
"Itu si Juan hanya aneh saja...... " ucapan Kenzo terpotong saat melihat Louis juga berpenampilan yang sama, bahkan baju dan aksesoris mereka juga sama.
"Kalian sedang janjian untuk kencan atau bagaimana ini? " tanya Kenzo mulai bingung.
"Nenek mengundang Saya untuk datang. Dan saya meminta Juan untuk menemani saya makan malam bersama Nenek. " jawab Louis kemudian menghampiri Juan.
"Juan pakai ini juga. " ucap Louis sambil menyerahkan kotak berukuran sedang.
Juan menerimanya, dan saat di buka betapa terkejutnya Juan.
"Louis ini kan cincin dan anting sepasang. " ucap Juan.
Kenzo pun ikut terkejut.
"Louis jangan bilang kamu ingin melamar Juan.
"Ucap Kenzo tak percaya.
"Bukan begitu. Kami hanya ingin bersandiwara saja di depan Nenek, Ayah tahu sendiri seperti apa Nenek. " ucap Louis sedikit ragu ragu.
Juan hanya terdiam dan memegang erat kotak tersebut, seakan akan menahan rasa kecewa . Juan hanya tersenyum tipis.
"Ya sudah lah. Ayah tidak tahu apa yang sedang kalian berdua lakukan, hanya saja berhati hati lah. " nasehat Kenzo kemudian berlalu dari hadapan Juan dan juga Louis.
"Juan. Anda punya lubang tindik ? " tanya Louis.
"Ya, Juan punya. " jawab Juan sambil menunjukkan lubang tindik di telinganya.
Louis memasangkan satu anting di telinga nya. Dan satunya lagi di telinga nya sendiri.
"Cincin mau pakai sendiri atau saya pakaikan. " ucap Louis.
"Kamu saja yang pakaikan. " jawab Juan sambil tersenyum manis.
Saat Louis memasangkan cincin di jari manis Juan, disaat yang bersamaan Bara naik keatas dan melihat semua adegan itu semua.
"Kalian sedang apa? " tegur Bara dengan sedikit rasa cemburu.
"Ah.. Bukan apa apa kok Bara. " jawab Juan pendek.
Sambil menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Juan apa kamu ada waktu malam ini? " tanya Bara mendekati ke duanya.
"Maaf, Juan harus pergi dengan Louis. Kami sudah ada janji. " Jawab Juan datar sambil menggandeng lengan Louis.
Karena Juan tahu kalau Bara merasa cemburu dengan Louis.
"Ayo kita berangkat, Nenek pasti sudah menunggu kita. " ajak Louis dan menatap tajam kearah Bara.
Juan menganggukan kepala pelan, dan berjalan meninggal Bara.
Bara hanya terdiam seribu bahasa dan mengepalkan tangan menahan emosi.
"Kak Juan, Kak Louis. Kalian keren banget, mau kencan kah? " tanya Ella.
Juan hanya tersenyum manis.
"Iya kami akan kencan. Tapi mungkin kami tidak akan pulang, jadi jangan tunggu kami. " jawab Louis sedikit datar.
"Wah, itu curang namanya. Kami tidak boleh kencan di luar tapi Kak Juan sama Kak Louis kencan diluar? " protes Sella.
"Kalau sekedar kencan biasa buat apa kami mesti keluar rumah. Disini ada banyak tempat romantis." jawab Juan sambil memandang Louis.
"Kami kencan di rumah Nenek. Apa kalian mau ikut. " jawab Louis sambil tersenyum tipis.
Seketika itu semua terkejut, dan akhirnya terdiam pikiran mereka papa saja sedingin es apa lagi Nenek.
"Sudah lah kami hampir terlambat. Kamu apa sopir sudah siap? " sahut Louis sambil bertanya pada seorang pelayan.
"Sudah Tuan Muda Louis." jawab pelayan tersebut.
Keduanya pun pergi meninggalkan semuanya.
Dalam perjalanan Juan tampak khawatir.
"Louis. Nenek itu seperti apa? " tanya Juan dengan perasaan was was.
Digenggam nya dengan lembut tangan Juan dan di cium dengan pelan.
"Anda tidak perlu khawatir, Nenek orang sangat lembut walau sedikit tegas tapi tidak sedingin Papa kok. " jawab Louis dengan lembut.
Juan hanya terteguk tak percaya melihat apa yang di lihatnya. Bukan hanya Juan, sang sopir pun juga sama saat melihat dari kaca mobil.
"Baru kali ini Tuan Muda Louis bertingkah seperti itu. " batin sang sopir heran.
"Satu lagi. Nenek adalah seorang pria yang sangat cantik dan anggun. Saya percaya Anda juga bisa seperti itu. " lanjut Louis.
"Nenek seorang pria? " tanya Juan heran.
"Iya, hanya saja beliau tidak bisa hamil, tapi beliau memakai jasa pinjam rahim jadi gen Kakek lah yang lebih kental menurun pada Papa. " jelas Louis.
Juan menunduk.
"Kenapa? " tanya Louis.
"Juan menjadi sedikit khawatir. " jawab Juan pendek.
Segera di angkat dagu Juan di tatap nya wajah Juan lekat lekat, dan dilumat pelan bibirJuan dengan pelan. Tentu saja Juan terkejut bukan main, tapi bukan nya menghindar Juan malah terlena dan ikut membalas nya. Sehingga Louis meraih tengkuknya dan memperdalam ciuman dan akhirnya terlepas saat Juan memukul pelan dada Louis.
"Ah maaf, saya terlalu kelewatan. " ucap Louis saat tersadar.
"Tidak, kamu tidak salah kok. " ucap Juan sambil tersenyum manis.
"Sekarang Anda sudah tenang kan? " tanya Louis sambil mengelus lembut pipi Juan.
Juan hanya mengangguk pelan.
Sopir yang dari tadi terdiam ternyata menyimpan rasa malu dan terkejut juga melihat kedua majikan nya bercumbu di dalam mobil.