Love Is Full Of Wounds

Love Is Full Of Wounds
Perubahan Juan



Juan kembali pulang tapi kali ini dia tak lagi berlari seperti sebelumnya. Melainkan terbang ke angkasa, sedangkan Leopard kembali berlari dan berpisah dengan Juan. Leopard kembali pulang ke tempat dimana dia tinggal.


Juan turun dengan pelan di balkon depan kamarnya, disaat semua penghuni masih terlelap dan terbuai mimpi. Hanya Charles yang dapat merasakan kehadirannya. Charles tersenyum tipis menandakan kelegaan nya.


Pagi harinya disaat semua mulai berkumpul di meja makan tentu saja kali ini Charles ikut makan pagi bersama. Juan turun dengan santai nya.


Dan masih tetap sama dengan tatapan dingin, datar tapi kali ini juga tanpa ekspresi. Semua terkejut dengan kehadiran Juan, aura Juan pun berubah sedikit menakutkan. Charles hanya tersenyum tipis.


"Kak Juan kapan pulang nya.?" Tanya Bella.


"Semalam." jawab Juan pendek.


"Apa yang kamu dapat Juan? " tanya Charles.


"Semuanya." jawab Juan sambil meminum secangkir kopi.


Dan kemudian beranjak dari kursinya.


"Kamu makan dengan benar. " tegur Louis.


"Maaf, saya tidak lapar. " jawab Juan sembari berlalu.


"Louis, biarkan dia. " tegur Charles.


"Pa, besok saya dan Devan kembali pulang ke Amerika. Masih banyak yang harus saya kerjakan disana. Sedangkan disini kehadiran Saya tidak diharapkan. " ucap Louis datar dan sedikit kecewa


"Kenapa kau sampai berkata demikian Louis. kami semua senang kau kembali. " ucap Wilmer.


"Tapi tidak dengan Juan. Seperti kedatangan Saya membuat Dia merasa tidak nyaman." jawab Louis.


"Terserah Anda. " ucap Charles pendek dan meninggal meja makan.


Kenzo hanya menghela napas panjang.


Kepergian Louis dari rumah tak membuat Juan berubah. Sikap nya makin menjadi, hampir setiap malam Juan pergi dari rumah dan pulang dengan penuh darah di badannya walau itu bukan darahnya. Hingga membuat Kenzo sedikit khawatir.


"Charles, aku sedikit khawatir dengan kondisi Juan. Apa yang harus kita lakukan, semakin hari dia semakin jauh dari kata manusia. " ucap Kenzo cemas.


"Anda benar." jawab Charles.


"Sejak menemukan jati dirinya, tahu siapa dirinya Juan semakin lepas kontrol. Harus ada yang mengontrolnya lagi. Tapi siapa yang bisa mengontrol seorang iblis? Manusia biasa tidak akan bisa. " lanjut Charles datar.


"Apa mungkin Dia bisa bantu? " tanya Kenzo.


Charles menatap tak percaya.


"Apa perlu, kita panggil Dia juga? " tanya Charles lagi.


"Iya, siapa tahu Dia bisa mengontrol iblis dalam diri Juan. Secara Dia juga bukan. " ucap Kenzo tak meneruskan.


"Nanti akan saya usahakan. " jawab Charles pendek.


"Baiklah Saya harus ke kantor, mungkin saya tidak bisa pulang lagi hari ini. Maaf ya masih banyak yang harus saya kerjakan disini. " ucap Charles sambil mengecup kening Kenzo.


"Mungkin saya harus panggil dia juga untuk membantu saya disini. Biar saya punya waktu berdua dengan anda lebih banyak lagi. " lanjut Charles.


Kenzo hanya tersenyum tipis.


Hari terus berlalu, Juan semakin menjadi. Semakin jauh dari semua, jarang berkumpul seperti biasa tapi tetap mengontrol semua anggota keluarga yang lain. Sebisa mungkin Juan menekan jiwa iblis nya saat bersama yang lain.


Namun berlahan lahan, warna mata Juan mulai berubah. Awalnya Juan tak tahu dan tak menyadarinya. Hingga Yera yang selalu mengamati perubahan Juan mulai khawatir.


Di siang hari saat Juan sedang sibuk di ruang kerja sengaja Yera menghampiri Juan. Di ketuk pelan pintu ruang kerja Juan.


Tok tok tok


"Masuk." sahut Juan dingin.


Dengan pelan Yera membuka pintu dan masuk ke dalam. Juan menatap dan mencoba tersenyum tipis.


Yera segera duduk dan merebahkan kepala nya di meja kerja Juan.


"Apa abang baik baik saja? " tanya Yera sambil mengamati semua gerak gerik Juan.


"Maksud kamu apa Yera.? " jawab jauh balik bertanya.


"Abang sudah berbeda. " keluh Yera.


Juan berhenti dan kembali menatap Yera. Di elus nya pelan kepala Yera dengan lembut.


"Berbeda gimana Yera. Abang masih sama seperti yang dulu. " ucap Juan mencoba menenangkan Yera.


"Tidak abang bukan seperti abang yang dulu. Dan ada apa dengan warna mata abang. Apa abang sakit? " tanya Yera terus terang.


"Mata abang. Abang tidak sakit Yera. Memangnya warna mata abang seperti apa? " ucap Juan bingung.


"Apa tidak ada yang bilang ke abang kalau warna mata abang mulai berubah. Buka abu abu bening lagi, walau cantik tapi berubah menjadi merah walau sedikit pudar. " Jawab Yera jujur.


"Merah. Iyakah? Sebentar. " jawab Juan sembari beranjak dan berjalan ke lemari dan melihat cermin.


"Kamu benar sedikit memerah. Mungkin kurang tidur Yera." ucap Juan berbohong.


"Abang. Kami tahu abang banyak masalah, abang sakit hati. " ucap Yera sambil mendekat.


"Tapi abang masih ada kami disisi abang, Yera mau abang seperti dulu lagi. Abang yang ceria, abang yang lembut walau tegas, abang yang penyabar. Kemana abang kami yang dulu. " pintah Yera sambil memeluk dari belakang.


"Kyera Wyne Velika. Kyera adik abang yang paling abang sayang. " ucap Juan sembari memutar badan dan memeluk.


"Maaf Kyera. Abang yang dulu mungkin akan susah untuk kembali, abang sudah tahu siapa abang? kenapa abang ada disini? dan apa yang harus abang lakukan selanjutnya. " ucapnya berusaha menghibur.


"Dengar Kyera, apapun abang?, siapa pun abang? Dan seperti apa abang kelak? Bang Juan tetap bang Juan. Yohanes Juan Christopher tetep abang buat kalian semua, dan selalu menjaga kalian semua. " ucap Juan berusaha menyakinkan.


"Apa maksud abang. Yera tidak paham? " tanya Yera bingung.


"Bukan sekarang, tapi sebentar lagi. Tunggu bulan merah datang, disaat itu semua akan terungkapkan siapa abang sebenarnya. Dan kalian bisa memutuskan apa abang masih pantas menjadi abang kalian. " jelas Juan sembari tersenyum tipis.


"Dah sana keluar, abang mesti membereskan pekerjaan abang. Sebentar lagi kita akan menyambut penghuni baru, anak angkat papa yang lain. " ucap Juan.


"Iya kah. Akan ada seseorang lagi yang datang? " tanya Yera sedikit khawatir.


"Iya, dan kita lihat nanti seperti apa dia. " jawab Juan.


"Abang jangan terlalu lelah ya. " sahut Yera khawatir.


"Iya, akan abang usahakan. " jawab Juan berusaha menyakinkan.


Kyera pergi meninggalkan Juan sendiri di ruang kerjanya. Sepeninggal kyera, Juan kembali mengamati cermin.


"Sepertinya sebentar lagi akan terbongkar sudah identitas kita Lucifer. " ucap Juan menatap cermin.


Seketika sebelah mata Juan berubah merah pekat. Dan dari punggung Juan tiba tiba muncul dua pasang sayap hitam legam yang sangat besar dan cukup elegan dan indah.



"Kamu benar. Aku juga merasakan kekuatan lain semakin mendekat, mereka menemukan kita. Tinggal apa kamu rela meninggalkan mereka Juan. " ucap Lucifer.


"Ini keluarga ku Cifer. Disini aku tinggal, dan kamu adalah milikku. Tidak akan ada yang bisa paksa aku untuk meninggalkan mereka ataupun melepaskan mu. Paham itu!!!. " hardik Juan tegas.


"Yes, my lord. Kamu adalah majikanku, kamu lah yang menguasai ku. Aku Lucifer hanya akan tunduk dan patuh kepadamu Yohanes Juan Christopher. " ucap Lucifer sedikit menundukkan kepalanya.


Dan gerakan Juan mengikuti apa yang di lakukan Lucifer.


Secara Lucifer sudah menyatu seutuhnya kedalam tubuh dan jiwa Juan. Walaupun dia jiwa dalam satu tubuh Juan lah yang menguasai semuanya, dan Lucifer hanya mampu menguasai tubuh Juan kalau Juan menyetujui atau menginginkannya.


Tanpa di ketahui Juan dan juga Lucifer, Kyera melihat semua nya. Ternyata Kyera belum pergi dari ruang kerja Juan.