Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
???



Sesuai permintaan Charles setelah selesai makan malam, dan semua mulai beranjak meninggalkan meja makan berpindah ke ruang keluarga, sedangkan Queen kembali ke habitatnya. Juan serta Mattheo mengikuti Charles ke ruang kerjanya. Segera keduanya duduk di kursi depan meja baca Charles.


Charles menatap tajam kearah Mattheo sambil menopangkan dagunya dengan kedua tangan nya. Mattheo hanya mampu menunduk.


"Apa alasan Anda menggantikan Grey untuk datang kesini.? " tanya Charles datar.


Mattheo menatap kearah Charles tak percaya dangan pendengarannya itu.


"Saya tidak pernah mengulangi pertanyaan saya untuk yang kedua kalinya. " lanjut Charles datar.


"Saya ingin mengganti suasana saja Pa. " jawab Mattheo lirih tanpa menatap kearah Charles.


"Hanya itu saja.? " tanya Charles tegas.


"Dengar, jika Anda datang kesini hanya untuk bermain main lebih baik Anda kembali ke New York. " ucap Charles tegas.


"Saya, tidak akan bermain main soal pekerjaan Pa, Anda tidak perlu khawatir. Saya bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan mana urusan pribadi. " jawab Mattheo tegas.


"Bagus. Dan satu lagi, percayakan soal penilaian karakter orang kepada Juan, karena itu tugas nya selain menjadi asisten Anda. " ucap Charles datar.


Mattheo menatap tak percaya kearah Juan. Juan hanya tersenyum tipis.


"Juan bagaimana hasil laporannya? " tanya Charles.


"Ada 2 laporan yang bermasalah Pa. Dan kedua CEO dari kedua perusahaan ini mempunyai maksud tersendiri dengan ikut bergabung dengan kita. Juan rasa mereka adalah musuh dalam selimut, yang ingin menjatuhkan kita dari belakang. " jelas Juan.


"Bereskan meraka. " perintah Charles dingin.


"Baik laksanakan. " sahut Juan sambil tersenyum smrik.


Mattheo menatap lekat perubahan yang terjadi pada diri Juan. Tak lama kemudian Juan segera beranjak dari kursi nya dan meninggalkan Mattheo serta Charles. Mattheo masih menatap hingga Juan menghilang dari balik pintu.


"Apa yang Anda lihat.? " tanya Charles membuyarkan lamunan Mattheo.


"Ini ketiga kalinya saya melihat wajah Juan yang berbeda-beda. Dingin, tertawa lepas dan ini seperti iblis. " jawab Mattheo tak sadar.


"Lebih baik Anda menghindari kedekatan Anda dengan Juan. " ucap Charles datar.


"Saya tidak lagi tertarik dengan yang nama nya cinta Pa. Semua itu hanya munafik belakang. " sahut Mattheo dengan tatapan hampa.


"Anda secepatnya harus bisa lepas dari bayang bayang Vicky, tak ada gunanya Anda meratapi semua itu. " ucap Charles.


"Kembali lah ke kamar saya tahu Anda lelah. " lanjut Charles.


Segera Mattheo beranjak dari kursi dan meninggalkan ruang kerja Charles dengan tatapan kosong. Bukannya berbaring dan mengistirahatkan badannya, Mattheo lebih memilih berdiri di balkon kamar nya dan menyalakan sebatang rokok untuk mencoba melepaskan beban pikirannya. Saat melihat sekitar rumah, tak sengaja Mattheo menatap kearah sosok yang berdiri dengan menggunakan baju serba hitam. Ditatap lekat sosok itu mencoba untuk mengenali siapa itu, dan mengapa begitu akrab dengan beberapa bodyguard yang sengaja menjaga sekitar rumah. Bukan hanya itu, para bodyguard itu tampak hormat dan segan terhadap nya. Setelah diamati dengan seksama ternyata sosok itu adalah....


"Juan..... " ucapnya lirih.


"Kemana dia akan pergi malam malam begini. " ucap Mattheo


Mattheo mengamati Juan dari kejauhan. Merasa ada yang mengawasinya segera Juan mencari cari dan menemukan Mattheo yang sedang berada di balkon sambil menatap kearahnya. Juan hanya tersenyum sinis dan kemudian pergi dengan mengendarai motor kesayangannya. Mattheo hanya menatap dengan enggan dan mendengus kesal, tanpa tahu apa sebabnya. Dan akhirnya memilih untuk benar benar pergi tidur.


Malam berlalu, bulan yang awalnya berada diatas menyinari kegelapan malam mulai beranjak turun keperaduannya. Dan berganti dengan semburat sinar mentari pagi. Sejak pagi terdengar suara riuh dan diselingi gelak tawa para pelayan yang sedang membuat sarapan buat majikan mereka. Ternyata Juan sudah ada di dapur juga bersama mereka. Entah kapan dan jam berapa Juan tiba semalam yang pasti pagi itu Juan sudah sibuk bersama para pelayan di dapur.


Suara gelak tawa dan canda menarik perhatian Mattheo yang saat itu sedang turun dan hendak bergabung dengan yang lain di meja makan. Sejak Mattheo berhenti menatap dari luar dapur.


Membuat si empu menoleh dan menatap mencoba menerka nerka siapa namanya.


"Aku Wilmer. Siapa yang sedang kamu amati? " tanya Wilmer lagi.


"Bukan siapa siapa. " jawab Mattheo datar dan berlalu dari dapur.


Wilmer menatap kearah dapur dan tersenyum tipis, mengikuti langkah kaki Mattheo.


"Juan kah? " tanya


"Apa dia sesantai itu hingga ikut turun tangan juga di dapur. " ucap Mattheo datar yang kemudian duduk di kursi nya.


"Siapa yang kakak maksud? " sela Kyra.


"Juan." sela Wilmer.


"Kak Theo tidak tahu ya. Bang Juan jago masak, masakannya enak enak. Lagian Bang Juan hobi banget masak jadi wajar kalo Bang Juan juga sering masuk dapur. " ucap Kyra bangga.


"Ohh.... " sahut Mattheo pendek.


Saat semua sudah berkumpul kecuali Charles dan Kenzo, beberapa pelayan mulai menyiapkan beberapa hidangan dan minuman untuk sarapan pagi. Segera Mattheo meminum secangkir kopi latte di depannya. Ditatap nya kopi itu.


"Kopi latte dengan taburan coklat bubuk seperti yang kamu minta. " ucap Juan yang tiba tiba sudah ada di belakang Mattheo.


"Kak Juan yang siapin sarapan kali ini ya. " pekik Bella senang.


"Iya Juan yang siapkan menu sarapan kali ini. Sedangkan untuk Papa dan Ayah mereka akan sarapan di kamar, jadi kita langsung sarapan tanpa menunggu mereka. " ucap Juan yang kemudian duduk dan mulai sarapan.


Semua pun mulai melakukan hal yang sama. Mattheo menatap kearah Juan yang hanya mengambil beberapa lembar roti dan secangkir kopi.


"Jangan hanya menatap orang lain, selesai kan juga sarapan kamu. " tegur Bara.


Mattheo menatap kearah Bara dan tersenyum. Belum juga Mattheo sempat menjawab, tiba tiba terdengar berita tentang kematian dia Ceo yang secara tiba tiba dari berita utama di televisi. Mattheo menatap kearah Juan. Juan hanya tersenyum penuh arti.


"Juan kamu kah yang.... " ucap Bara tak meneruskan ucapannya.


"Iya, hukuman buat seseorang yang ingin menjadi musuh dalam selimut adalah jemputan malaikat maut. " jawab Juan santai.


"Kenapa pergi sendiri ? " tanya Bara sedikit kesal.


"Hehehe maaf, lain kali akan saya ajak kamu juga. " jawab Juan tanpa ada rasa.


Semua hanya mendengar dan tetap melakukan aktivasi hingga selesai. Karena mereka sudah tahu pasti bagaimana dan seperti apa Juan itu.


Acara sarapan pagi berlanjut seperti biasa, penuh canda tawa dan hangat. Mattheo yang didik dengan kedisiplinan penuh, dan etika yang cukup ketat menjadi sedikit merasa canggung dengan suasana yang begitu hangat itu.


______________________________________________


Halo semua maaf baru bisa update sekarang.


Dan untuk selanjutnya 2hari sekali saya akan up episode barunya.


Terimakasih banyak buat yang sudah dengan sabar nunggu novel saya up.