Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Putus Asa



Waktu terus berjalan. Juan masih saja pulang pergi untuk mencari keberadaan King. Jangan kan hawa, atau aura King jika memang masih hidup Juan dapatkan. Bahkan jika King mati pun Juan tak juga menemukan jasadnya.


"Aaaaaaarrrrrrrgggggg..... " teriak Juan ditengah tengah hutan dengan sangat putus asa.


"Kingggggg dimana kamuuu.... " teriak Juan menggema di seluruh hutan.


Hingga membuat semua penghuni hutan bersembunyi ketakutan, merasakan aura Juan yang penuh kemarahan.


Bukan hanya penghuni hutan, penghuni kastil pun merasakannya. Bella, Kyera, Ella, Wilmer dan juga Kemal tiba tiba bergidik ngeri. Rasa takut tiba tiba menghampiri. Mereka terdiam tak bersuara hanya mampu menatap layar TV tapi pikiran mereka takut tanpa alasan yang pasti. Kyera memeluk erat tubuh Ella. Detak jantung yang berdetak cepat terasa bahkan terdengar.


"Kak takut. " keluh Kyera.


Ella hanya mampu memeluk dan mengelus kepala Kyera lembut mencoba untuk menenangkan. Sedangkan dirinya pun merasakan yang sama. Dan akhirnya Bella ikut memeluk tubuh Kyera saling menenangkan.


Di tempat lain Aiden tersenyum.


"Akhirnya Anda putus asa juga. " ucap Aiden berguman.


Kemudian Aiden pun keluar dari kamar nya, turun menghampiri yang lainnya di ruang TV. Melihat tingkah mereka yang seperti tikus habis tersiram air membuat Aiden ingin tertawa.


"Dasar manusia lemah. " ucapnya lirih.


"Untuk apa Papa memelihara manusia tak berguna seperti ini. " keluh Aiden.


"Kalian semua. " ucap Aiden tiba tiba.


Mereka semua langsung terkejut bukan main.


"Aiden. Jantung ku hampir saja copot. " pekik Wilmer yang sempat pucat pasi karena terkejut.


Ditatap nya wajah semua orang yang di depannya yang semua tampat tersentak dan bahkan Kyera hampir menangis di buatnya.


"Jika takut masuk kamar " ucap Aiden.


"Atau kalian akan semakin takut saat Juan pulang" perintah Aiden.


Seketika itu mereka semua beranjak dari duduk nya dan pergi ke kamar masing-masing. Kecuali Ella dan Kyera, mereka lebih memilih itu tidur di bertiga di kamar Bella. Aiden hanya mampu menggelengkan kepalanya saja.


"Benar benar manusia yang lemah. " ucap Aiden sinis.


Tak lama kemudian Juan pulang dengan kondisi penuh amarah. Matanya merah menyala dengan tatapan mata penuh dengan kemarahan.


Rambutnya panjang hitam tergerai. Kukunya memanjang dan hitam mengkilat. Tak hanya itu sayap hitamnya membentang dengan sangat angkuhnya.


"Minggir." ucap Juan geram.


"Tenang kan dirimu sebelum masuk. " ucap Aiden tenang.


"Kau tak berhak mengatur ku. " ucap Juan marah.


"Ini rumah Papa, dan yang tinggal dirumah Papa adalah tanggung jawab Saya. " jelas Aiden tenang.


"Anda mau menunjukkan kesombongan Anda ini kepada siapa. " ucap Aiden meremehkan.


Juan terdiam sesaat. Kemudian secara berlahan sayap itu mulai menutup dan hilang. Hanya saja aura amarah masih tersimpan.


"Keluar kan semua amarah Anda diluar. " ucap Aiden dengan datar.


"Itu bukan urusan mu. " jawab Juan sinis.


"Juan dengar, saya bisa membantu menemukan peliharaan Anda yang menghilang. " ucap Aiden menyakinkan.


Juan menatap tajam. Tatapan tak percaya dan penasaran dari mana Aiden tahu kalau Dia sedang mencari King.


"Kenapa terkejut karena Saya tahu semua? " ucap Aiden tersenyum licik.


"Iya." jawab Juan polos dan mulai sedikit tenang.


Disentil nya pelan kening Juan.


Juan hanya mampu mengaduh dan mengusap pelan.


"Bodoh. Di kastil ini tidak ada yang tidak saya ketahui. " ucap Aiden berbohong.


"Apalagi hanya masalah hilangnya seekor Anjing. " ucap Aiden sinis.


"Kau, King bukan sekedar seekor Anjing. " bentak Juan tak terima.


"Lalu apa kamu bisa menemukan King? " ucap juan meremehkan.


"Sedangkan Aku yang sudah mencarinya tidak juga menemukannya. Jangan kan hawa keberadaannya. Kalau pun mati Aku tidak menemukan mayatnya. " ucap Juan geram.


"Bodoh, jangan samakan Saya dengan Anda" ucap Aiden sombong.


"Tapi semua tidak gratis. Harus ada imbalan untuk Saya." ucap Aiden tersenyum bak iblis.