
Suara teriak Juan menggema di castil. Mattheo segera turun dan bergabung dengan yang lainnya dengan sedikit tertatih menahan nyeri dipunggung nya. Kembali terdengar suara cambuk sebanyak 3 kali dari dalam
"Akhhhhh.... Uhuk uhuk uhuk. " pekik Juan yang kemudian menopang tubuhnya dengan kedua tangannya yang gemetar menahan sakit agar tidak jatuh.
"Berlutut yang benar. " bentak Charles.
Juan menuruti apa kata Charles dan kembali berlutut dengan menahan rasa sakit.
"Apa Anda kembali menebar pesona Anda. " ucap Charles sambil mencambuk punggung Juan yang mulai berdarah dengan keras.
"Akhhh.... Ti.... Tidak... Pa... Paaa.... " ucap Juan terbata dan menahan sakit.
Chaaatrrr..... Chaaatrrr.....
Kembali terdengar suara cambukan dan kali ini lebih keras.
"Aaakkkhhh..... Aaaaagrr...." pekik Juan tak tahan dengan rasa sakit bercampur panas yang diterimanya.
Teriakan Juan membuat semua yang mendengar semakin khawatir, tapi tak satupun yang berani menolong Juan. Setelah puas dengan cambukan Charles meletakkan cambuknya di atas meja dan beralih dengan belati.
"Simpan tangan ada di paha Anda. " perintah Charles.
Dengan lemas Juan menuruti permintaan Charles. Charles kembali mendekati Juan dan jongkok didepan Juan.
"Iblis adalah iblis, walau separo iblis Anda sudah saya ikat pesona Anda masih sedikit terpancar. " ucap Charles dingin sambil mengangkat dagu Juan dengan sebilah belati.
"Kesalahan Anda bukan hanya lalai dengan pelihara Anda. Tapi Anda mulai lupa siapa diri Anda yang sebenarnya. " ucap Charles dan langsung menghujankan belati di tangan Juan menembus pahanya.
Sontak Juan berteriak semakin kencang.
"Aaaaaaaaahhkkkkk..... " teriak Juan semakin kencang.
Hingga membuat yang lain menatap kearah pintu dan semakin khawatir. Mattheo terteguk dan terkejut, banyak pertanyaan apa yang terjadi didalam.
"Aakhhhhh...... Panaasssss paaa.... Lepassss." rintih Juan kesakitan.
Bukannya melepaskan Charles memakin menancapkan belati dan sedikit mengoyak.
"Aaaaaaaahhkkk..... " kembali Juan berteriak dan akhirnya jatuh tersimpuh di kaki Charles.
"Cuuu... Kuuuppp... Paaaa.... Sakittt..... " rintih Juan.
"Sekali lagi Anda membuat ulah dan melukai putraku nyawa Anda akan melayang. " ucap Charles datar dan mencabut belati nya dengan sarkas.
"Aaakkkhhh..... " kembali Juan berteriak kesakitan.
Darahnya mengalir dengan deras dari telapak tangan dan paha Juan. Charles kembali duduk disofa tunggalnya dan menyimpan belati di atas meja.
"Masuk kalian. " perintah Charles.
Charles tahu dengan benar apa yang akan dilakukan oleh para anak anak angkat nya. Mereka pasti menunggu dengan cemas didepan pintu kerjanya. Dan benar saja, Bara, Wilmer dan juga Kemal segera membuka pintu dan masuk dengan terburu-buru. Charles menatap tajam kearah ketiganya dan menatap tajam. Mereka bertiga terdiam, karena baru kali ini melihat Charles yang penuh emosi walau sebenarnya pernah melihat juga.
"Bawa Dia dan rawat Dia. " perintah Charles.
Segera ketiganya membopong Juan dan membawanya ke kamarnya. Mattheo ??....
Mattheo terkejut melihat alat yang dipakai Charles untuk menghukum Juan. Karena alat itu biasa dilakukan untuk menghukum Aiden dengan alasan hanya benda itu yang membuat iblis atau makhluk lain selain manusia.
Dengan pelan Bara dan Wilmer membaringkan Juan.
"Aaahhhkk.... " pekik Juan kesakitan saat luka dipunggungnya terkena sprei.
"Buat dia tidur miring" perintah Kenzo.
"Mattheo apa Dokter Alferdo sudah datang? " tanya Kenzo cemas.
"Sebentar lagi sampai Ayah. " jawab Mattheo sambil duduk di tepi ranjang.
"Apa sakit sekali.? " tanya Mattheo sambil mengusap lembut pipi Juan.
"Sedikit." jawab Juan sambil menahan rasa sakit bercampur panas.
"Bertahan lah dulu sebentar lagi Dokter Alferdo datang. " ucap Mattheo.
"Emmm... Iya. " jawab Juan lemah bercampur senang.
Tak tahu yang dirasakan Juan saat ini, usapan lembut Mattheo membuat merasa tenang dan nyaman. Perasaan yang selama ini dia kubur dalam dalam sedikit menggelitik hatinya.
"Mattheo bantu ayah melepas bajunya dan sedikit membersihkan lukanya sebelum Alferdo datang. Dan kalian keluarlah beri Juan udara segar. " perintah Kenzo.
Semua keluar dari kamar Juan, Mattheo membantu Juan melepas baju yang dikenakannya. Mattheo sejenak terteguk melihat tubuh Juan. Warna kulit nya yang putih pucat membuat Mattheo berfikir kenapa Juan selama ini menyembunyikan tubuhnya dengan balutan baju panjang. Selama ini Mattheo lebih sering melihat Juan dengan balutan kemeja panjang, kaos hitam panjang ataupun hoodie. Tak pernah sekalipun melihat Juan mengenakan baju atau celana pendek.
"Kenapa tubuh putih dan semulus ini selalu dia sembunyikan. " ucap Mattheo lirih.
Kenzo menatap reflek kearah Mattheo saat mendengar ucapan Mattheo.
"Apa baru kali ini kau melihat tubuh seorang pria Mattheo? . " tanya Kenzo sambil tersenyum tipis.
"Ayah, tidak bukan seperti itu. Saya hanya sedikit heran saja. " jawab Mattheo terkejut.
"Siapa yang terluka lagi kali ini? " ucap Alferdo tiba tiba saat berada di kamar Juan.
"Kau. Tidak bisa kah memberi salam saat kau masuk. " ucap Kenzo terkejut.
"Maaf maaf. Juan kenapa lagi? Apa suami Anda yang membuat Juan seperti ini. " ucap Alferdo saat berada di samping ranjang Juan.
Lebih tepatnya berada di belakang punggung Juan. Alferdo menatap intens luka di punggung Juan. Bekas cambukan yang memerah, sangat memerah tepat nya dan hampir seperti luka bakar.
"Cambuk itu lagi yang di gunakan Charles? " tanya Alferdo sembari menatap Kenzo.
Kenzo hanya mengangguk lemah. Tak lama kemudian sosok tubuh tegap dengan tatapan dingin datang ke kamar Juan.
"Sampai kapan Anda akan berada di kamar ini.? " orang itu dengan dingin.
Kenzo menatap terkejut, tak hanya Kenzo Mattheo dan Alferdo pun sama.
"Ahh... Emm iya saya akan keluar. " ucap Kenzo sedikit terkejut.
"Dasar pencemburu. " keluh Kenzo lirih.
Alferdo hanya bisa menahan tawa. Kenzo pun beranjak dan menghampiri Charles.
"Sudah simpan cuka mu di dalam perut itu. Ayo kita kekamar saja. " ucap Kenzo lembut dan menggandeng tangan Charles untuk pergi dari kamar Juan.