
Keesokan harinya setelah membersihkan diri Juan bergabung dengan yang lainnya.
"Juan. " ucap Aiden tiba-tiba.
Juan hanya menatap Aiden dengan malas.
"Setelah dari kantor ikut saya. Jadi Anda berangkat bersama saya hari ini. " lanjut Aiden sambil menikmati sarapan paginya.
"Memang nya Kak Juan sama Kak Aiden mau pergi kemana? " tanya Bella.
"Mau pergi kencan. " jawab Aiden sekenanya.
Juan menatap tajam kearah Aiden.
"Jangan dengarkan Dia." gerutu Juan kesal.
Aiden tersenyum senang bisa menggoda Juan. Bella hanya menatap tak percaya sedangkan yang lain tertawa kecil.
"Kenapa kalian malah tertawa. " sungut Juan tak senang.
"Kami senang abang sudah kembali seperti dulu. " ucap Yera sambil tertawa.
Juan menatap kyera dengan lembut dan mengusap pelan rambut kyera.
"Maaf membuat kalian semua khawatir. " sahut Juan pelan.
"Bang, tapi beneran abang mau kencan sama Bang Aiden.? " tanya Kemal tak percaya.
"Sekali lagi tanya itu ini sendok melayang di kepalamu. " sungut Juan.
"Gak gak hehehe maaf. Tapi kalau iya saya mendukung. " goda Kemal lagi sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Kemal." pekik Juan.
Yang lain kembali tertawa senang. Aiden hanya tersenyum tipis.
Drama pagi hari berakhir dengan melakukan aktivasi masing-masing.
Seperti biasa karena Aiden yang menggantikan tugas Louis maka secara otomatis Juan menjadi sekretaris Aiden. Dan itu menjadikan sebuah kesempatan Aiden untuk memikat hati Juan.
Sore hari datang sangat cepat. Juan melirik gelang jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Entah kenapa Juan merasa sedikit khawatir.
"Juan semakin kamu khawatir semakin kamu akan terpikat. " ucap Lucifer tiba tiba.
"Entah lah cifer, dan lagi segel ini sangat mengganggu. Apa kamu tidak bisa menghilangkannya.?" tanya Juan sambil memegang pundak nya.
"Tidak bisa, kamu tahu sendiri Dia lebih lama dan lebih kuat dari kita. " ucap Lucifer.
"Dasar iblis lemah. " gerutu Juan.
"Kauu... " pekik Lucifer.
Juan hanya tersenyum tipis.
"Sudah selesai ngobrol nya. " tiba tiba Aiden sudah berdiri bersandar di pintu ruang kerja Juan.
Tentu saja Juan tersentak kaget.
"Kau.... Tidak bisa kau ketuk pintu. " pekik Juan sambil meraih jas kerjanya yang ada di sandaran kursi dan memakainnya.
"Kita akan pergi kesuatu tempat. Tapi lebih baik kita ganti baju biar bisa lebih leluasa nanti. " ucap Aiden tak menghiraukan ucapan Juan.
"Haruskah. Jadi kita pulang dulu terus ganti terus pergi lagi. Membuang buang waktu saja. " sahut Juan dingin.
"Kita ke mall dulu. " ucap Aiden datar.
"Tidak perlu. Juan ada baju disini. " jawab Juan kemudian berjalan ke ruang istirahat nya Juan.
Sejenak sebelum masuk Juan menatap Aiden dari atas hingga bawah. Aiden merasa heran.
"Apa saya begitu tampan hingga Anda menatap lekat saya. " ucap Aiden sambil tersenyum penuh percaya diri dan mendekati Juan.
"Narsis. Juan ada baju seukuran kamu, tapi hanya bagian atas dan mantel saja. Ikuti Juan. " pintah Juan yang masuk terlebih dulu.
Di hampiri nya lemari Juan yang cukup besar. Dan benar saja beberapa koleksi baju Juan. Diambilnya sebuah kaos dengan krah leher tinggi dan sebuah matel dengan warna senada hitam.
"Nih pakai ini, lagian itu terlalu besar buat Juan jangan khawatir itu masih baru, belum pernah di pakai sama Juan." ucap Juan sambil menempelkan mantel itu.
Setelah dilihat cukup pas untuk Aiden sejenak Juan tersenyum manis. Melihat itu Aiden tak menyia nyiakan kesempatan, di kecupnya bibir Juan.
"Kauu.... " pekik Juan terkejut.
Aiden hanya tertawa kecil.
"Juan ini kantor bukan rumah. Harusnya Anda tahu itu, dan ini apa setumpuk baju di ruang istirahat Anda.
Apa Anda punya niat untuk tinggal di sini. " tegur Aiden.
Tanpa rasa canggung Aiden melepas jas dan kemeja nya di depan Juan kemudian memakai baju pemberian Juan. Melihat itu tentu saja membuat Juan kembali bersemu merah. Dan membalikkan badannya. Melihat tingkah Juan yang malu Aiden tersenyum senang.
"Anda cepat lah berganti pakaian. " perintah Aiden.
Juan hanya mengangguk pelan. Mau tak mau Juan melakukan hal yang sama melepas jas dan juga kemeja nya. Tampak jelas punggung Juan yang putih dengan sebuah tatto sayap hitam menghiasi punggung Juan. Tanpa di ketahui Juan, Aiden sudah berdiri tepat di belakang nya. Disentuhnya punggung Juan, tentu saja perbuatan Aiden membuat Juan terkejut dan sedikit membusungkan dadanya kedepan dan sedikit mendesis lirih.
"Anda sangat sensitif rupanya. Apa itu alasan Anda selalu memakai baju panjang setiap harinya. " bisik Aiden sambil membelai lembut punggung nya.
"Shhtttt.....menjauh dari Juan sekarang juga. " desis Juan sambil menahan amarah nya.
"Hahahaha.... Tapi tubuh Anda berkata lain. " tawa Aiden.
Dengan cepat Juan mendorong tubuh Aiden hingga membuatnya terdorong beberapa langkah. Setelah lepas dari cengkraman Aiden. Juan cepat cepat memakai kaos dan juga jaket hitamnya.
"Sekali lagi kau sentuh tubuhku, akan ku patah kan tanganmu itu. " ancam Juan yang kemudian berlalu dari hadapan Aiden.
"Oh... Saya takut dengan ancaman iblis kecil ini." ucap Aiden pura pura ketakutan.
Juan menatap tajam kearahnya. Dan kedunya meninggalkan ruang kerja. Tampak beberapa karyawan yang hendak pulang juga menatap kearah pria yang baru saja keluar dari lift khusus.
Sejenak mereka terpukau dengan penampilan keduanya yang sangat memikat. Banyak diantara para pegawai wanita mengharapkan bisa naik keatas ranjang pemimpin mereka. Hanya saja jangan kan menyentuh, terkadang menatap saja membuat mereka sedikit tertekan.
Mereka berdua pergi keluar dari perusahaan dan berjalan menuju parkiran dimana mobil Aiden terparkin di tempat yang tak jauh dari pintu masuk.
Dalam perjalanan Juan tak banyak berkata kata hanya diam dan menikmati perjalanan yang ada. Semakin jauh dari arah pulang Juan semakin terlena. Tepat disaat memasuki area yang hampir sama suasana nya dengan kastil Charles, Juan sedikit terkesima dan mulai menatap dengan seksama.
"Kita kemana sebenarnya?" tanya Juan mulai membuka suara.
"Akhirnya Anda bertanya juga. Kita akan pergi ke villa saya. Dimana kita akan sedikit bersenang senang nanti nya. " jawab Aiden tanpa melihat kearah Juan.
"Kau tidak akan aneh aneh kan. " ucap Juan merasa sedikit gelisah.
"Jangan khawatir, saya jamin Anda akan sangat menikmati nya nanti. Begitu juga dengan Lucifer. " jawab Aiden santai.
"Hanya saja kita tidak akan pulang nanti malam. Melainkan besok, atau lusa. " lanjut Aiden sambil tersenyum bak iblis.
Juan hanya mampu menatap sinis.
"Sekali kau berbuat aneh aneh akan aku habisi kau. " ucap Lucifer dingin.
"Wah wah Anda menyimak pembicaraan kami rupanya. Ah saya lupa Anda memang berada di tubuh Juan ya. " ucap Aiden meremahkan.
"Jangan khawatir, saya akan membuat Anda senang nanti nya. Dan saya yakin Anda akan sangat berterima kasih kepada saya nanti nya. " ucap Aiden dengan bangga.
"Kita lihat saja nanti. " sahut Lucifer dingin.
Tak lama kemudian Mereka berdua sampai di sebuah kastil yang cukup megah. Walau tak sebesar milik Charles tapi villa itu cukup besar dan mewah. Keduanya turun dan disambut oleh seorang pelayan.
"Bagaimana keadaan didalam? " tanya Aiden datar.
"Semua nya baik baik saja. Tuan muda. " jawabnya sambil menatap kearah Juan.
Sejenak pelayan tersebut bersemu merah menatap Juan, rupanya aura pemikat Juan mulai bekerja.
"Juan, kontrolah pemikat iblis mu itu, atau nanti akan ada korban nanti nya. " bisik Aiden sambil mengecup telinga Juan.
"Kauu... " pekik Juan yang kemudian memegang telinga nya.
Di liriknya sekilas pelayan itu dan paham juga maksud dari Aiden.
"Juan saya lapar. " ucap Lucifer lirih.
"Haaa... Nanti malam kita berburu disini. Seperti nya di sekitar sini juga ada. " bisik Juan.
Aiden yang mendengar percakapan itu tersenyum penuh arti.
"Apa ada yang baru datang.? " tanya Aiden kepada pelayan nya setelah melepas mantel dan memberikan ke pelayan itu.
"Iya Tuan Muda. Baru datang beberapa menit yang lalu dan sudah ada di tempat biasa. " jawabnya sambil melirik ke arah Juan.
Sedangkan Juan sendiri sudah duduk di sofa dan bersandar dengan malas.
"Sekali lagi kau melirik nya, maka matamu akan hilang. " ucap Aiden marah dan mencengkram rahang pelayan tersebut.
"Ma... Maaf Tuan Muda. " ucapnya terbata bata.
"Pergi dari sini. " perintah Aiden sambil mendorong tubuh pelayan itu.
Segera pelayan itu menyimpan mantel majikannya dan berlalu pergi. Melihat hal itu Juan hanya menatap malas.
"Ayo ikut saya kesuatu tempat. " ajak Aiden.
Juan beranjak dari sofa dan mulai mengikuti kemana arah Aiden berjalan.