Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Sebuah kejutan



(Kamar Louis)


Keesokan harinya saat Louis terbangun.


"Juan.... " terkejut karena Juan sudah tak ada di kamarnya.


Segera beranjak keluar kamar, disaat hendak mencari tak berapa lama Juan datang dengan kondisi sangat kotor dan penuh luka .


"JUAN..... " teriak Louis dengan marah.


Hingga membuat Juan dan beberapa pelayan terkejut bukan main.


"Kenapa sih teriak teriak bikin kaget saja. " gerutu Juan.


"Kamu bisakan bawakan p3k kemari. " ucap Juan.


Pelayan yang di minta segera mengambil kan kotak p3k. Dan segera Louis mengambil kotak tersebut dari pelayan kemudian menarik tangan Juan untuk kembali kekamar.


"Louis, pelan pelan kenapa, sakit ini? " rintih Juan.


Saat tiba di kamar.


"Sakit. Ini sakit?? Lalu tadi sakit apa tidak?? Saat Anda pergi tanpa permisi dan pulang dengan keadaan seperti ini apa tadi anda memikirkan nanti sakit apa tidak? " tanya Louis dengan geram.


"Juan harus melakukan semua ini. Kalau tidak Papa akan curiga. " jelas Juan.


"Curiga!!! Anda ingin mempertahankan janin itu tapi anda tidak menjaga kondisi anda dengan baik. Lebih baik gugurkan kandungan anda dengan begitu anda bisa bebas keluar di tengah malam dan pulang dengan tubuh penuh luka seperti ini. " ucap Louis dingin.


"Maaf. " ucap Juan lirih.


Louis segera menutup pintu kamar.


"Lepas baju anda sekarang juga. " perintah Louis.


Tanpa berpikir panjang Juan segera melepaskan bajunya dan terlihat jelas luka di tubuh alex, tapi anehnya sedikit demi sedikit luka itu mulai mengering. Louis terkejut tapi pura pura tidak tahu, dengan pelan Louis membersihkan kotoran lumpur dan sisa sisa darah. Kemudian mengobati luka luka yang ada.


Waktu terus berjalan, serapi apapun Juan mencoba menutupinya tapi semua terbongkar juga.


Pagi itu di saat semua sedang menikmati sarapan pagi, tiba tiba selera makan Juan hilang saat melihat menu di depannya, sebuah sereal dan segelas susu. Juan merasa mual segera dia berlari kedapur dan menuju ke wastafel.


Karena tak ada yang di muntah kan perut Juan merasa sedikit kram.


"Ugh, Louis. " teriak Juan.


Segera Louis beranjak dari kursi dan menghampiri Juan. Ternyata Kenzo mengikutinya, sedangkan yang lain hanya diam dan melanjutkan makannya karena perintah dari Kenzo. Kenzo sendiri hanya melihat dari kejauhan untuk memastikan kalau kecurigaannya selama ini salah.


"Juan, Anda kenapa? " tanya Louis khawatir.


"Perut Juan sakit banget, tidak ada yang Juan muntah kan. " keluh Juan sambil memeluk Louis.


"Kalau begitu kita kekamar saja, hari ini Anda tidak perlu datang kekantor. Tidak ada yang penting juga di kantor. " ucap Louis.


Juan mengangguk setuju. Saat hendak berjalan, tanpa persetujuan Juan, Louis langsung menggendongnya. Juan hanya mampu menatap pasrah. Kenzo segera menghampiri mereka berdua.


"Apa yang terjadi pada Juan, Louis? " tanya Kenzo saat tepat di depan keduanya.


"Juan hanya terlalu capek Ayah. Ayah tidak perlu khawatir. “ jawab Louis memcoba mengalihkan perhatian.


"Louis. Apa kamu fikir Ayah anda ini orang yang bodoh. Sebaiknya kalian berdua bercerita atau nanti saya sendiri yang akan mencari tahu. " ucap Kenzo menekan amarah nya.


"Ayah, jangan di bahas disini. Lebih baik kita kekamar saja. " ucap Juan sambil menahan rasa sakit di perutnya.


"Kamu, telpon dokter Alferdo segera. " perintah Kenzo.


"Dan kalian berdua jelaskan pada saya di kamar sekarang juga. " pinta Kenzo dan berlalu mendahului mereka.


Juan dan Louis mengikuti dari belakang. Yang lain hanya mampu menatap dari kejauhan serta bertanya tanya apa yang terjadi dengan abangnya yang satu ini. Karena waktu sudah mengharuskan mereka untuk beraktivitas, mereka hanya mampu menyimpan pertanyaan untuk nanti saat mereka sudah pulang dari aktivitas masing-masing.


Tak lama kemudian Alferdo datang. Seorang pelayan mengantarnya ke kamar tamu, tentu saja itu membuat Alferdo sedikit bingung siapa tamu yang sedang sakit. Saat masuk kedalam terlihat Juan sudah semakin pucat karena menahan rasa sakit di perutnya, sedangkan Louis tampak sangat khawatir sambil mengelus perut Juan dengan pelan.


"Ada apa lagi dengan Dia? " tanya Alferdo bingung bercampur heran.


"Baiklah." ucap Alferdo.


Segera Alferdo memeriksa Juan, walau masih merasa ragu Alferdo terkejut bukan main.


"Lebih baik bawa Juan ke rumah sakit saja untuk lebih memastikannya lagi. " saran Alferdo.


Dan sementara Juan hanya di beri pertolongan pertama untuk meredakan rasa nyerinya.


"Apa separah itu Alferdo? " tanya Kenzo khawatir.


"Bukan itu masalah, saya hanya ingin memastikannya saja. " jawab nya sambil memandang Louis.


Louis hanya mampu menghela nafas panjang.


"Lebih baik di sini saja, bukan kah disini juga selengkap di Rumah Sakit Papa. " usul Louis.


"Baiklah kalau itu mau Anda. Bawa dia kesana sekarang. Saya akan memanggil beberapa orang dan suster untuk merawatnya. " ucap Alferdo.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Juan, adakah yang akan memberitahukannya pada saya. " ucap Kenzo mulai tak sabar.


"Juan hamil. Tapi saya akan memeriksanya lebih teliti lagi untuk memastikannya. " jawab Alferdo.


Kenzo terkejut bukan main dan menatap Louis tak percaya.


"Apa yang terjadi pada kalian sebenar. Bagaimana mungkin ini terjadi? " tanya Kenzo tak percaya.


"Ini salah Saya. Juan menjadi korban disini, tapi saya akan bertanggungjawab. " jawab Louis.


"Lebih baik nanti saja, kita harus memindahkan Juan segera. " potong Alferdo.


Louis segera membopong Juan dan keluar dari kamarnya menuju sebuah lorong rahasia. Dan ujung lorong itu menuju tempat di mana Felix pernah di tempat kan untuk mendapat perawatan.


Direbahkannya Juan di ranjang. Dengan seksama Alferdo memeriksa perut Juan, dan benar saja terpampang di layar segumpal janim berdiam dengan nyaman di perut Juan.


"Juan mengalami kram perut, itu tidak baik untuk dia dan janin nya, jangan buat dia terlalu lelah, stress . Sementara biar dia rileks dulu satu lagi asupan nutrisi sangat penting untuk Juan dan janinnya. " jelas Alferdo.


"Louis jelaskan apa yang terjadi? " tanya Kenzo kembali.


Louis pun menceritakan apa yang terjadi dirumah Nenek Ellworth. Kenzo hanya mampu menghela nafas panjang tak tahu harus berkata apa.


"Apa Charles sudah tahu ini? " tanya Alferdo.


"Papa belum tahu, kami masih mencari waktu yang pas untuk memberitahukan pada Papa. " jawab Louis.


"Akan Ayah bantu untuk bicara dengan Papa kamu? Tapi semua keputusan ada di tangan Papa kamu. " ucap Kenzo.


Louis hanya mampu mengangguk pasrah. Tak lama kemudian Juan terbangun


"Ada apa dengan Juan? " ucapnya


"Kamu kram perut dan itu tak bagus untuk bayimu sementara istirahat dulu disini. " nasehat Kenzo.


"Ayah, maaf. " ucap Juan terkejut saat tahu Kenzo ada disana.


"Louis sudah cerita semua. Nanti Ayah bantu bicara dengan Papa, tapi semua keputusan ada di tangan Papa. Kamu istirahat saja dulu. Dan ah ya kamu belum makan, kamu mau apa? " tanya Kenzo.


"Juan, mau spagetti dan es krim stroberi. " jawab Juan lirih.


"Es krim tidak baik buat perut yang lain saja. " tegur Louis.


"Tapi Juan mau es krim. " gerutu Juan.


"Louis jangan berdebat belikan saja. " perintah Kenzo.


"Bener apa yang di bilang Kenzo belikan saja. " sahut Alferdo yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Waktu berjalan sangat lambat bagi Juan, kehadiran benih di dalam perut Juan membuat Juan susah untuk bergerak. Semakin Juan merasa lemah saat itu juga membuat Lucifer sedikit demi sedikit menguasai Juan. Adakala Juan berubah sikap sedikit kasar dan ada kalanya lembut seperti sosok apa adanya Juan. Louis yang selalu mengamati itu sedikit merasa was was, takut kalau terjadi sesuatu dengan Juan. Sering kali terjadi perdebatan tentang bayi yang ada di perut Juan. Juan sadar bayi itu sedikit banyak menguras energinya, dan membuat nya berubah karena Lucifer sendiri tidak menginginkan kehadiran bayi itu.