
(Di dalam ruangan Charles)
Charles duduk dengan angkuhnya di meja kerja nya. Menatap tajam kearah dua sosok pria yang duduk di depannya.
"Kalian sadar dengan kesalahan kalian? " ucapnya dingin.
"Pa, jangan salahkan Juan. Saya sengaja menanamkan benih saya kedalam tubuh Juan. " jelas Aiden.
"Apa Anda sadar dengan ucapan Anda..? " ucap Charles makin dingin.
Keduanya hanya menunduk.
"Saya sadar Pa. " jawab Aiden.
"Apa Anda sadar. Apa yang Anda lakukan ini akan membahayakan kita semua. " Charles menatap dingin.
"Bayi yang Juan kandung adalah bayi Iblis, Aiden harusnya Anda tahu maksud saya. " ucap Charles dingin.
"Pa. Juan mohon biarkan bayi ini melihat dunia. " ucap Juan lirih.
Brakkk...
"Dan kemudian akan menghancurkan dunia. " bentak Charles sembari memukul meja.
"Apa Anda kira Saya tidak tahu apa yang Iblis di tubuh Anda inginkan. " bentak Charles.
Aiden terdiam mendengar amarah Charles.
"Jangan pernah membentak Juan " bentak Lucifer sembari menatap tajam ke arah Charles melalui mata Juan.
"Anda Iblis yang licik. Memanfaatkan cinta Juan hanya untuk beranak pinang dan memperbanyak kaum Anda. " ucap Charles keras.
"Apa Anda kira saya tidak tahu jalan pikiran Anda. Hahhhh... " bentak Charles menatap tajam.
"Lucifer diam lah. " hardik Juan.
"Pa. Bayi itu darah daging saya juga, ada darah saya yang mengalir di tubuh bayi itu. Dan dia akan menjadi kaum vampir bukan Iblis. " sahut Aiden.
"Anda sudah di butakan oleh cinta rupanya. " menatap sinis kearah Aiden.
"Papa. Jangan salahkan Aiden. " sahut Juan.
"Ingat satu hal Juan. Jika terjadi apa apa dengan keluarga saya, maka saya tak akan segan segan untuk membunuh Anda dan Iblis yang ada di tubuh Anda hingga tak berbentuk lagi. Cam kan ucapan saya ini. " ancam Charles dingin.
Juan hanya mampu mengangguk lesu.
"Keluar Anda. Dan Anda, Aiden tetap disini untuk mendapat hukuman dari saya." ucap Charles dingin.
Juan menatap lemah Aiden. Aiden hanya mampu tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Memberi isyarat untuk menuruti permintaan Charles. Dengan enggan Juan keluar dari ruangan. Diluar semua cemas.
"Abang baik baik saja? " tanya Kyera khawatir.
Juan tersenyum manis dan mengusap lembut rambut Kyera.
"Abang baik baik saja. " jawab Juan lembut.
"Abang baik baik saja? " tanya Kyera khawatir.
Juan tersenyum manis dan mengusap lembut rambut Kyera.
"Abang baik baik saja. " jawab Juan lembut.
Hari hari yang di lalui Juan cukup berat, rasa haus dan lapar dua kali lipat lebih besar dari biasanya. Karena tak ingin mencelakakan semua anggota keluarga mau tak mau Juan memilih tinggal di villa Aiden.
Tentu saja kedua kesayangan Juan turut serta. Karena dirasa kondisi saat ini cukup aman sehingga penjagaan kastil lebih di percayakan ke tangan bodyguard dan pengawal bayangan. Juan meminta dan memberi perintah untuk mengawal serta menjaga semua anggota keluarga secara sembunyi sembunyi. Tanpa sepengetahuan mereka tentunya.
Malam itu Juan menatap rembulan dari balkon villa Aiden. Dengan lembut Aiden memeluk tubuh Juan dari belakang.
"Apa yang Anda fikirkan.? " tanya Aiden.
"Lihat itu, rembulan terlihat tampak berbeda dengan biasanya. " jawab Juan tanpa menatap Aiden.
Aiden mengikuti kearah mana Juan menatap. Aiden masih belum sadar dengan apa yang Juan ucapkan.
"Apa maksud Anda.? " Aiden menopangkan dagunya kepundak Juan, dan mengecup lembut leher Juan.
Juan memejamkan mata pelan sembari memeluk tangan orang yang memeluknya dari belakang sambil tersenyum tipis, menikmati kecupan lembut dari kekasih nya itu. Walau sejenak tapi hati Juan menjadi cukup tenang.
Kembali Juan menatap rembulan yang dengan angkuhnya memancarkan sinarnya.
"Rembulan itu belum sempurna. Tapi lihat ada seberkas cahaya merah yang mengelilingi nya." ucap Juan menunjuk kearah rembulan yang hampir bulat sempurna.
"Kamu tahu Aiden apa artinya.? " tanya Juan.
Aiden tersentak kaget mendengar ucapan Juan.
"Bulan merah. " sahut Aiden lirih.
Juan terkejut mendengar jawaban Aiden. Juan memutar tubuhnya pelan, dan menatap kearah Aiden.
"Aiden apa artinya bulan merah untuk kamu? " tanya Juan gusar.
"Sebuah kebangkitan, sosok yang tertidur akan bangun dari tidur panjang nya. " jawab Aiden lirih.
"Juan dengarkan saya baik baik. Sebelum bulan merah tiba dan berada tepat diatas puncaknya segeralah pergi dari villa ini dan kembali lah ke kastil papa. Disana Anda akan aman. " ucap Aiden sambil memegang wajah Juan dan menatap khawatir.
"Itu tidak mungkin Aiden. Disaat bulan merah tiba dan tepat berada di atas kekuatan lucifer juga akan bangkit dengan sempurna. Itu membahayakan semua yang ada di villa. " sahut Juan.
"Aiden. Apa yang akan terjadi dengan mu saat itu? " tanya Juan khawatir.
"Sejenak saya akan lupa siapa diri saya? Siapa Anda? Dan saya akan lepas kontrol. " jawab Aiden lirih.
"Berjanjilah Juan, saat itu terjadi pergilah jauh dari sini. Jauh dari jangkauan saya, dan lindungi bayi kita dari saya. " pintah Aiden.
"Aura bayi ini juga akan meningkatkan disaat itu tiba. Dan akan memancing saya untuk membunuh bayi itu karena sebuah persaingan. " jelas Aiden.
"Sedikit banyak, Aura bayi itu juga bisa mengancam kedudukan saya." lanjut Aiden.
"Tapi Aiden, Juan tak mungkin bisa melakukan itu... " jawab Juan sambil memeluk Aiden.
"Bisa pasti Bisa. " ucap Aiden memeluk tubuh Juan yang mungil dan mengecup lembut kepalanya.
Rembulan yang belum sempurna menjadi saksi kemesraan mereka, saksi bisu setiap hela nafas yang memburu mencari kenikmatan dan mencapai puncak kenikmatan. Saling meraba, melenguh dan mendesah hingga malam panjang berakhir dan berganti pagi. Kedua sosok yang saling berpelukan belum satupun rela melepaskan pelukan serasa enggan untuk bangun dari peraduannya.