
(episode sebelum nya)
"Dia membuat Felix ku tak percaya padaku. Dia membuat Felix ku meragukan kemampuan ku. Dan kamu membuat aku menderita kehilangan orang yang aku cinta untuk selamanya. So, nikmati lah kepergian orang yang kamu cintai dengan pelan. " dihempas nya dan Juan pun beranjak.
(episode selanjutnya)
"Belati." pintahnya.
Reno memberikan belati itu. Juan tersenyum senang. Dihampiri perempuan itu.
"A... Apa yang ingin kamu lakukan. " ucapnya takut.
"Juan saya mohon jangan siksa istri saya. " pintah Reza memohon.
"Hahahaha..... Memohon lah sepuasmu. " jawab Juan.
"Hmmm Juan mulai dari mana ya. " ucap Juan lirih.
"Aaahhh ini dia. " di goreskan nya belati itu di punggung penuh darah.
"Aaaargggghhh..... " teriaknya nyaring.
"Bagus sayang teriak lah, juan sangat menyukai nya. " senyum juan merekah.
Reno dan yang lainnya mulai bergidik ngeri, inilah yang ditakuti mereka disaat Juan sedang marah. Sangat sadis, bak iblis yang haus akan darah. Setiap siksaannya tak akan pernah membuat musuhnya mati dengan cepat, tapi mati secara perlahan dan menyakitkan.
Dirobeknya baju perempuan itu.
"Hmmm mulus juga, pantas suamimu sangat mencintaimu. Tapi aku tidak suka tubuh perempuan. " ucap Juan sambil digoresnya secara perlahan di pipinya yang tampak terawat dan turun ke leher kemudian berhenti di area ***********.
Darah menetes secara perlahan keluar dari sayatan, istri Reza hanya mampun mendesis merasakan perihnya dan kemudian tiba tiba tanpa aba aba Juan menusuk salah satu *********** dengan belati dan merobeknya dengan cepat.
"Aaaaarrrrggghhhh...... Sakit. " teriakan sangat nyaring merasakan sakit yang tak pernah Dia rasakan.
Reza tak bisa berkata-kata dan hanya mampu menangis melihat istrinya di siksa.
Tanpa sepengetahuan Juan. Charles sudah menyisipkan kamera kecil di tubuh Juan, tepatnya pada kalung Juan, sehingga Charles tahu apa yang dilakukan Juan. Charles hanya mampu menggelengkan kepala, sedangkan Luis terteguk tak percaya.
"Itulah sosok Juan sebenarnya, seorang psikopat. " ucaap Charles
"Wajah manis bak malaikat tapi berhati iblis. " guman Luis.
Charles tersenyum kecil.
"Felix terpikat karena itu juga. " ucap Charles, hingga membuat Luis terkejut.
(Markas Juan)
"Hmmm masih kurang ini masih kurang. " ucap Juan berguman.
"To.... Long.... Le.. Passs. " ucapnya lirih.
"Ehhh apa??? Minta lagi. Wah wah wah ternyata istri mu pintar juga, dia minta lagi. " ucap Juan tersenyum senang.
"Saya mohon Juan hentikan. Biar saya yang menggantikannya. " pintah Reza.
"Menggantikannya ya. " beo Juan.
"Apa kamu fikir Juan juga tak ingin menggantikan posisi Felix. Melihat dia yang tergeletak lemah tak berdaya, apa kamu fikir Juan tak ingin menggantikan posisinya. " bentak Juan.
"Jadi terimalah apa yang kamu tanam Tuan Reza. " lanjut Juan.
"Reno gantung perempuan ini. " perintah Juan.
Dengan segera Reno menggantung istri Reza yang mulai sedikit lemas. Dengan posisi leher terikat tapi tak sampai membuatnya tercekik, kedua tangan terikat diatas, dan kaki terikat dan sedikit tertarik ke bawah.
"Ahkkk. Uhuk uhuk uhuk. " rintihan di sertai batuk ringan dan mengeluarkan sedikit darah segar dari mulut perempuan itu.
Ditariknya Reza dan dihempaskannya di depan istrinya oleh Juan.
"Pa, sakit. " rintihnya pelan.
Juan hanya terkekeh pelan. Sedangkan Reza tak sanggup menatap kondisi tubuh istri nya yang bersimbah darah, setetes demi setete mulai turun dan membasahi tubuhnya.
"Bagaimana Reza cantik bukan hasil karya ku. Tapi ini masih kurang. " ucap Juan mendekati nya.
"Kamu tahu dibagian mana saja Felix terluka? " tanya Juan sambil mendekati istri Reza.
Reza terdiam tak menjawab. Juan semakin geram.
"JAWABBB.. " bentak Juan.
"Saya tidak tahu. " jawab Reza lirih.
"Baiklah akan saya tunjukkan. " sahut Juan.
"Aaaaarrrrggghhhh..... " teriaknya nyaring.
Darah muncrat dan membasahi wajah Reza. Reza terkejut setengah mati.
"Kauuuu... " teriak Reza.
Juan hanya tertawa senang.
"Dan juga bagian sini dan sini. " di tusuknya paha kanan dan kiri istrinya bergantian.
"Aaaaarrrrggghhhh.... " teriaknya lagi.
Dan lagi lagi darah keluar dan mengenai tubuh Reza.
"Paaaaa..... Sa.... Kit.....ampun.... " rintihnya tak sanggup menahan sakit.
"Hahahahaha. Sangat merdu sekali sayang. " ucap Juan tertawa senang.
Reza semakin lemas tak berdaya.
"Juan saya mohon hentikan. " pintah Reza gemeter ketakutan.
"Hentikan, kamu bilang. Hentikan. Hahahaha.. " tawa Juan menggema.
"Tidak akan. " bentak Juan.
"Aahhkkk... Pa.... " tangis istri nya.
"Merintih lah sayang, rintihan dan teriakan mu sangat merdu. " ucap Juan tertawa senang.
"Juan saya mohon lepas kan istri saya dia sudah tidak tahan lagi. " ucap Reza memohon.
"Ohhh sudah tak tahan lagi ya. " ucap Juan.
"Benarkah itu. Padahal Juan masih ingin menunjukkan tempat dimana orang suruhan kamu melukai felix ku. Apa saat itu dia menaruh rasa kasihan saat membrondong kekasihku dengan pistolnya. " lanjut Juan.
"Kamu." Juan pun membungkuk dan menarik
rambut Reza hingga kepalanya mendongak keatas.
"Luka yang paling fatal adalah berada di sekitar jantung nya dan di kepalanya. Harus kah Juan melakukan yang sama kepada istri mu itu.? " tanya Juan.
"Lebih..... Baik....kau... Bu... Nuh... Sa...ja.... " ucapnya terbata bata.
"Oohh. No no no itu tak akan mungkin terjadi sayang. " jawab Juan tersenyum manis.
"Tapi tidak adil bagi kekasihku sayang. Dia terluka di tempat yang paling fatal tapi istri kamu tidak. " ucap Juan di lepasnya cengkraman Juan.
"Hmmm enaknya di bagian mana sebagai pengganti nya ya. " ucap Juan mendekati istri Reza sambil mengamati dengan seksama di setiap titik tubuh istri Reza.
"Juan, saya mohon lepaskan istri saya, Dia sudah tidak sanggup lagi. " pintah Reza dengan penuh merasa bersalah.
"Ahh ketemu, tempat yang paling di sayang oleh suami kamu. Tempat yang selalu menghangatkan ranjangnya di kala malam hari. " ucap Juan sambil tersenyum bak iblis yang hendak memakan mangsanya.
Kilatan warna merah mata nya mulai tampak. Tanpa mengharapkan perkataan Reza, Juan mulai semakin mendekati istri Reza. Semua anak buahnya mulai memalingkan wajahnya, ada yang menutup matanya dengan kedua tangan bahkan ada yang menutupnya dengan sapu tangan. Reza tampak bingung dengan ulah semua anak buah Juan. Tapi dengan sekali gerakan tangan....
"Ahhkkk. Aaaaaaaaaaaagrrr...... " terdengar teriakan histeris istri Reza dengan cukup keras.
Reza terkejut bukan main melihat apa yang terjadi. Tampat jelas terlihat Juan menancapkan belatinya dengan cukup dalam dan memutarnya dengan cepat belati itu ke dalam alat vital istrinya itu. Juan tertawa senang dan keras mendengar teriakan istri Reza. Semua anak buahnya terdiam dan tak berani membuka mata mereka. Bahkan Charles dan Louis yang mengamati dari kamera mininya sangat syok di buatnya dan tak mampu berkata apa apa.
Ini lah alasan semua anak buah Juan menutup matanya, walau buka wanita tapi rasa ngilu ikut terasa, apalagi Juan tertawa senang dengan apa yang di lakukannya.
Di cabut nya dengan kasar belati itu. Kembali istri Reza tersentak dan berteriak lagi dan pingsan. Darah segar keluar dengan cukup banyak dari area tersebut. Reza terpaku tak mampu bergerak, seakan akan semua itu hanya mimpi. Tangan Juan bersimba darah, mata merah mulai tampak jelas di mata Juan. Di jilat nya tangannya yang bersimba darah itu.
"Hmmmm, bukan darah seorang gadis. Tapi lumayan buat penghilang dahaga. " ucapnya sambil terkekeh senang.
"Kalian. Buka mata kalian dan bangunkan dia!! " perintah Juan.
Segera semua anak buahnya membuka mata. Dan salah satu anak buahnya mengambil seember air, di siramnya tubuh istri Reza hingga kembali terbangun dan merintih kesakitan.
"Sakit ya. Duh kasihan kamu kesakitan. " ucap Juan sambil tersenyum tipis.
"Kalian, apa obat yang Juan minta sudah siap.? " tanya Juan pada anak buahnya sambil menjilat darah yang ada di tangannya. Kemudian mengambil sapu tangan dan membersihkan nya lalu membuangnya.
"Sudah ketua. " sahut mereka dan kemudian memberikannya pada Juan.
"Wahhh bagus sekali. Pintar kalian. " ucap Juan senang.
"Berhubung Juan sedang ingin berbaik hati, maka luka istri mu akan Juan obatin. " ucap Juan lagi.
"Juan baik kan. " lanjut nya.
Bukannya senang, Reza semakin khawatir. Sebuah bubuk dan botol cairan yang cukup mencurigakan bagi nya. Reza tak tahu lagi apa yang akan terjadi pada istri. Yang jelas dia merasa sangat takut, hati nya tercabik cabik melihat istrinya menangis pilu menahan sakit. Dia merasa bersalah dan menyesal, tapi nasi sudah menjadi bubur.