Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Sebuah perselisihan.



Hari hari berlalu seperti biasa. Semua kembali sibuk dengan urusan masing masing. Juan dan Felix semakin dengan satu sama lain, walaupun terkadang Bara mencoba hadir di antara keduanya.


Semua penghuni mulai menunjukkan sifat asli mereka masing-masing, mungkin terlalu dekat dan sering sehingga tampak jelas bahwa semua penghuni disini mulai sedikit tampak aneh.


Terkadang Viona menatap lekat ke arah Sella, tak jarang pula Viona memberi perhatian lebih kepada Sella. Juan sering memergoki Viona menatap lekat kearah Sella.


"Hayo sedang liatin siapa, ? " tegur Juan saat ada di belakang Viona.


"Eh Kak Juan. Itu Sella. " jawab nya jujur.


Juan terkejut melihat rona merah di pipi Viona saat menyebutkan nama Sella. Kemudian tersenyum penuh arti.


"Dia manis ya, humoris pula. " ucap Juan.


"Iya Kak, sangat manis. " jawab Viona tak sadar.


"Kamu suka dia ya? " tanya Juan pelan.


"Iya, aku suka Dia. " kembali menjawab tanpa sadar.


"Eh, bukan gitu Kak. Itu gak seperti itu juga kok. " jawab Viona gugup.


"Kalau memang suka bilang saja suka kenapa mesti di sembunyikan juga. " nasehat Juan.


"Viona, kamu suka perempuan ya.? " tanya Juan penasaran.


"Jangan bilang siapa siapa Kak. " ucap Viona lemah.


"Kenapa?, apakah itu sesuatu yang menjijikkan. " tanya Juan tak suka.


"Iya Kak, nanti kalau sudah waktu dan aku sudah siap. Aku akan coba buat bicara serius dengan Sella. " ucap Viona.


Juan mengusap kepala Viona lembut.


Hari hari terus berlanjut, semua tampak tenang, kedekatan Juan dengan Felix tak hanya terlihat mesra di rumah saja tetapi juga saat ada di kantor. Tentu saja profesional kerja harus di utamakan, mereka akan bermesraan hanya di saat jam istirahat saja Atau saat hendak pulang kerja.


Tidak selamanya perjalanan cinta selalu lurus tanpa ada kerikil yang menghampiri, terkadang cekcok mulut juga terjadi antara Juan dan Felix. Karena pada dasarnya Felix selalu suka menggoda atau mengumbar rayuan manis, itu terkadang membuat Juan merasa cemburu dan berujung dengan pertengkaran.


Hingga suatu hari terjadi perdebatan diantara Juan dan Felix.


"Felix, kenapa kamu begitu percaya sama Dia. Bukannya sudah Juan bilang Dia itu musuh dalam selimut. " protes Juan.


"Juan, saya mengenal Dia cukup lama, tolong jangan campur adukan masalah kantor dengan pribadi. " jelas Felix.


"Saya tidak pernah mencampur adukan masalah pribadi dengan Kantor. Saya bilang Dia adalah musuh dalam selimut, tidak peduli anda kenal lama atau tidaknya. Yang jelas jangan serahkan proyek itu pada Dia. " ucap Juan tegas.


"Juan. Tidak seharusnya kamu menghina Dia seperti itu. Saya kenal betul dengannya, dan saya mengenalnya lebih dulu dari pada dengan kamu. Kalau saya disuruh memilih untuk percaya maka saya akan lebih memilih dia. " ucap Felix tak Terima.


"Oh begitu. Jadi anda lebih memilih percaya dengan Dia dari pada saya yang memang secara langsung di tunjuk Papa untuk menilai atau menentukan orang itu musuh atau teman. " ucap Juan semakin emosi.


"Baiklah terserah Anda, tapi ingat jangan pernah sebut atau panggil saya kalau Dia, orang yang lebih kamu percaya itu melakukan hal yang fatal pada proyek itu. " ancam Juan.


Yang kemudian berlalu pergi dari Felix. Felix hanya mampu menghela napas panjang dan mengepalkan tangan saat melihat kepergian , Juan.


Pertengkaran meraka berlanjut hingga di rumah. Saat di rumah Juan dan Felix jangan kan menyapa saling menatap pun tidak. Bahkan Juan semakin akrab dengan Wilmer dan Bara, bahkan terkadang Juan tidak pulang untuk beberapa waktu.