
Waktu berlalu dengan cepat hingga malam tiba.
Akhirnya Reza menyerah juga, Dia bersedia untuk mengakhiri hidup istrinya itu. Bukan Juan sang iblis namanya kalau memberi syarat semudah itu. Juan memberi pilihan yang sulit untuk Reza.
"Baiklah, sesuai dengan pilihan mu yaitu mengakhiri hidupnya. Tapi dengan dua pilihan yang harus kamu lakukan. " ucap Juan sambil
mengambil sebuah belati lainnya.
"Kamu pilihlah cara yang tepat untuk membunuh istri mu itu. Pertama, robek dada hingga perut istrimu dengan belati dan ambil paksa jantungnya. Atau ke dua, potong leher istri kamu dengan belati hingga terpisah dengan tubuhnya. " ucap Juan sambil tersenyum iblis.
Semua terteguk tak percaya dengan ucapan Juan. Bukan hanya Reza, Reno pun tak percaya mendengar nya. Juan benar benar tak bisa diprediksi apa maunya.
"Itu,... Itu pilihan yang sulit Juan. " ucap Reza tak percaya.
"Terserah kamu, kalian siksa dia kembali. " perintah Juan.
"Tidak, tunggu. Baiklah saya akan melakukannya. " ucap Reza lemas tak berdaya.
Juan tersenyum senang melihatnya.
"Silahkan pilih kematian yang pantas untuk istri mu tercinta itu. " ucap Juan senang.
"Kamu bantu dia berdiri dan beri dia belati. Awasi dia, jika dia aneh aneh potong saja tangannya tapi jangan buat dia mati karena belum waktunya di untuk mati. " lanjut Juan.
2 orang anak buahnya menghampiri Reza, yang satu membantunya berdiri dan yang satunya mengawasi. Di berikan nya belati itu. Dengan tangan gemetar di arahkan nya belati itu di leher istri nya. Perempuan itu hanya mampu tersenyum.
"Lakukan sayang, aku sudah tak sanggup lagi. " ucapnya lirih.
"Maafkan aku telah melibatkan mu dalam masalah ku. " ucapan Reza lirih.
Dan kemudian digoroknya leher istrinya.
"Ahkkk, uhuk uhuk uhuk. " pekik perempuan itu sambil mengeluarkan darah segar di mulutnya serta lehernya.
Kembali Reza menggorok leher istri nya sambil menangis dan gemetaran tubuhnya menyaksikan kematian istrinya sendiri di tangan nya sendiri. Di potong nya hingga terputus sudah leher dari tubuh perempuan itu dan kepalanya terjatuh tepat di kaki Reza.
Darah segar mengalir deras dari leher yang terpisah, tubuh Reza lunglai seketika, tubuhnya bersimba darah istri nya sendiri, tangan dan tubuh nya penuh dengan darah istri nya. Sadar akan hal itu, Reza pun tahu bagaimana Juan menderita kehilangan orang terkasih nya.
Juan tertawa senang menyaksikan Reza yang bak mayat hidup, terdiam bak patung sambil menatap kepala istri nya itu.
Ditendang nya Reza hingga menjauh dari jasad istri nya. Diambilnya kepala perempuan itu kemudian diletakkan kembali di lehernya.
"Kamu ambil kawat berduri itu. " perintah Juan.
"Apa yang akan kamu lakukan pada jasad istri ku Juannnn " teriak Reza gemetar antara syok dan juga marah.
"Ingin bersenang-senang sebentar. " ucap Juan pendek.
Usai mendapatkan kawat itu di ikatnya kepala tersebut dengan kawat berduri, seakan akan masih menyatu.
"Ikat Dia di tiang itu, biarkan dia menyaksikan jasad istri nya. " perintah Juan.
Juan pun meninggalkan sel dengan penuh kepuasan.
"Apa kamu sudah puas Juan.? " tanya Reno mengikutinya dari belakang.
"Setengah dari kepuasan ku Reno. Jaga dia, besok aku akan kembali lagi. Aku lelah ingin pulang, siap kan buat besok. " ucap Juan.
Reno hanya mampu menggelengkan kepalanya.
Reno selalu berada disisi Juan. Bagi Reno, Juan bukan hanya Bos tapi juga saudara, seorang kakak. Sekejam apapun Juan dalam menyiksa targetnya, baru kali ini Reno melihat sisi iblis Juan. Sisi yang selama ini ingin disembunyikan Juan dari semua anak buah nya, sisi yang menjadi rahasia nya. Dan hanya Reno yang tahu dan pernah sekali dia melihat sosok asli dari Juan.
Keesokan harinya Juan bangun lebih awal. Semua pelayan di bagian dapur terkejut melihat kehadiran Juan disana.
"Tuan Juan, kapan ada kembali? " tanya seorang pelayan.
"Tadi malam saat semua orang tertidur. Oh ya hari biar Juan yang membuatkan sarapan buat semua, kalian bantu Juan seperti biasanya. " ucap Juan sambil tersenyum walau terpaksa.
"Mmmm, pria yang baru tiba kemarin siapa dia.?" tanya Juan.
"Dia putra kedua Tuan Besar Charles. Tuan Muda Louis. " jawab Pelayan lainnya.
Juan hanya ber oo ria dan mulai menyiapkan sarapan buat semua orang termasuk dirinya. Semua pelayan membantu nya hingga sedikit terkejut, karena Juan juga membuatkan sarapan kesukaan Felix yaitu sosis panggang dengan banyak mentega. Sejenak Juan termenung saat menatap menu sarapan itu.
"Tuan Juan. " ucap seorang pelayan.
"Ehh maaf, Juan lupa. " ucap Juan lirih.
"Tidak apa Tuan, itu juga menu sarapan kesukaan Tuan Muda Louis. Nanti biar kami hidangkan semua nya di meja. Tuan Juan tunggulah di meja makan, saya rasa semua sudah duduk disana. " hibur seorang pelayan.
"Baiklah." Juan melepas celemek nya dan bergabung dengan yang lainnya yang ternyata sudah berkumpul di meja makan.
Semua terkejut melihat Juan keluar dari dapur. Walaupun sudah sedikit seger tapi masih tampak jelas raut muka yang kelelahan.
"Bang Juan, kapan abang pulang? " tanya Yera.
"Semalam Yera, saat kalian semua tertidur pulas. " jawab Juan yang kemudian duduk di sebelah Louis.
Di tatap nya sejenak Louis dan kemudian duduk di sebelahnya dengan tenang.
"Juan, dia yang akan menggantikan posisi Felix di perusahaan. " ucap Charles tanpa basa basi.
"Baik Pa, tapi Juan masih belum bisa menemaninya sekarang. Masih ada urusan yang belum selesai Juan lakukan. " jawab Juan.
"Terserah anda. " jawab Charles pendek.
Kenzo hanya mampu menghela napas panjang.
"Tak bisakah itu ditunda dulu Juan. Lebih baik kamu istirahat saja dulu. " nasehat Kenzo.
"Iya kak. Kak Juan kelihatan letih lebih baik kakak istirahat dulu. " sahut Ella.
"Apa saya meminta saran anda Ella. " jawab Juan dingin.
"Ini meja makan, saya harap tidak ada pembahasan lainnya. " tegur Charles tegas.
Segera semua terdiam tak bersuara. Tak lama kemudian pelayan dapur datang dan menghidangkan sarapan pagi sesuai selera masing masing. Semua terkejut.
"Wahhh ini pasti masakan Kak Juan kan. " celoteh Viona.
Memecah kesunyian.
"Ya kamu benar Vin. Ini masakan Juan. " sahut Wilmer.
Sehingga suasana kembali hangat seperti biasa. Kenzo tersenyum manis melihat semua berusaha untuk bertingkah sewajarnya lagi. Louis kembali di buat tak percaya. Dan di tatap nya Juan yang sekilas melirik nya juga. Usai sarapan semua beranjak pergi dan berangkat ketempat tujuan masing masing. Begitu juga dengan Juan. Segera setelah makan pagi dia langsung kembali kekamar untuk berganti pakaian.