juan. " ucap Louis.
"Tapi Tuan Muda. Apa Tuan Juan juga tinggal disana.? " tanya salah satu anak buahnya.
"Iya, Juan juga salah satu anak angkat Papa. " jawab Louis tegas.
Juan hanya tersenyum mendengar ucapan Louis. Melihat Juan tersenyum seketika beberapa anak buah Louis tersipu.
"Juan... " tegur Louis.
"Eh iya maaf. " ucap Juan sedikit terkejut.
Karena tanpa disadari Juan, Dia mengeluarkan aura pemikatnya. Dan itu di sadari oleh Louis.
Segera Louis menarik tangan Juan dan berjalan menuju motor yang terparkir tak jauh dari tempat mereka.
Dalam perjalanan lagi lagi tak ada percakapan yang berarti semua diam membisu dan tenggelam dalam pikiran masing masing.