Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Hasil yang begitu cepat



Siang pun datang tanpa permisi. Tak lama pun terdengar suara pintu di ketuk.


Tok tok tok


"Tuan muda, ini sudah siang. Sudah waktunya makan siang. " ucapnya ternyata Jhony yang membangunkan istirahat nyenyak mereka.


"Iya Jhon. Bawa kesini saja makan siangnya. " sahut Louis yang mulai terbangun.


Ditatap nya wajah Juan yang masih tertidur pulas karena kelelahan.


"Ternyata Anda manis juga. " di usap ringan wajah Juan seakan-akan enggan untuk membangunkannya.


Juan menggeliat pelan, tapi..


"Ahk... Sakit... " rintih nya kemudian.


"Kenapa dengan Anda. ? " tanya Louis khawatir.


"Sakit. Yang ini? " Juan mulai terbangun dan menunjukkan hole nya.


"Hahahaha... Saya kira ada apa. Ternyata itu ya. " ucap Louis sambil tertawa renyah.


Baru kali ini Louis tertawa seperti itu. Juan hanya mampu memanyunkan mulutnya. Dan di sambut kecupan lembut dari Louis.


"Jangan pernah manyun seperti itu. Saya tak sanggup melihat nya, ingin rasanya saya menggigit Anda lagi. " ucap Louis sembari menatap lembut Juan.


Juan hanya tersenyum manis.


"Permisi Tuan, Nona. Makan siangnya. " Ucap jhony yang tiba tiba datang.


"Letakan di meja baca. Saya akan mandi dulu. " perintah Louis.


Jhony pun segera meletakkan makan siang keduanya dan pergi berlalu dengan senyum merekah di wajahnya. Ya, laporan yang nantinya akan di berikan oleh Sang Nyonya Tua Besar. Sebuah berita yang ditunggu oleh Sang Nenek.


Setelah kepergian Jhony, segera Louis menggendong Juan ke kamar mandi itu membersihkannya sisa sisa semalam. Dan berlanjut dengan makan siang. Rencana mereka selepas makan siang akan segera pulang. Tapi Sang Nenek tidak memberi ijin, hingga sore hari mereka baru beranjak pulang. Di perjalanan Juan merasa sedikit aneh tapi itu tak dihiraukan oleh Juan.


"Louis bisa kan mampir ke cafe sebentar nanti. " pintah Juan.


"Cafe, apa Anda merasa lapar? " tanya Louis bingung.


"Enggak juga, tapi Juan ingin makan sesuatu yang segar. Es krim misalnya sama spagetti. " ucap Juan lirih.


"Baik lah. " Louis mulai membelok kan mobilnya karena tak jauh dari sana ada cafe.


Usai memarkirkan mobil segera keduannya keluar dari mobil dan mencari tempat duduk. Louis pun memanggil seorang pelayan, tak berapa lama pelayan datang dan mulai melayani keduanya. Awalnya Juan tampak biasa biasa saja tapi saat seorang pelayan yang berbeda mengantarkan makanan yang mereka pesan barulah Juan mulai gelisah.


"Ada apa dengan Anda? " tanya Louis.


"Baunya membuat Juan mual. " jawab Juan singkat, sambil menutup hidung.


"Bau apa? " ucap Louis bingung.


"Parfumnya menyengat, perut Juan jadi mual. " ucap Juan mulai memucat.


"Maaf, bisakah Anda segera pergi dari sini. Aroma Anda membuat kekasih saya tidak nyaman. " ucap Louis dingin.


Juan segera beranjak dari duduk dan berlari semak semak dan mulai memuntahkan apa yang dia makan sebelum pulang tadi. Louis segera menghampiri.


"Bagaimana kondisi Anda? " tanya Louis.


Louis segera membantu Juan untuk bangun dan membantunya duduk dikursi.


"Entah saya juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Anda. " ucap Louis.


"Dasar anak muda jaman sekarang. Anak muda istri kamu sekarang sedang hamil, coba lah ajak dia periksa bukanya malah di ajak jalan jalan malam hari. Tidak baik untuk bayinya. " ucap seorang wanita paruh banyak menghampiri dan memberikan sebotol air putih.


"Terimakasih Nek, " ucap Juan sambil menerima air putih.


Kemudian terkejut seketika dan memandang Louis dengan tatapan tak percaya.


"Louis..... " ucap Juan lirih.


"Kita pulang sekarang. " ajak Louis.


Juan hanya mampu mengangguk pasrah. Sebagian tubuh sedikit terasa panas, tepat di bagian perut. Juan memegang perutnya dengan sedikit menekan. Louis menyadari itu.


"Ada apa dengan Anda?" tanya Louis.


"Tidak ada apa apa. " jawab Juan lirih dan menatap tajam pantulan dirinya di kaca mobil.


"Juan kalau memang di perut Anda ada kehidupan apa yang akan Anda lakukan.? " tanya Louis sedikit berhati hati.


"Menjaganya, walau nyawa taruhannya. " jawab Juan tegas.


Louis mencengkram erat kemudi mobilnya.


"Kalau seandainya janin itu di gugurkan? " tanya Louis.


"Maka Juan akan turut serta pergi bersama janin ini. " jawab Juan menatap Louis dengan tatapan dingin.


"Apa maksud dari pertanyaan mu itu Louis? " tanya Juan dengan nada tak suka.


"Juan tetap lah hidup, tapi gugurkan kandungan mu, kalau itu memang ada. " jawab Louis tanpa melihat Juan.


Juan terkejut bukan main.


"Tidak. Tidak akan pernah Juan bunuh baby ini kalau memang ada. " jawab Juan dengan emosi.


"Tapi Juan, saya tidak ingin terjadi apa apa dengan Anda. " ucap Louis penuh khawatir.


"Louis. Juan tahu betul seperti apa kondisi Juan. Jika hal buruk terjadi selama Juan hamil maka akan Juan gugurkan bayi ini. " jelas Juan lirih.


"Ingat Juan, jika terjadi sesuatu dengan Anda dan dia masih hidup. Maka dia akan menyusul Anda dengan tangan saya sendiri. " pintah Louis dengan menekan emosi.


"Kita langsung pulang, jangan bilang papa dulu. Biar saya yang berbicara dengan Papa nanti. " jelas Louis.


Juan hanya mengangguk pasrah.


Sesampainya di rumah mereka berdua langsung masuk di saat Juan hendak naik ke atas Louis mencegah Juan untuk naik.


"Anda pindah saja di bawah, naik ke lantai atas tidak baik untuk tubuh Anda. " perintah Louis.


"Tapi semua barang yang Juan butuhkan ada di kamar. " jelas Juan.


"Pelayan, segera bersihkan kamar tamu yang paling luas. Dan kalian ber empat segera ambil barang barang saya dan juga Juan kekamar yang Dia bersihkan. " perintah Louis kepada beberapa pembantu.


Semua pembantu yang di perintahkan segera menurutinya. Louis pun meminta Juan untuk istirahat di ruang TV, ternyata disana sudah ada Viona dan juga Sella yang sedang asyik bercengkrama. Kedatangan Juan dan Louis membuat mereka terkejut dan salah tingkah.