
(episode sebelum nya)
"Ayo ikut saya kesuatu tempat. " ajak Aiden.
Juan beranjak dari sofa dan mulai mengikuti kemana arah Aiden berjalan.
__________
Sesampainya di sebuah lorong yang tampak panjang dan gelap, awalnya Juan hanya menatap tanpa arti. Mereka yang awalnya berjalan tak beriringan, kini menjadi beriringan.
Semakin jauh kedalam, Juan sedikit terteguk dilihat beberapa orang terpajang di dinding lorong dengan posisi di salib. Bagi Juan itu bukan pemandangan yang baru. Karena Juan sendiri pun sering melakukan itu di markasnya sendiri ataupun di markas nya Charles.
Semakin kedalam semakin banyak bahkan ada yang didalam sel penjara.
"Bagaimana Juan hebat bukan koleksi saya? " ucap Aiden dengan bangga.
Juan hanya tersenyum tipis. Diamati semua manusia yang sebagai sudah disiksa. Awalnya Juan masih menganggap itu hal biasa, tapi makin masuk kedalam Juan semakin tak mengerti. Karena semakin kedalam yang dia lihat adalah perempuan dengan usia masih cukup muda beliau.
"Apa kesalahan meraka? " ucap Juan penasaran.
"Pertanyaan konyol apa itu sayang. " jawab Aiden tersenyum.
Juan terkejut tak percaya dengan jawab Aiden. Juan mulai melihat ke sekeliling nya. Ditatap nya semua yang ada disitu. Tampak raut wajah yang penuh ketakutan dan mengharapkan pertolongan. Melihat hal itu Aiden menjadi sedikit geram, dihampiri seorang gadis yang duduk meringkuk dan mengigil ketakutan.
"Tidak tidak jangan saya, saya mohon lepaskan saya. " ucap gadis itu sambil menangis.
"Diam sayang, ini tidak akan menyakitkan kok. Hanya sedikit perih saja. " ucap Aiden tersenyum bak iblis.
"Saya mohon tolong saya. " ucap gadis itu sambil menatap iba kearah Juan.
Juan hanya mampu menatap tak tahu harus berbuat apa. Aiden mulai memanjangkan kukunya dan merubah leher gadis itu.
Bagi Juan mendengarkan suara pekikan itu bukan sekali dua kali pernah dia dengar. Hanya saja yang berbeda, pekikan yang didengar Juan adalah pekikan dari orang orang yang bersalah, semakin besar kesalahan mereka maka semakin kejam Juan menyiksanya. Sedangkan ini gadis yang ada ditangan Aiden tidak memiliki kesalahan apapun. Melihat tatap iba Juan membuat Aiden tak menyukainya. Didorong nya tubuh gadis itu kepelukan Juan.
"Cepat cicipin darahnya yang masih segar itu. " perintah Aiden.
"Kau gila ya. " pekik Juan tak suka.
"Kau menyuruhku minum darahnya, darah manusia. " bentak Juan.
"Hahahaha, Juan sayang. Darah manusia jauh lebih nikmat dibandingkan dengan darah hewan sayang." jelas Aiden menyakinkan sambil menghampiri Juan dan berdiri di belakang Juan.
"Dan juga jantungnya lebih nikmat di bandingkan dengan jantung hewan. " rayu Aiden sambil meletakkan satu tangan Juan kearah dada gadis itu.
Juan merasakan dentuman yang cukup keras dari dada gadis itu.
Gadis itu menatap Juan dengan pandangan memelas dan merintih kesakitan. Juan menatap lekat gadis yang ada di pelukannya itu. Usia yang hampir sepadan dengan Kyera gadis kecil kesayangan nya itu.
"Tolong lepaskan saya. " rintih gadis itu memelas.
Sejenak rintihan itu mengingatkan Juan akan rengekan Kyera yang tak mengijinkannya pergi.
"Juan, lihat lelehan darah yang nikmat ini. " rayu Aiden sembari memeluk Juan dari belakang.
Dan memperlihatkan darah segar yang mengalir turun dari leher gadis itu.
"Baunya sangat harum dan sangat nikmat sayang. " bisik Aiden.
Antara iya dan tidak. Antara mau dan enggan. Juan sangat bingung tak tau harus berbuat apa. Dia merasa kasih dengan gadis itu tapi disisi lain aroma darah yang tak pernah dia cium sebelumnya membuat Juan sedikit tergoda.
Bukan hanya Juan yang mulai tergoda, Lucifer pun mulai tergoda dengan suara detak jantung nya. Karena selama ini mereka hanya menikmati darah atau jantung hewan. Dan saat di suguhkan darah dan jantung manusia dengan aroma yang berbeda dan tentu saja rasa yang berbeda membuat keduanya mulai sedikit terpancing.