Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Sebuah kesenangan yang menanti



Segera Juan keluar dari kastil dan menuju ke mobil yang sudah disiapkan. Lagi lagi Aiden hanya tersenyum tipis.


"Ada apa dengan Juan, semakin hari dia semakin aneh? " ucap wilmer sedikit curiga.


"Iya, dan lagi wajah kak Juan sedikit lebih pucat dari biasanya. " sahut Bella.


"Emmm.. " kyra mengangguk setuju.


"Cepat selesaikan dan segera berangkat. " perintah Aiden.


"Iya." sahut mereka serentak.


Aiden segera menghentikan sarapan nya dan menyusul Juan.


"Juan pindah duduk depan. " perintah Aiden yang ternyata dia sendiri yang mengemudikan mobilnya.


"Untuk apa? " jawab Juan tanpa beranjak.


"Saya bukan sopir Anda. " ucap Aiden datar sembari menatap melalui kaca mobil.


"Haaa.... " keluh Juan yang mau tak mau menuruti permintaan Aiden.


Segera Juan keluar dari mobil dan pindah duduk di kursi depan.


Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup, tapi arah yang ditujuh bukan lah kearah perusahaan. Melainkan kearah lain. Juan menatap heran.


"Kita akan kemana? Ini bukan arah seharusnya. " ucap Juan penasaran.


"Bukankah jalan yang pernah kita lalui dulu?,. " tanya Juan.


"Ya." jawab Aiden singkat.


"Untuk apa kita kesana lagi. Balik arah dan kembali ke kantor. " pindah Juan.


Aiden hanya menatap tajam kearah Juan tanpa berbicara.


"Sebentar lagi Papa dan Ayah kembali dari bulan madu mereka." ucap Aiden menghiraukan permintaan Juan.


"Lalu apa hubungannya dengan Juan. " jawab Juan memandang kearah luar.


"Ada bayi diperut Ayah. " jawab Aiden datar.


"Wah ada anggota baru nantinya. " ucap Juan senang dan menatap binar kearah Aiden.


"Ya. Anggota baru yang nikmat bagi iblis setengah vampir yang baru lahir. " jawab Aiden sinis.


Seketika Juan terkejut dengan ucapan Aiden.


"Anda akan tahu nanti. " jawab Aiden dengan senyum bak iblis.


Tak lama kemudian mereka berdua sampai juga di villa yang pernah Juan datangi. Seketika itu Juan teringat akan kejadian yang pernah dia alami.


"Untuk apa kita kesini lagi? " tanya Juan tak suka.


"Makan." jawab Aiden singkat.


Dan langsung masuk kedalam. Juan hanya mengikutinya dari belakang.


"Kamu, bersihkan kamar di samping kamar saya. " perintah Aiden pada seorang pelayan.


Juan menatap heran tapi enggan untuk bertanya.


"Apa sudah datang mangsa yang baru." ucap Aiden dingin.


"Sudah Tuan besar, sesuai dengan permintaan Tuan. " jawab pelayan yang lain.


"Bagus." jawab Aiden tersenyum senang.


"Juan ikut Saya. " perintah Aiden.


Juan hanya menghela napas panjang dan mengikuti Aiden yang berjalan ke lorong terlebih dahulu.


Awalnya seperti biasa tidak ada yang istimewa, hanya tembok yang berhias lampu. Semakin masuk kedalam tercium aroma darah segar hingga membuat Juan menelan ludah nya sendiri.


Yang semula Juan berjalan di belakang Aiden kini beralih di samping Aiden. Melihat itu Aiden tersenyum penuh arti. Sedangkan Juan yang dari semalam nahan rasa haus dan lapar mulai sedikit kehilangan kendali.


Ditatap nya sosok manusia yang tersalib ditembok dengan penuh luka dan lelehan darah segar yang masih menetas ditubuhnya. Didekati nya manusia itu dan dihirupnya aroma darah yang mengalir.


"Juan, aku makin lapar. " ucap lucifer yang seketika itu ikut terpancing.


"Kau benar, aku juga haus. " jawab Juan berbinar.


Aiden hanya menggelengkan kepala.


"Bukan itu mangsa kalian. " ucap Aiden dan menarik tangan Juan menjauhi manusia yang sudah penuh luka dan mulai sekarat.


"Dia sudah tidak segar. " lanjut Aiden.


"Saya akan memberikan yang lebih nikmat lagi. " direngkuhnya pinggang Juan dan di kecup lembutnya bibir Juan.


"Kau.... " bentak Juan.


Aiden hanya terkekeh senang. Aiden menarik Juan menjauh dari semua korban korban nya yang sudah lemah tak berdaya.