
"Hahahaha........ " Mattheo tertawa keras tanpa perasaan.
Tawa yang hambar, ditatapnya lekat wajah Juan yang sedikit memucat. Entah karena dingin nya malam, atau terlalu lama menangis, yang pasti wajah Juan sedikit memucat dan tubuhnya merasa lelah. Juan pun menatap wajah Mattheo dengan tatapan penuh dengan arti.
"Juan benar-benar cinta Mattheo. " ucap Juan lirih.
"Lebih baik kita akhir saja hubungan ini Juan. " ucap Mattheo lirih.
"Tidakkkk... Tidak akan. Juan tidak mau. Hiks hiks hiks......Juan tahu Mattheo masih cinta sama Juan. " pekik Juan.
"Cari lah orang yang lebih baik dari saya. " ucap Mattheo tegas.
"Dari pada Juan mencari pengganti kamu. Lebih baik Juan pergi dari hidup ini. " ucap Juan datar.
Mattheo terkejut bukan main tanpa sadar Mattheo menampar pipi Juan dengan keras.
PLAAKK..
satu tamparan mendarat mulus di pipi Juan. Juan hanya mampu mengusap pipinya karena merasa sakit. Bukan pipinya saja yang sakit tapi hati jauh lebih sakit.
"Juan gak akan cari pengganti mu, Juan gak akan pernah mencari yang lain lagi. " ucap Juan datar dan menatap tajam ke arah Mattheo.
"Kau adalah yang terakhir buat Juan. Mattheooooo... " teriak Juan dengan derai air mata.
Mattheo menatap Juan lekat, kali ini tatapannya mulai berubah lembut. Diusap nya pipi Juan yang memerah bekas tamparan nya. Sejenak Mattheo merasa bersalah telah menampar Juan.
"Juan.... Tak bisa Anda melupakan saya.? " ucap Mattheo lirih.
Juan menggelengkan kepala dengan cepat.
"Jangan pergi Theo, jangan tinggal kan Juan sendiri. Juan gak sanggup kehilangan lagi. Juan mohon tetaplah disamping Juan untuk selamanya. Hikss Juan... Juan benar-benar cinta Theo. Juan mohon jangan tinggalin Juan sendiri. " rintih Juan diantara isak tangisnya.
"Juan tidak sanggup kehilangan Mattheo. Lebih baik bunuh saja Juan. " ucap Juan sambil memeluk tubuh kekar Mattheo dan membenamkan wajahnya kepada bidang Mattheo.
"Bodoh. Jika anda bicara seperti itu, saya rasa saya tidak akan mau menerima cinta anda lagi. " ucap Mattheo lirih.
"Tidak lagi, tidak bicara itu lagi. Berjanji lah jangan pernah tinggalkan Juan. Apapun yang terjadi tetaplah disisi Juan, jangan pernah pergi dari sisi Juan. Theo...." ucap Juan memeluk erat Mattheo.
"Iya.... " jawab Mattheo lirih.
"Haaa..... Sudah larut malam sekali ayo kita masuk kedalam. " ajak Mattheo.
"Emm... Iya. Tapi gendong." sahut Juan lirih.
"Kaki Juan lemas, hikss.... Lemas banget. " lanjut Juan.
"Dasar lebay. " ucap Mattheo tersenyum tipis.
Segera Mattheo menggendong Juan ala bridal style dan tersenyum kearah Juan.
"Mattheo jangan pernah pergi dari sisi Juan ya. Tetaplah bersama Juan. " ucap Juan lirih memeluk leher Mattheo.
Mattheo hanya membalas dengan senyuman. Mattheo membawa Juan kekamar Juan dan membaringkan tubuh Juan di atas ranjang nya dengan pelan. Setelah dirasa Juan berbaring dengan nyaman Mattheo beranjak dari ranjang Juan, dengan cepat Juan meraih tangan Mattheo dan menggeleng pelan.
"Tidur sini. Temani Juan. " pintah Juan lirih.
Mattheo menghela napas panjang dan akhirnya berbaring di sisi Juan. Di hapusnya sisa sisa air mata di mata Juan. Diusap pelan pipi Juan yang masih memerah.
"Tidur lah, saya akan tidur disamping Anda. " ucap Mattheo lirih dan memeluk Tubuh Juan yang terlihat menggigil dan masih sesegukan.
"Emmm iya.... Jangan pergi ya. " sahut Juan lirih dan menenggelamkan wajahnya di dada Mattheo.
Mattheo merengkuh tubuh Juan dan ikut terlelap disisi Juan.