Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Perasaan yang kacau



"Sudah jangan tertawa kalian. " pekik Juan sedikit marah bercampur malu.


Juan sekilas menatap ke arah Kenzo dan juga Charles. Kenzo hanya mampu menahan tawa, sedangkan Charles menggeleng tak percaya. Juan hanya mampu menunduk dan kembali makan. Suasana kembali menjadi hangat seperti sedia kala. Walau masih menyisakan sedikit keraguan di mata Kenzo. Rasa tidak ikhlas dan takut sedikit menghinggap di perasaan Kenzo. Kenzo sejenak menatap ke arah Juan dan juga Mattheo. Sekilas Kenzo sadar ada semburat rasa suka dari mata Juan saat menatap kearah Mattheo, tapi tidak untuk Mattheo.


"Semoga tak terjadi lagi. " ucap Kenzo lirih.


Charles menatap dan menggenggam tangan Kenzo lembut seakan-akan berkata jangan berfikir yang aneh aneh. Keduanya kembali menyantap hidangan yang ada.


Waktu berlalu begitu saja, semua kembali sibuk dengan segala aktivitas yang di depan mereka. Kuliah bagi yang masih kuliah, dunia kerja bagi yang sudah mulai kerja. Bahkan disaat malam tiba. Tugas pekerjaan malam dari sebagian anak angkat Charles juga mulai mereka lakukan. Akhirnya mereka sadar siapa sebenarnya Charles, dan untuk apa mereka di angkat menjadi anak mereka berdua. Walau awalnya mereka sedikit kecewa tapi akhirnya mereka juga harus dan mau terjun juga. Dunia mafia, dunia bawah tanah, dunia yang keras yang bertujuan untuk melindungi keluarga mereka.


Waktu berjalan cukup cepat bagi Juan. Rasa cinta Juan semakin lama semakin mendalam. Perhatian yang diberikan oleh Juan, rasa kasih sayang yang tulus sedikit demi sedikit membuat Mattheo luluh juga. Sedikit demi sedikit Mattheo mulai membuka pintu hatinya juga bahkan terkadang dengan berani Juan memeluk atau sekedar bersandar dibahu atau tidur dipangkuan Mattheo di hadapan yang lain. Mattheo tak merasa keberatan dengan sikap Juan.


"Cie cie yang lagi kasmaran, enak banget lagi berduaan di sini. " tegur seseorang yang tiba tiba muncul di belakang Mattheo dan Juan.


Yang melihat mereka berdua asyik bercengkrama di gazebo. Lebih tepatnya di sebuah bangunan tanpa dinding yang berada di tengah-tengah taman. Sehingga dapat menikmati pemandangan taman yang romantis saat malam tiba.


"Kau wilmer. Bikin terkejut aja. " pekik Juan yang kemudian turun dari pangkuan Mattheo.


Dengan cepat Mattheo merengkuh pinggang Juan yang masih ramping walau sudah pernah hamil. Seketika Juan menatap kearah Mattheo. Si empu hanya tersenyum penuh arti.


"Dasar." desis Juan lirih.


"Hadeh. Kalian ini coba lah perhatian sedikit pada saya yang jomblo ini. " keluh Wilmer yang kemudian duduk di samping keduanya.


"Siapa suruh Anda kemari dan mengganggu kami. " ucap Mattheo dingin.


"Saya sedikit ada keperluan dengan Juan, kalau tidak mendesak buat apa saya mencari Dia. " ucap Wilmer pasrah.


"Ada apa Wilmer. Bicara saja. " ucap Juan yang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Mattheo dan menatap Wilmer.


"Begini.... " Wilmer pun bercerita tentang seorang gadis yang disukainya tapi takut untuk memberitahu ke Charles.


"Kenapa harus takut kalau memang Anda suka." ucap Mattheo.


"Emm benar kata Mattheo kalau memang kamu suka dan siap bicara langsung ke Papa. Juan yakin Papa akan mempertimbangkannya. " sahut Juan.


"Lalu kenapa kalian masih juga belum meresmikan hubungan kalian. " ucap Wilmer menatap keduanya.


"Memangnya ada apa dengan kami. " sahut Mattheo.


Juan hanya mampu menatap Mattheo dengan tatapan tak percaya dengan ucapan Mattheo.


"Bukannya kalian pacaran. Dan lagi usia kalian sudah tak tepat lagi di bilang sebagai orang yang sedang pacaran. " jelas Wilmer.


"Kami pacaran? " tanya Mattheo menatap Juan.


"Iya, kalau bukan pacaran lalu apa? Kalian sangat intim. " ucap Wilmer.


"Hahahahaha..... " tawa Mattheo tiba tiba pecah.


Dan itu bukannya membuat Juan senang tapi malah membuat sakit hati.


Mattheo menatap kearah Juan yang menunduk. Melihat situasi yang tak begitu nyaman Wilmer segera undur diri dan meninggalkan keduanya.


"Apa maksud Anda, Juan? " tanya Mattheo bingung.


"Apa yang selama ini kamu pikirkan tentang hubungan kita.? " tanya Juan sekali lagi.


"Juan. Apa Anda benar-benar menganggap serius dengan hubungan kita ini?. " tanya Mattheo menatap Juan dengan intens.


Juan memberanikan diri menatap mata Mattheo.


"Juan cinta sama kamu, benar benar cinta dan tidak main main. " jawab Juan dengan serius.


Mattheo menatap tak percaya.


"Juan..... " Juan hanya mampu menunduk dan turun dari pangkuan Mattheo.


"Juan tak pernah main main dengan perasaan Juan, Theo. Juan benar benar tulus cinta kamu, tak pernah ada niatan untuk main main. " ucap Juan sembari menatap kearah Mattheo dengan tatapan sendu.


"Haaa.... Maaf Juan. Bukannya saya meragukan cinta Anda, tapi Anda tahu sendiri saya baru saja patah hati, dan Anda tahu sendiri saya ini seorang playboy. Kekasih saya ada dimana mana. " jelas Mattheo.


"Juan tahu, kekasih kamu ada dimana mana. Tapi setidaknya ada satu orang yang bisa Theo anggap spesial bukan. " ucap Juan.


"Juan, jangan terlalu berharap banyak kepada saya. Anda memberikan saya perhatian yang begitu tulus, oke saya terima tapi jangan terlalu berharap lebih dari saya. " jelas Mattheo.


Direngkuh nya kembali pinggang Juan. Entah karena bodoh atau terlalu cintanya Juan kepada Mattheo, sehingga Juan hanya mampu menurut saja. Mattheo hanya tersenyum tipis. Juan kembali bersandar dengan nyaman didada mattheo, sambil meratapi sakit hatinya. Hatinya terasa perih mendengar ucapan Mattheo, tapi Juan tak bisa berkata apa apa lagi.


Sedangkan Mattheo hanya mampu terdiam dalam seribu pikiran. Memikirkan tatapan juan yang teramat tulus ditambah lagi rasa sakit yang terpancar jelas dalam bola mata Juan.


"Ah juan terlalu larut dalam permainan ini"


Ucap Juan tanpa sadar.


Sejenak rasa tak tega hinggap dihatinya. Mattheo yang binggung akhirnya tak dapat jawab, yang berakhir dengan memutuskan untuk masuk kedalam bersama juan dan pergi istirahat. Tanpa ada sepatah katapun terucap. Dimalam yang sama, Mattheo termenung diatas ranjang, sedangkan juan sedang terisak tangis di kamarnya sendiri.


Tak lama kemudian pintu kamar mattheo di ketuk pelan oleh kenzo, dan masuk. Kenzo duduk di tepi ranjang Mattheo. Melihat kehadiran Kenzo tanpa pikir panjang Matteo segera duduk dan menidurkan kepalanya di pangkuan kenzo.


"Ayah kenapa Anda selalu datang saat hati saya sedang risau. Kenapa ayah selalu jadi yang paling tahu sebelum perasaan saya terlihat?" tanya Mattheo sambil menatap kearah lain dengan tatapan pilu.


"Ikatan batin tak akan berbohong sayang" ucap Kenzo lembut.


"katakan, hari ini kenapa?" tanya Kenzo lagi.


Mattheo menceritakan tentang hari yang berlalu tadi, kenzo mendengar dengan baik sambil mengusap surai mattheo


"Ayah, Bagaimana Theo harus menghadapi Juan besok. Hati ini masih belum siap menerima cinta baru lagi, rasa sakit masih membekas dan membayangi perasaan saya? " tanya Mattheo putus asa.


"Theo, Ayah tak bisa memutuskan tentang apa atau bagaimana perasaan mu, Ayah hanya bisa mendukung apa yang kamu pilih. " Nasehat Kenzo.


Theo mulai berpikir kembali dan tetap tak sampai pada jawaban yang tepat, masih ada yang menganjal dihatinya. Perasaan takut tersakiti, takut kehilangan masih menghantui nya. Kenzo meninggalkan Mattheo setelah melihat Mattheo terlelap dalam buaian mimpi.