
Keesokan harinya Juan baru tersadar dari tidurnya. Dia merasakan berat ditubuhnya. Ternyata ketiga peliharaannya sudah berbaring disampingnya.
"Wahhh kalian sejak kapan ada disini. " ucap Juan lirih.
Juan merasa ada yang aneh dengan dirinya, Dia merasa sedikit ringan tak seperti biasanya. Sekaligus merasa ada yang hilang dan sedikit hampa.
"Apa yang terjadi, kenapa ada yang kurang ya. " gumannya lirih.
Leopard menggeram pelan.
"Apa kalung? " seketika Juan meraba lehernya. Dan benar saja dia sudah memakai kalung.
"Bagus juga, terasa dingin sekaligus nyaman. Tapi dari siapa kalung ini? Dan untuk apa? Aneh." ucap Juan menatap ketiganya.
Queen menggonggong.
"Papa. Benarkah? Pasti terjadi sesuatu kemarin pas Juan tak sadar. Apa Dia bangkit kemarin? " tanya Juan.
Ketiganya bersuara bersamaan. Juan hanya mampu menunduk lesu.
Tak lama kemudian seorang pelayan datang.
"Tuan Juan, boleh saya masuk. " ucap pelayan tersebut.
"Masuk lah. " jawab Juan.
Dilihatnya pelayan tersebut sambil membawa meja dorong yang berisikan sarapan pagi Juan dan juga kotak P3K.
"Saya yang akan merawat Tuan Juan. Tuan Besar Charles yang meminta saya. " ucap pelayan
tersebut sedikit gugup saat melihat ketiga hewan itu.
"Baiklah." jawab Juan.
Dan memerintahkan ketiganya untuk turun agar memberi ruang untuk pelayan itu merawatnya.
Dengan telaten pelayan itu merawat Juan, mulai dari menyekat badannya hingga merawat lukanya. Usai merawat segera memberikan meja kecil untuk Juan agar bisa sarapan dengan nyaman.
"Tuan Besar tadi berpesan setelah selesai sarapan, saya akan mengantar Tuan Juan ke ruang kerja Tuan Besar. " ucapnya.
"Baiklah, tunggu Juan selesai makan ya. " jawab Juan pelan.
Tak lama kemudian Felix datang kekamar Juan. Dengan segera pelayan itu pergi meninggalkan Juan dan juga Felix.
"Juan, gimana kondisi mu sekarang? " tanya Felix khawatir dan segera duduk di sebelah Juan.
Juan tampak cuek dan acuh. Felix segera mendekap tubuh Juan.
"Juan, maaf. Saya mengaku salah, tidak seharusnya mempercayai nya. Maaf meragukan kemampuan kamu. " ucap Felix dengan penuh penyesalan.
"Buat apa percaya sama Juan. Kan kita baru kenalan, kita juga baru pacaran. Sedang Dia lebih dulu dan lama, bahkan kamu pacaran dengan Dia juga cukup lama. " ucap Juan getir.
Ada rasa sakit didada Juan, rasa cemburu, merasa di khianati, dan tak di percaya.
"Bukan seperti itu Juan. Walau lebih dulu tapi kamu adalah kekasih istimewa, Dia dan yang lain hanya pelengkap saja. Hanya kamu kekasihku yang paling aku cinta. " jelas Felix.
"Kalau iya. Kenapa kamu lebih percaya sama Dia di bandingkan dengan Juan. Kenapa lebih memilih Dia dari pada Juan. " seketika itu juga Juan mulai menangis.
Felix terkejut melihat Juan yang tiba tiba menangis.
"Maaf maaf jangan menangis. Saya tidak mau ada air mata yang turun dari mata indah mu ini. " rayu Felix.
Segera di simpan nya meja kecil bekas Juan makan ketempat lain dan dipeluk erat.
"Bodo." ucap Juan lirih.
"Sudah jangan nangis nanti senyum manisnya hilang. Terus Saya mesti mencari kemana kalau itu hilang. " goda Felix lagi.
"Noh, cari di kolong tempat tidur. " jawab Juan sekenanya.
Felix pun pura pura mencari di bawah ranjang.
"Tidak ada tuh sayang. Kemana senyum itu hilang ya? " ucap Felix pura pura sibuk mencari.
Melihat tingkah konyol Tuan Muda nya itu membuat pelayan yang sedari tadi menunggu di luar tertawa kecil tanpa bersuara karena takut ketahuan.
Seketika itu juga Juan mulai tertawa lepas. Melihat kekasihnya mulai tertawa betapa leganya hati Felix. Dan kemudian tersenyum senang.
"Ternyata senyuman itu sudah ketemu. " ucap Felix kembali duduk dan mendekap Juan.
"Jangan lagi seperti itu ya." pinta Juan.
"Iya, maaf. Lain kali tidak lagi. " jawab Felix.
"Sakit Felix, sangat sakit jika kekasih sendiri tidak percaya. " sahut Juan.
"Iya maaf sayang. " ucap Felix.
Di angkatnya dagu Juan dan kemudian di ***** pelan bibir Juan dengan lembut. Setelah puas dilepas dan di hapusnya bibir Juan yang basah.
Juan tersenyum senang.