
(POV Juan)
"Aku tidak tahu harus menghiburmu seperti apa? Tapi ingatlah satu hal Juan. Masih ada kami, masih ada aku masih ada papa dan ayah di samping mu. Jangan lah menyerah akan ketidakadilan nasib mu, hadapilah dengan menatap ke arah depan. Jangan menoleh kebelakang. Tapi lihat lah ke bawah, masih ada yg lebih menderita dibandingkan dengan mu. " nasehat Bara.
"Hiks hiks hiks. Iya Bara. Masih ada kalian, papa dan ayah. Tapi untuk saat ini biarkan Juan menangis sepuasnya, dan besok hanya ada senyum di bibir Juan. " ucapnya di antara isak tangisnya.
"Kenapa kamu jadi cengeng. Kemana Juan yang kami kenal dulu? Juan yang disiplin dan tegas? " ucap Bara sedikit kecewa.
"Maaf untuk saat ini Juan itu masih hilang ditelan gelap nya malam. " jawab Juan sambil tersenyum tipis.
Malam berlalu begitu saja, Bara menemani Juan yang sedang meratapi kesendiriannya. Juan tahu Bara sangat ingin mengganti posisi Louis tapi apa mau dikata tak ada rasa sedikit pun Juan terhadap Bara. Dia hanya menganggap Bara sebagai saudara saja.
Keesokan paginya semua melakukan kegiatan seperti biasa, bercengkrama seperti biasa. Hari minggu di habiskan dengan bersenang senang di rumah dan menghibur Juan agar melupakan masalah nya barang sejenak. Tetapi semua tak berlangsung lama.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di pintu masuk. Kenzo menyadari kehadiran Louis segera menghampiri dan menyambut kedatangannya. Dari kejauhan semua menatap dan merasa penasaran siapa yang datang.
Tak lama kemudian pintu mobil terbuka, betapa terkejutnya setelah tahu siapa yang turun dari mobil. Tampak Louis turun dari mobil tersebut. Sungguh bahagia hati Juan melihat nya dan segera berlari menghampirinya di ikuti juga oleh yang lain.
Disaat hendak mendekat dan memeluknya tak lama kemudian muncul orang lain disamping Louis. Secara reflek Juan berhenti tepat di depan Wilmer, hingga membuat keduanya bertabrakan.
"Ada apa Juan? " tanya Wilmer bingung.
Bukannya menjawab, Juan berbalik arah dan memeluk tubuh Wilmer erat. Wilmer yang kebingungan hanya mampu membalas pelukan Juan.
Dari belakang Yera menepuk punggung Wilmer dan menunjukkan tangannya kearah Louis yang sedang memeluk seorang pria yang sedang menggendong Bayi mungil. Louis tampak tersenyum tipis kearah pria itu. Sadar akan hal itu Wilmer hanya mampu menghela napas panjang.
"Juan lebih baik kita ke kamar ya. Ke kamar lama kamu saja. " bujuk Wilmer.
Juan hanya mampu mengangguk lemah.
Baru kali ini Wilmer melihat sosok Juan yang lemah dan rapuh. Ibarat pohon yang hendak tumbang, tapi beruntung masih banyak pohon pohon kecil yang menopangnya sehingga tidak sampai roboh.
Di dalam kamar Juan hanya mampu termenung.
Disaat semua orang memulai dari awal memperkenalkan diri kepada Louis dan juga Devan pria yang bersamanya, Juan masih juga tidak mau keluar dari kamarnya. Butuh waktu bagi Juan untuk menerima semua ini. Tak sadar waktu berganti malam, Juan tak mengijinkan siapapun masuk kedalam kamarnya. Entah itu Kenzo, Bara, Wilmer, Kemal, Bella, Kyra, Viona dan entah siapapun itu tak ada yang mampu membujuk Juan untuk membukakan pintu nya.
Keesokan paginya Juan akhirnya keluar juga dari kamarnya dan bergabung dengan yang lainnya, hanya saja Juan sudah berubah. Bukan lagi Juan yang periang atau murah senyum. Bukan lagi Juan yang selalu bercanda dan sengaja membuat suasana meja makan begitu hangat. Juan bak seorang manusia es yang berjalan, bisa di bilang hampir sama seperti Charles. Datang dengan tatapan dingin dan datar tanpa ekspresi.
"Abang baik baik saja kan? " tanya Yera gugup.
"Ya." jawab Juan pendek tanpa memandang siapa yang bertanya.
Yera dan yang lainnya menjadi enggan dan takut itu bertanya lagi.
Tak lama kemudian Louis dan Devan datang bergabung dengan yang lainnya.
Louis menatap Juan seakan akan merasa sangat familiar dengan wajah Juan. Juan hanya menatap dan tersenyum tipis.
"Halo salam kenal, saya Louis dan ini istri saya Devan. " ucap Louis memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.
"Hai juga, saya Juan." sambut Juan sedikit dingin.
Mereka pun bergabung di meja makan. Saat pelayan ingin memberikan sarapan seperti biasa buat Juan. Juan menolak nya.
"Juan, kamu kemarin seharian tidak makan. Jadi makanlah krim sup itu. " pintar Kenzo.
"Tidak Ayah, kopi dan beberapa lembar roti tawar saja sudah cukup. " jawab Juan datar.
"Tolong kopi hitam tanpa gula. " perintah Juan pada pelayan.
Sang pelayan hanya mampu menuruti perintah majikannya saja, dan kemudian berlalu dari Juan.
"Ayo lah Juan . Apa kenyang kamu makan itu saja. " protes Bara.
"Come on Bara. Juan gak akan mati hanya karena kelaparan. " jawab Juan sinis.
"Tapi kopi dan beberapa lembar roti tawar tidak baik untuk kesehatan. Apalagi Anda kemarin seharian tidak makan. " sahut Louis.
"Haaaaa..... " keluh Juan .
"Oke saya makan. " ucapnya sambil memakan beberapa sendok krim soup.
Kemudian di sambung dengan secangkir kopi.
"Juan sudah selesai. " ucapnya mengakhiri makannya.
Saat hendak berdiri.
"Juan habiskan makannya. " perintah Louis dengan sedikit memaksa.
Seketika Devan terkejut. Bukan hanya Devan, Louis pun sama terkejut dengan sikap nya itu. Sedangkan yang lainnya hanya diam, karena memang menjadi kebiasaan Louis menegur Juan kalau Juan tidak menghabiskan makannya.
"Saya sudah kenyang, permisi. " jawab Juan dingin.
"Juan.... " panggil Bara.
Juan hanya menatap kearah Bara. Belum juga Juan pergi jauh dari meja makan. Leopard masuk dengan sangat anggunnya dan menggeram pelan. Itu membuat Devan terkejut setengah mati dan segera memeluk Louis yang ada disampingnya. Tentu saja Louis juga terkejut dan merasa baru melihat seekor jaguar yang dengan bebas keluar masuk rumah.
"Pelayan kenapa hewan ini bisa keluar masuk seenaknya. " bentak Louis hingga membuat semua terkejut.
Juan pun menatap Louis tajam. Leopard mengeram keras, seketika Juan memeluk dan menenangkan Leopard.
"Jangan dengarkan ucapannya Leo, naik kekamar Juan, tunggu Juan di kamar. Nanti setelah yang lain datang Juan akan menyusul ke atas. " ucap Juan lembut dan mengecup pelan kepala Leopard.