
Hari hari terlewat begitu saja, dengan penuh perhatian Mattheo merawat Juan. Dan melarang siapa pun untuk membantu nya merawat Juan. Perhatian Mattheo membuat Juan semakin luluh. Hatinya yang dingin semakin mencair, rasa cinta yang dulu tertutup es mulai mencair, pintu yang dulunya ia tutup rapat rapat mulai terbuka kembali. Ya... Juan terpesona oleh Mattheo. Bukan hanya terpesona dengan ketampanan nya, tapi terpikat dengan rasa nyaman dan perhatian yang di berikan oleh Mattheo kepada dirinya. Juan mulai jatuh hati lagi lagi dan lagi.
Tapi tidak dengan Mattheo. Mattheo memberikan perhatian, dan rasa nyaman tanpa ada perasaan apa pun. Mattheo merawat Juan dengan penuh perhatian karena merasa berterimakasih atas apa yang pernah Juan lakukan pada nya. Cinta bertepuk sebelah tangan itu yang sebenarnya terjadi. Hanya saja karena merasa di perhatian lebih, merasa di spesial kan membuat Juan tak bisa membedakan apa itu cinta atau hanya sekedar ucapan terimakasih.
Bukan Mattheo tak tahu atau tak sadar dengan perasaan Juan, hanya saja rasa trauma akan kehilangan kekasih masih membekas di hati Mattheo. Mattheo sendiri masih enggan untuk membuka kembali pintu hatinya.
Pagi itu mentari mulai naik dan meninggalkan peraduannya. Seperti biasa Juan telah kembali beraktivitas walau masih merasakan sedikit nyeri baik di tangan maupun di pahanya. Sedangkan luka cambuk sudah mulai sembuh.
"Tuan Juan biarkan kami saja yang menyelesaikan menyimpan sarapannya. Tangan Anda masih terluka. " ucap salah satu pelayan itu.
"Tidak apa apa, hari ini Juan ingin menyiapkan sarapan untuk semuanya. " ucap Juan sambil tersenyum manis.
Para pelayan yang berada di dapur mulai tersenyum senang melihat Juan kembali hangat seperti dulu. Usai menyiapkan semaunya Juan melepaskan celemek dan menggantungkan kembali ketempat semula.
"Kalian tolong sajikan semua diatas meja makan, dan bangun semua yang masih tertidur atau panggil mereka untuk bersiap siap sarapan pagi." perintah Juan.
Sedangkan dirinya sendiri segera keluar dari dapur dan naik ke lantai atas menuju kamar Mattheo tepat nya.
Dengan pelan Juan mengetuk pintu kamar Mattheo. Merasa tak ada sahutan Juan membuka pintu kamar Mattheo. Dan benar saja Mattheo masih tertidur pulas di atas ranjang nya dengan posisi tidur tengkurap memeluk bantalnya, dengan selimut masih berada di tubuhnya menyelimuti bagian pinggang ke bawah, sedangkan punggungnya terekspos sempurna. Secara Mattheo tidur tanpa memakai piyama atau kaos untuk menutup tubuh nya.
Juan mengamati punggung Mattheo. Terlihat jelas bekas luka akibat cakaran dari Leopard. Dengan pelan Juan menghampiri dan duduk di tepi ranjang Mattheo.
Diraba secara perlahan karena takut membangunkan si empunya. Juan meraba dari atas hingga ke bawah tepat dibagian pinggang paling bawah.
"Maafkan Leopard ya. Karena kemarahannya dan rasa cemburu nya hingga membuat punggung Theo yang putih dan kekar mempunyai bekas yang tak bisa hilang. " ucap Juan lirih.
Juan tak sadar jika Mattheo sebenar sudah terbangun disaat dia merasa ada yang menyentuh dan meraba punggung nya dengan sangat lembut.
"Apa yang harus Juan lakukan agar ini menjadi tak nampak. " lanjut Juan lirih.
"Carikan saya Tatto artistik terbaik untuk menutup bekas luka ini. " ucap Mattheo sambil menoleh ke arah Juan.
Tentu saja itu membuat Juan terkejut dan menarik tangannya kembali. Wajah Juan kini merona karena malunya bukan main. Saat hendak beranjak dari ranjang Mattheo dengan sigap Mattheo meraih tangan Juan.
"Anda akan pergi kemana? “ tanya Mattheo sambil tersenyum.
"Apa Anda akan lari setelah memprovokasi saya?. " tanya Mattheo lagi.
"Ti... Tidak. Itu... Anu.... Emmm.... Sarapan sudah siap. " ucap Juan gugup bercampur malu sendiri.
Mattheo semakin senang mengganggu Juan.
"Apa hanya itu saja?. " goda Mattheo sambil tersenyum senang.
"I.... Iya... " jawab Juan lirih sambil menyembunyikan rasa malunya.
Dengan cepat Juan melepas pegang tangan Mattheo dan berlalu sambil sedikit berlari. Mattheo hanya mampu tertawa kecil melihat tingkah Juan.
Diluar kamar Mattheo Juan berlari dengan muka merah merona menahan malu.
"Haaa... Dasar bodoh kenapa gak sadar kalau dia sudah bangun. Mana ada orang yang disentuh gak bangun bangun. Juan Juan bikin malu aja. " omelnya tak karuan sambil menuruni anak tangga.
Yang kemudian bergabung dengan yang lainnya di meja makan. Bella menatap aneh kearah Juan yang masih terlihat warna merahnya di telinga Juan.
"Kak Juan baik baik saja kan. Apa Kakak demam? " ucap Bella menatap Juan.
Seketika yang lain ikut menoleh dan menatap khawatir.
"Ohh kirain Bella, Kak Juan sakit. Habisnya itu telinga merah sekali. " ucap Bella lagi.
"Bella. Juan baik baik saja oc. " sahut Juan sedikit kesal.
Tak lama kemudian Charles dan Kenzo bergabung dengan yang lain juga.
"Juan kemana Mattheo? " tanya Kenzo.
"Seperti masih di kamar nya, Yah. Tadi Juan sudah bangunin dia, sebentar lagi juga turun. " jawab Juan.
Pelayan pelayan mulai menghidangkan sarapan paginya di atas meja. Juan menatap dan sedikit membantu. Sesaat Juan sedikit bingung, karena makanan yang dibuat untuk tidak ada.
"Pelayan. Mana salad yang tadi Juan buat? " tanya Juan bingung.
"Kenapa malah menjadi bubur? " Juan menatap semangkuk bubur yang ada di depannya.
"Tuan Muda Mattheo yang meminta saya menyiapkan bubur ini untuk Anda. " jawab Pelayan untuk sedikit ragu ragu.
"Kapan Dia meminta nya?. Perasaan dari tadi Dia ada di kamar dan belum juga turun dari tempat tidur nya?. " ucap Juan lagi.
"Kemarin malam sebelum tidur Tuan Muda Mattheo meminta kami membuatkan bubur itu. " jawabnya.
"Juan sudah makan saja jangan banyak protes. " tegur Kenzo.
"Tapi Yah... " sahut Juan.
"Juan nikmat yang ada didepan Anda. " sahut Charles.
Tak lama kemudian Mattheo turun dengan santai dan duduk begitu saja sambil melirik kearah Juan yang dengan enggan menyantap sarapan yang ada di depannya.
"Itu makanan untuk dimakan, bukan untuk dibuat mainan. " ucap Mattheo tanpa rasa bersalah.
Yang lain hanya bisa tertawa kecil melihat ulah Juan yang kembali kekanak-kanakan.
"Tertawa saja kalian." sungut Juan kesal.
"Theo. Juan sudah sehat dan gak sakit lagi. Apa apaan ini bubur dan segelas susu. Ayolah Juan bukan anak kecil astaga. " keluh Juan tak senang.
"Jangan banyak protes. Habiskan sarapan kamu setelah itu kita berangkat. " perintah Mattheo tanpa melihat.
"Tapi hari ini Juan mau makan salad sayur. " rengek Juan tanpa sadar.
Semua yang sedang menikmati sarapan pagi terkejut mendengar rengekan Juan. Karena baru kali ini Juan merengek seperti anak kecil. Semua mata menatap kearah Juan tak terkecuali Kenzo dan Charles. Sedangkan pelayan yang sudah cukup lama melayani semua juga terkejut.
"Ayolah Theo. " rengek Juan lagi tanpa dia sadari semua mata menatap nya.
"Juan. Salad Anda saya buang. " ucap Mattheo sambil meletakkan sendok dan menatap ke arah Juan.
"Bagus makan salad sayur di pagi hari, tapi salad Anda penuh dengan bubuk cabai. Jadi makan bubur itu, habiskan. " perintah Mattheo.
"Lihat semua memandang Anda. " lanjut nya sambil kembali menikmati makanan dan tersenyum tipis.
Seketika itu Juan tersadar dan menatap kesemua orang. Tampak jelas semburat warna merah menghiasi pipi bahkan tengkuk Juan. Juan pun tak banyak bicara lagi dan mulai memakan buburnya. Melihat tingkah Juan yang malu gelak tawa pun terdengar di meja makan.
"Sudah jangan tertawa kalian. " pekik Juan sedikit marah bercampur malu.