
"Sudah simpan cuka mu di dalam perut itu. Ayo kita kekamar saja. " ucap Kenzo lembut dan menggandeng tangan Charles untuk pergi dari kamar Juan.
"Mattheo bantu saya melepas celana Juan. " tegur Alferdo.
Mattheo menatap tak percaya mendengar perkataan Alferdo.
"Jangan berfikir aneh aneh, Juan punya kebiasaan memakai celana pendek. Dan ah ya jangan terpesona dengan kemolekan tubuh Juan nanti. " ucap Alferdo sambil menggoda Mattheo.
"Dok, jangan bercanda terus. Pasien Anda sedang sekarat. " tegur Juan sambil meringis menahan sakit.
"Saya kira Anda pingsan tadi, ternyata Anda pura pura pingsan ya. " ucap Alferdo tersenyum tipis.
Mattheo menatap tak percaya kearah Juan, mattheo sendiri pun mengira hal yang sama yaitu pingsan. Alferdo menatap Mattheo dan memberi isyarat untuk membantu nya.
"Pelan pelan kali ini sangat sakit sekali. " rintih Juan sambil menatap kearah tangan kirinya yang juga terluka.
"Apa Anda tak merasa Dejavu Juan. Luka yang sama dan ditempat yang sama. " ucap Alferdo menatap luka di paha dan juga di telapak tangannya. Mattheo menatap tak percaya kearah Alferdo dan juga Juan.
"Iya, tapi kali ini Papa menekannya dengan sangat dalam sampai sampai menembus disamping tulang. " ucap Juan lirih.
"Ahkk... Sakit dan panas sekali rasanya. " keluh Juan.
"Apa Papa menancapkan belati yang membara, sampai sampai luka Anda terbakar seperti ini. " ucap Mattheo lirih sambil mengusap lembut paha Juan.
Mattheo tak sadar dengan apa yang dilakukannya.Tubuh Juan yang sensitif dengan sentuh lembut, hanya dengan sedikit sentuh lembut saja mampu memprovokasi Juan. Juan hanya mampu memejamkan mata saat Mattheo menyentuh paha Juan. Dengan cepat Juan menangkap tangan Mattheo dan menggeleng pelan. Alferdo tertawa kecil melihat nya. Mattheo terkejut dan melepaskan genggamannya, Dia mengira kalau sentuhannya membuat Juan merasa kesakitan. Karena melihat muka Juan yang mulai memerah, lebih tepatnya di bagian telingannya.
"Mattheo bantu saya. Pegang tangan Juan atau tubuh Juan, saya akan menjahit lukanya. " ucap Alferdo tegas.
Mattheo pun duduk dan memeluk tubuh Juan tanpa menyentuh punggung Juan. Tapi melingkarkan tangannya ke leher Juan serta sedikit membenamkan wajah Juan ke dada nya. Tak ayal perbuatan itu membuat Juan semakin memerah hingga ketengkuknya
"Saya bilang pegang bukan peluk. Tapi terserah lah buat Dia nyaman. " ujar Alferdo sambil kembali tertawa.
"Sudah tertawanya dan cepat lakukan. " ucap Juan semakin malu di buatnya.
"Ahh... Maaf, tapi kenapa tidak dibius saja agar tak terasa sakit. " ucap Mattheo tak mengerti.
"Juan kebal dengan obat bius jadi percuma membius dia dengan obat itu, kecuali dengan morfin dosis tinggi baru dia akan tertidur pulas. " jelas Mattheo sambil menjahit luka Juan.
Mattheo menatap tajam kearah Alferdo dengan tatapan tajam dan tak suka. Alferdo hanya diam dan pura pura tak tahu.
"Sshhttt....... " rintih Juan sambil mencengkram baju Mattheo.
Mattheo mempererat pelukan membantu Juan agar tak banyak bergerak.
"Tangan Anda yang terluka jangan di buat untuk mencengkram nanti semakin lebar lukannya. " bisik Mattheo ditelinga Juan.
Blusss...
Wajah Juan semakin merona, tak hanya telinga kini rona merah menyebar hingga ke tengkuk dan leher nya Juan. Melihat itu Alferdo semakin tertawa.
"Diam kau Alferdo, dan kerjakan tugas mu. Uuhk... " tegur Juan sambil merintih kesakitan.
"Hahahaha.... Mana ada pasien sakit tapi wajahnya merona seperti itu Juan. " ucap Alferdo tertawa sambil membalut luka Juan yang selesai di jahit.
Mattheo menatap kearah Juan dan tersenyum.
Karena tangan yang satunya sedang di jahit pula.
"Iya iya. Tapi Anda sangat manis, jadi sayang untuk dilewatkan. " rayu Mattheo untuk mengalihkan perhatian Juan dari rasa sakitnya.
"Dasar.... Uhhk.... " rintih Juan lirih.
"Selesai, sekarang punggung Anda. Juan ganti posisi Anda dengan tengkurap. " perintah Alferdo.
"Masih saja cukup kejam. " keluh Alferdo saat melihat luka di punggung Juan.
"Ini ketiga kalinya Anda terluka seperti ini Juan. Sudah cukup lama Anda tak mendapatkan luka seperti ini. " ucap Alferdo sambil mengobati luka Juan.
"Apa Anda sangat merindukan luka itu, sampai-sampai Anda membuat kesalahan lagi? " tanya Alferdo penasaran.
"Bodoh. Mana ada orang yang rindu untuk mendapatkan luka. " sarkas Juan.
"Apa sebelumnya Juan pernah terluka seperti ini? " tanya Mattheo tak percaya.
"Iya, tapi sudah cukup lama. " jawab Alferdo pendek.
"Sudah selesai. Ingat jangan terkena air sampai luka Anda sembuh. Dan biarkan pelayan yang merawat luka Anda. " jelas Alferdo.
"Dan Anda Mattheo, berhubung saya ada disini sekalian saja saya periksa luka Anda. " lanjut Alferdo.
Segera Mattheo melepas kemejanya dan membiarkan Alferdo memeriksa lukanya.
"Bagus, lukanya mengering dengan sempurna. Sebentar lagi akan sembuh. " ucap Alferdo.
Alferdo beranjak dari duduknya dan ingin meraih telpon rumah untuk menghubungin pelayan yang berada dibawah. Belum sempat Alferdo mengangkat telpon....
"Paman. Biar saya saja yang merawat Juan kali ini. " ucapnya.
Alferdo menatap kearah Mattheo.
"Selama ini Juan sudah merawat saya dengan baik. Jadi biarkan kali ini saya yang merawat nya. " ucap Mattheo sambil menatap kearah Juan yang sudah tertidur karena lelah menahan rasa sakitnya.
"Terserah Anda saja. " ucap Alferdo dan menjauh dari meja.
"Ingat oles luka Juan dengan baik. Lukanya akan sangat lama sembuh. Apa lagi luka yang di tangan dan pahanya itu membutuhkan waktu yang sangat lama. " jelas Alferdo.
Mattheo tak mengerti kenapa bisa luka yang seperti itu akan membutuhkan waktu yang lama itu sembuh. Karena menurut perkiraannya 3 atau 4 minggu saja pasti sudah akan sembuh.
"Juan berbeda dengan orang yang lainnya, saya rasa Anda mengerti maksud saya. Tak mungkin Anda tak mendapat info, atau mendengar rumor tentang anak anak angkat Papa Anda. " jelas Alferdo.
"Saya sedikit mendengar tapi tak percaya. " ucapnya pendek sambil menyelimuti tubuh Juan yang hanya memakai celana pendek saja.
"Terserah Anda dan rawat saja lukanya. " ucap Alferdo sambil menyerahkan obat dan meninggalkan kamar Juan.
"Apakah benar Anda seorang iblis Juan. Tapi adakah iblis yang semanis Anda. " ucapnya sambil menatap Juan yang tertidur pulas.
"Wajah yang manis, kulit putih pucat, mata yang sendu seakan sangat rapuh. Iblis macam apa Anda ini? " ucap Mattheo lirih dan kemudian meninggalkan kamar Juan.
Hari hari terlewat begitu saja, dengan penuh perhatian Mattheo merawat Juan. Dan melarang siapa pun untuk membantu nya merawat Juan. Perhatian Mattheo membuat Juan semakin luluh. Hatinya yang dingin semakin mencair, rasa cinta yang dulu tertutup es mulai mencair, pintu yang dulunya ia tutup rapat rapat mulai terbuka kembali. Ya... Juan terpesona oleh Mattheo. Bukan hanya terpesona dengan ketampanan nya, tapi terpikat dengan rasa nyaman dan perhatian yang di berikan oleh Mattheo kepada dirinya. Juan mulai jatuh hati lagi lagi dan lagi.