
Semakin besar perusahaan yang ditangani Charles, membuat Charles semakin kewalahan membagi waktunya. Hingga mau tak mau Charles memanggil kembali seorang putra nya. Putra yang sangat jarang datang berkunjung atau bisa dibilang hanya datang beberapa kali saja.
Charles mengambil telpon yang ada di meja kerjanya dan menekan satu tombol yang berhubungan langsung dengan ruangan kerja Juan.
"Juan. Datang keruangan saya segera. " ðŸ“
perintah Charles.
Tanpa menunggu jawaban dari Juan, Charles segera memutuskan sambungan telepon nya. Tak membutuhkan waktu yang lama, Juan masuk ke kantor Charles.
"Duduk." perintah Charles tanpa memandang Juan.
Juan menuruti semua ucapan Charles.
Ditatap nya lekat wajah Juan.
"Lusa putra saya akan datang. Anda dampingi dia. Saya tahu iblis itu telah hilang, tapi paras wajah anda masih sama dan memikat." ucap Charles menatap datar.
"Saya rasa Anda tahu maksud saya. " jelas Charles.
"Papa tidak usah khawatir, Juan bukan lagi Juan yang dulu. Juan sudah tak ingin jatuh cinta lagi. " jawab Juan datar.
"Saya tahu itu. Tapi Saya mengingatkan Anda. Jangan terpengaruh dengan wajahnya. " nasehat Charles dan sedikit mengingat kan.
Juan menganggukan kepalanya.
"Lusa jemput Dia di bandara. Bawa Kay Hardiest bersama Anda. Dia tahu putra saya yang mana yang akan tiba lusa. " lanjut Charles.
Usai mendapat perintah Juan pun beranjak pergi.
Seperti yang sudah diperintahkan oleh Charles. Sedari pagi Juan sudah mulai bersiap siap. Memakai jas lengkap tentunya. Dan tak ada yang berbeda dari penampilan Juan. Hanya saja sudah sejak pagi Juan sudah tampak rapi dengan setelan jas hitam, hingga membuatnya tampak lebih menawan.
"Kak Juan mau kemana? " tanya Sella saat berada di meja makan.
"Papa minta Juan untuk menjemput seseorang di bandara." jawab Juan sambil menghabiskan sisa kopinya.
"Siapa yang akan Kamu jemput Juan? " tanya Bara.
"Entah lah Juan sendiri tak tahu. Anak papa yang lain katanya." ucap Juan datar.
Juan hanya menganggukan kepalanya dan kemudian beranjak dari kursinya.
"Juan." panggil Bara tiba tiba.
"Iya." jawab Juan pendek.
"Saya dengar dia sangat suka merayu. " ucap Bara.
"Jangan khawatir. Rasa itu sudah hilang. " ucap Juan datar.
"Dan kalian bukan kah sudah waktunya berangkat ya. " sahut Juan sambil menunjukkan jam tangan nya.
Seketika itu semua mulai terkejut dan keributanpun terjadi. Juan hanya mampu menggelengkan kepala pelan.
"Masih juga tak pernah berubah. " guman Juan sembari berlalu dan meninggalkan keributan yang ada.
Di depan halaman tampak mobil yang sedikit berbeda.
Juan terteguk melihatnya. Disamping mobil tampak Kay sudah berdiri menunggu.
"Kenapa memakai mobil ini? " tanya Juan heran.
"Kenapa tidak pakai mobil yang biasanya saja. ?" lanjut Juan.
"Tuan muda sangat suka dengan mobil ini. " jawab Kay.
Tak lama kemudian sopir membukakan pintu untuk Juan dan juga Kay. Setelah mereka masuk kedalam segera mobil itu melaju menuju bandara.
Setibanya dibandara segera mobil yang dinaikin juan dan kay memasuki daerah landasan.
Tak berlangsung lama telihat dari jendela mobil yang menghadap langsung landasan, mendarat sebuah pesawat zet hitam pribadi menempati landasan dengan sempurna.
Mobil segera dilajukan mendekati tangga pesawat yang mulai dibuka pramugari dan pramugara.
Juan menatap heran pesawat itu, pikirnya mungkinkah tuan muda kali ini terlalu dimanjakan hingga mengunakan layanan semewah ini. Tanpa alasan juan berdecak sebal.