
"Oh tidak apa apa, ini sudah biasa kok. " jawab Sennan dengan senyum yang di paksakan.
Juan menatap tak percaya kearah Sennan, tapi enggan untuk menanyakan lebih jauh lagi. Perbincangan ringan terjadi antara Sennan dan juga Juan. Mattheo hanya menatap dari kaca mobil mengamati keduanya. Tak lama kemudian mobil masuk ke kawasan elite dan berhenti di sebuah villa mewah. Tanpa menunggu di bukakan pintu oleh Mattheo, Sennan turun dari mobil dan menghampiri Mattheo yang duduk di kursi depan.
"Terimakasih untuk makan malamnya semalam." ucap Sennan sambil membungkukkan badannya agar lebih mudah menatap kearah Mattheo.
"Masuklah kedalam dan beristirahat lagi. Anda masih terlihat lelah. " sahut Mattheo sambil tersenyum tipis.
"Iya. Ingat jangan terlalu lelah ya. " ucap Sennan.
Mattheo hanya mengangguk kepala dan memberikan kecupan ringan di keningnya. Melihat itu Juan semakin sakit hati dan hanya mampu menghembuskan napasnya. Mobil kembali melaju meninggalkan kawasan itu. Sesampainya di perusahaan Juan langsung turun tanpa menunggu Sopir membukakan pintu. Melihat CEO mereka datang segera penjaga pintu membuka lebar lebar pintu, dan keduanya segera masuk kedalam. Seperti biasa kedatangan bos besar mereka selalu menjadi hiburan tersendiri bagi para karyawati disana.
Belum juga Juan meletakkan pantatnya dan membuka laptopnya telpon meja nya berdering.
"Juan segera datang ke ruangan saya. "📠perintah Mattheo.
Panggilan terputus begitu saja tanpa menunggu jawaban Juan.
"Kenapa gak dari tadi bilang. Baru juga masuk keruangan, dasar orang kurang kerjaaan. " ucap Juan sambil menatap telpon meja.
Tanpa menunggu panggilan kedua Juan segera keluar dan mendatangi ruangan Mattheo. Tanpa mengetuk pintu Juan langsung masuk kedalam.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan. " ucap Juan sedikit kesal.
"Tidak bisa kah Anda mengetuk pintu dulu sebelum masuk keruangan saya. " ucap Matteo datar.
"Haruskah.. " sahut Juan malas.
Mattheo menatap malas.
"Buatkan saya secangkir kopi. " pintah Matteo tanpa menatap Juan.
Juan terteguk tak percaya, seperti dejavu buat Juan.
"Theo. Apa guna nya office boy atau office girl di kantor kalo kamu masih meminta Juan buatin secangkir kopi. " ucap Juan.
Mattheo tersenyum tipis.
"Kopi buatan Anda lebih enak dari pada kopi buat mereka. " jawab Mattheo menatap kearah Juan.
"Haaa..... " hela napas panjang Juan dan kemudian berlalu dari hadapan Mattheo.
"Entah kenapa senang rasa nya menggoda Anda Juan. " guman Mattheo.
Juan pun menuju pantry untuk membuatkan Mattheo secangkir kopi, dan Juan pun ikut membuat untuk dirinya sendiri. Kemudian kembali ke ruang Mattheo. Ditatap nya lekat wajah Mattheo.
"Ini kopi kamu. " ucap Juan lirih.
Waktu berlalu begitu saja, kedekatan keduanya tak pernah berubah. Terkadang Juan merasa cemburu ketika Mattheo dengan sengaja memamerkan kemesraannya dengan Sennan. Tetapi tak jarang pula Mattheo menujukan perhatian yang lebih kepada Juan. Hingga suatu malam...
"Theo... " panggil Juan.
Seketika Mattheo terkejut dan menoleh kebelakang.
"Haa... Anda membuat saya terkejut saja. " ucap Mattheo dan kembali menatap gelapnya malam sambil menghisap sebatang rokok.
"Bisa Juan berbicara sebentar ? " tanya Juan mendekat ke arah Mattheo dan bersandar di pagar balkon.
"Silakan. " sahut Mattheo sembari menghembuskan asap rokok.
"Sebenarnya seperti apa arti Juan buat kamu? " ucap Juan menatap lekat wajah Mattheo.
Mendengar pertanyaan Juan, Mattheo segera mematikan rokoknya dan memandang wajah Juan.
"Kenapa Anda menanyakan hal itu? " sahut Mattheo balik bertanya.
"Sikapmu membuat Juan bingung dan serba salah. Ada saatnya kamu dingin, tapi dilain waktu sikapmu hangat. Terkadang kau memberi ku harapan lebih tapi di suatu waktu kau juga menghempaskannya seketika juga. " jelas Juan.
"Jangan permainkan perasaan saya. " ucap Juan lirih sambil menunduk.
"Apa Anda jatuh hati pada saya, Juan? " tanya Mattheo sambil mendekat kearah Juan.
Diangkat nya dagu Juan dengan lembut. Juan menatap bola mata Mattheo yang tajam tapi sangat menghanyutkan. Juan seakan akan tenggelam dalam tatapan Mattheo. Tanpa sadar Juan mengangguk kepalanya. Mattheo tersenyum tipis.
"Bukankah Anda tahu saya ini seorang play boy. Tidak takutkah Anda nantinya akan saya duakan. " ucap Mattheo lagi.
"Bukan sekali dua kali Juan melihat kamu berjalan dengan pria atau wanita lain. Sakit tentu saja, tapi jujur rasa cinta ini lebih besar dari rasa cemburu itu. " sahut Juan tanpa berhenti menatap mata Mattheo.
"Haaa.... Juan. Kenapa Anda begitu bodohnya memberikan cinta Anda pada saya. " keluh Mattheo.
"Haruskah ada alasan untuk memberikan cinta pada seseorang. " ucap Juan.
"Theo, maukah kau jadi kekasih Juan? “ ucap Juan lirih.
Mattheo menatap mata Juan. Mattheo tahu tatapan itu tak pernah berbohong, Diapun ingin menjadikan Juan kekasihnya.
" Juan. Anda tau sendiri ada Sennan disisi saya." ucap Mattheo.
"Tapi tak jadi masalah kan menambah satu kekasih lagi. " jawab Juan.
"Dasar keras kepala. " ucap Mattheo sambil tersenyum.
"Baiklah, tapi saya tak suka orang yang pencemburu. Anda sudah tahu saya kan. " ucap Mattheo.
Juan menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Mattheo memeluk Juan sambil menghela napas panjang.
~" Ternyata tak bisa lepas juga. "~ ucap Mattheo dalam hati.