
Luka Juan semakin bertambah parah di bagian punggung, luka bekas cambukan bercampur dengan luka sebelum. Sehingga tampak lebih parah dari sebelumnya.
"Ini bukan cambuk biasa yang Papa gunakan untuk menghukum seseorang. " guman Felix saat melihat luka Juan.
Tak lama kemudian Alferdo datang dan melihat Juan terkapar di sofa. Sambil menahan rasa sakit dan panas pada punggung dan paha nya.
"Astaga sadis nya Papa kamu Felix. " ucap Alferdo merasa iba pada Juan.
"Minggir semua jangan berkerumun. Haaaa... Baru saja saya menjahit lukanya dan ini terbuka lagi. Dan ini lebih parah dari sebelumnya. " gerutu Alferdo sambil merawat luka Juan.
"Ahhkkk.... Tolong pelan pelan. " rintih Juan.
"Dok, gunakan bius lah. Kenapa main jahit saja. " protes kemal saat melihat Juan meringis kesakitan.
"Juan menolak obat bius, jadi percuma memakai obat bius. " jawab Alferdo pelan.
Tak jauh dari Juan yang sedang di obati Bara memandang Juan dengan perasaan bersalah. Tetapi apa mau dikata aura pemikat iblis benar benar sudah merasuk kedalam hati Bara.
"Felix, ini bukan cambuk biasa. " ucap Alferdo menatap Felix curiga.
"Iya, om. Bekas cambuk nya membuat luka punggung Juan seperti terbakar. Cambuk apa yang digunakan Papa. " Felix tampak khawatir.
"Papa kamu terlalu kejam, tapi kalau tidak kejam bukan Papa kamu namanya. " jawab Alferdo sambil bercanda.
"Dan ini pelajaran buat kalian. Jangan pernah melakukan kesalahan atau melanggar peraturan. Ingat..... " belum selesai Alferdo berkata, dia di kejutkan dengan 3 sosok hewan yang tiba tiba saja masuk dan menghampiri Juan.
Leopard menggeram keras, seakan akan memberi peringatan agar menjauh dari tubuh Juan. Seketika itu Alfredo jatuh terduduk karena rasa takut dan terkejut sekaligus. Untung saja saat itu dia sudah selesai menjahit luka Juan. Dengan lemah Juan mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar mendekat. Dan benar saja ketiganya langsung mendekat.
"Jangan khawatir, Juan baik baik saja. " ucap Juan lirih menenangkan ketiga peliharaannya.
King menggonggong pelan.
"Iya baiklah terserah kalian. " ucap Juan sambil tersenyum.
"Kalian berdua bisa minggir sebentar. " pintah Juan pada Alferdo dan Felix.
"Sshhhhhttttt....... " rintih Juan kembali saat luka dipunggung nya di jilat oleh leopard.
Leopard menggeram pelan.
"Iya leo, ini sakit sekali. " rintih Juan.
Semua yang mendengar hanya terdiam tak bisa berkata apa apa lagi. Semua gadis hanya mampu terisak menahan tangis, berbeda dengan Yera yang menangis keras di dekapan Viona.
Queen menggonggong pelan.
"Jangan khawatir, Juan masih kuat. " ucap Juan lirih dan membalikan badannya.
"Aahkkk... " rintih nya saat punggung Juan menempel pada sofa.
"Juan jangan terlentang, miring saja. " nasehat Alferdo.
"Dan kalian lanjutkan aktivitas kalian, biar kan Juan istirahat. " perintah Alferdo.
Semua bubar kecuali Yera, Viona, Wilmer dan Bara yang mulai mendekat.
"Juan, maafkan aku. " ucapnya lirih.
"Sudah lah, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan kamu. " balas Juan sambil meringis
"Ini juga kesalahan Juan. " ucap Juan sambil menempatkan punggungnya dalam posisi yang nyaman.
Tampak terlihat jelas luka tusukan di paha Juan yang masih mengalir dari segar.
"Tolong robek celana Juan agar luka itu terlihat. " pintah Juan.
Felix segera merobek celana yang menutupi luka Juan, betapa terkejutnya mereka melihat luka di paha Juan. Bukan sekedar tusukan lebih tepatnya sebuah koyakan. Segera leopard menjilat kembali luka Juan. Tapi kali ini Juan benar benar merasa kesakitan yang teramat sangat hingga membuatnya pingsan. Usai menjilat luka Juan leopard segera mundur seolah olah meminta Alferdo melanjutkan tugas nya.