Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Rasa rindu dan kecewa



Juan kembali ke ruangannya dengan hati yang benar benar kesal. Baru kali ini Juan merasa diremehkan.


"Haaa.... Ada ada saja. Bukannya memanggil office Boy malah manggil Juan. Dikiranya Juan tidak ada kerjaan apa. Dasar aneh. " keluh Juan.


Akhirnya Juan pun kembali dengan segala aktifitas yang ada. Semua berjalan dengan semestinya. Hingga jam kerja berakhir. Usai dengan segala pekerjaan yang ada Juan segera membereskan meja dan meninggalkan ruangannya dan menghampiri ruangan Mattheo.


Tok tok tok..


"Masuk." jawab Mattheo datar.


Juan segera masuk kedalam dan menghampiri Mattheo yang mulai bersiap siap juga.


"Mattheo,... " panggil Juan belum selesai Juan meneruskan ucapan nya.


"Tidak bisakah Anda menunjukkan rasa hormat Anda kepada Atasan Anda. " sela Mattheo.


"Tuan Mattheo. Anda bisa pulang sendiri tanpa Juan. Juan akan pulang dengan taxi karena ada tempat yang harus Juan tuju. " jelas Juan dengan sopan.


"Tidak. Saya akan mengantarkan Anda ketempat yang Anda tuju. Dan kita akan pulang bersama. " tolak Mattheo sambil merapikan jas nya.


Kemudian berlalu dari hadapan Juan


"Terserah lah. " sahut Juan datar mengikuti dari belakang.


Sesampainya di depan lift Juan segera menekan tombol dan membiarkan Mattheo masuk terlebih dahulu.


Tak berlangsung lama pintu lift kembali terbuka dilantai bawah, segera Mattheo keluar dan diikuti Juan.


Suasana masih sama seperti tadi pagi, para karyawan memperhatikan keduanya dengan kagum.Beberapa manager dan asisten menghampiri lalu memberi salam.


"Pak Direktur, Tuan juan" panggil mereka sopan.


Mattheo menatap para manager dan asitennya.


"Apa saya setua itu sampai dipanggil pak?" sungut Mattheo sebal.


Para Manager menatap canggung.


"haih, sudahlah Tuan Mattheo anda jangan mempermasalahkan hal yang sepele" Jengah Juan kesal.


Mendengar itu Mattheo semakin sebal dan berlalu meninggalkan Juan dan para Manager.


Wajah para Manager terlihat merasa bersalah hingga agak pucat, melihat itu Juan menghela nafas.


"sudahlah jangan dipikirkan lagi, lain kali panggil dia tuan muda" ucap Juan sambil berlalu.


Raut wajah para manager membaik lalu tersenyum.


~"segila itu dia hingga mempermasalahkan hal sekecil ini. "~ Batin Juan.


Saat kaki Juan sudah diluar perusahaan, terlihat mobil Mettheo terparkir tepat didepannya.


~"ku kira dia akan pergi karna kesal"~ batin Juan lagi sambil menatap mobil.


Didalam mobil Mettheo mulai kesal melihat Juan yang tak kunjung masuk, segera dia membuka kaca mobil


"Apa yang anda bengongkan, cepat masuk jangan buang buang waktu" Ucap Mattheo menyadarkan Juan


"Ah sabarlah, Juan juga tidak minta diantar kan" Ucap juan sekenanya lalu masuk.


"Tuan Juan kita hendak kemana sekarang? . " tanya sopir dengan sopan.


"Asrama. Sudah sangat lama Juan tak bertemu dengan Krish." ucap Juan sambil tersenyum manis.


Sejenak Mattheo terteguk melihat senyum tipis yang terukir di bibir Juan. Sedangkan sang sopir terdiam dan sedikit memucat.


Sopir pun menghela lega. Sopir tahu betul seperti apa asrama itu, dan tak semua orang bisa datang kunjung.


"Krish? " tanya Mattheo.


"Putra ku dengan Aiden. " jawab Juan datar dan hilang sudah senyum itu.


"Krish, cucu kebanggaan Papa yang menjadi pelindung Luca dan Lucia. " guman Mattheo.


Juan hanya terdiam saat mendengar ucapan Mattheo. Tak lama kemudian sampailah mereka di asrama.



Sesampainya di tempat parkir tanpa menunggu sopir membukakan pintu, Juan segera membuka pintu mobil dan keluar. Mattheo yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepala.


Juan tak menunggu Mattheo untuk masuk kedalam bersama. Setelah menemui penjaga pintu Juan segera diarah ke ruang tunggu, dimana tempat mereka akan bertemu, Mattheo mengikuti dari arah belakang.


"Mohon Anda menunggu sebentar. " ucap penjaga dan segera meninggalkan ruangan.


Juan duduk dengan sedikit gelisah berharap cemas menunggu Krishtian datang. Mattheo hanya mengamati dari sisi sofa yang lain.



Tak lama kemudian terlihat sosok pemuda berusia sekitar 14 th masuk keruangan bersama seorang penjaga.


"Tuan Krish waktu Anda hanya 30 mnt, karena masih ada beberapa mata pelajaran lagi yang menunggu. " ucap penjaga.


Krish menganggukan kepala tanda mengerti. Krish menatap ke arah Juan, melihat krish datang segera Juan datang menghampiri dan memeluk erat tubuh putranya. Krish hanya terdiam tak membalas pelukkan Juan. Walau ingin sekali Krish membalasnya tapi diurungkan niatnya itu.


"Bagaimana kabar mu sayang? Apa kamu tidak rindu dengan mommy mu ini? " tanya Juan sedikit kecewa dengan ekspresi yang di berikan Krish pada nya.


"Saya baik baik saja Mommy. Saya juga rindu mommy. " ucap Krish datar.


"Kalau rindu mana pelukan untuk mommy. " ucap Juan sembari mengusap lembut rambut Krish.


Ditatap nya wajah putranya itu dengan seksama. Sejenak Juan terteguk dan menatap lekat kedua matanya.


"Apa yang terjadi dengan mata kamu Krish? Kenapa berwarna merah keduanya? Apa kamu baik baik saja sayang? " ucap Juan panik.


"Mommy, saya tidak apa apa, semua baik baik saja. Hanya saja saya sudah bisa mengontrol iblis yang ada di dalam diri saya. Dia bernama Rizhy, sama seperti lucifer yang ada di tubuh mommy. "


Ditatapnya lekat lekat kedua mata Krish seakan akan tak percaya.


"Percaya lah Mommy semua baik baik saja oke. Baik dia maupun Krish baik baik saja. " jelas Krish tersenyum tipis.


"Baik lah. Maafkan Mommy, karena mommy juga kamu harus menerima beban seberat ini Krish. " ucap Juan.


Krish hanya tersenyum dingin. Juan merasa sangat bersalah, mata yang dulu berbinar dan polos telah hilang berganti dengan mata yang dingin dan lebih dewasa dibandingkan usianya. Juan tahu Krish melewati banyak sekali pelatih yang sangat berat.


"Mommy pulanglah, Saya harus kembali ke kelas. Sebentar lagi kelas saya akan di mulai. " ucap Krish datar .


"Tapi bukankah ini sudah sore Krish. Kenapa masih ada kelas? " tanya Juan tak percaya.


"Jadwal kami padat Mommy, Pangeran Luca dan Putri Lucia sudah menunggu Saya. Permisi Mommy. " ucap Krish sambil melepas pelukan.


"Mom, lain kali kalo kesini jangan terlalu mendadak. Kegiatan saya sangat banyak. " ucap Krish tegas dan berlalu.


Juan hanya mampu terteguk tak percaya dengan ucapan Krish padanya. Mattheo yang melihatnya hanya mampu menghela napas panjang. Mattheo tahu benar seperti apa pendidikan di sini, seketat dan se disiplin apa peraturan disini.


"Lebih baik Anda menyerah. Jangan terlalu berharap untuk bisa bertemu setiap saat dengan putra anda. " ucap Mattheo yang kemudian beranjak dan meninggalkan ruangan.


Mau tak mau Juan mengikuti dari belakang. Sama seperti disaat berangkat, pulang pun suasana tampak hening tak ada suara atau percakapan di antara mereka. Mattheo menjadi semakin jengah dan bosan.