I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 99 : Tuan Rumah Yang Sesungguhnya



Pintu gerbang terbuka perlahan dan rombongan Mavis muncul dari arah luar. Kemudian itu mulai berjalan masuk dengan ditemani para prajurit yang telah setuju untuk memilih tunduk kepada Mavis sebagai tuan baru dari mereka.


Segera, apa yang dirasakan pertama kali setelah memasuki pemukiman itu begitu membuat Mavis heran. Suasana di sana terasa sangat sunyi, jalanan yang seharusnya dipadati oleh orang yang berlalu lalang seketika menjadi tanah tak berpenghuni. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. Rumah dan pertokoan yang berada di dalam pemukiman semuanya pun menutup tirai jendela mereka, pintu pun terkunci rapat dan terlihat penampakan beberapa orang yang tertangkap basah tengah mengintip dari balik sela tirai jendela mereka.


Ini membuktikan bahwa kedatangan Mavis memang sudah diketahui jauh hari oleh Baron Gustav. Pria tirani itu pasti sudah merencanakan semuanya, menyuruh semua penduduk untuk tidak keluar rumah ketika saatnya tiba sang pangeran datang. Itu akan menjadi penghinaan yang besar karena tidak mendapatkan sambutan yang layak.


Tentu, rencana seperti itu sebenarnya lumayan bagus untuk digunakan kepada sang pangeran biasanya, hanya saja apa yang tidak dia ketahui bahwa Mavis bukanlah orang yang peduli tentang penghormatan dan sejenisnya, dia bukanlah seperti pangeran atau penguasa biasanya. Hal seperti ini bukanlah apa-apa baginya, malah tidak berarti. Biarlah para penduduk itu berdiam diri di dalam tempat tinggal masing-masing. Itu akan jauh lebih baik bagi kelompok Mavis untuk memberi mereka ruang untuk bergerak, jika datang waktunya pertempuran yang tidak bisa terelakan terjadi di jalanan.


Namun, seperti dugaan Mavis pemukiman ini nampaknya telah kehabisan prajurit. Itu karena smua prajurit di tempat ini haruslah prajurit yang sebelumnya dibantai habis di tangan para pelayan Mavis, ketika kelompok itu masih berada di wilayah luar pemukiman. Pasalnya, semenjak rombongan itu menampakan diri dan mengendarai tungangannya dengan santai di jalanan, tidak ada satupun tanda-tanda dari prajurit yang datang untuk menghadangnya. Hal itu terus berlanjut sampai kelompok Mavis tiba di depan kediaman Baron Gustav. Terlihat dari jarak kejauhan, di tempat itu sudah berdiri para penjaga pribadi milik baron tersebut.


Menurut apa yang dikatakan Buster mengenai aura yang dimiliki para penjaga itu setidaknya mereka berada pada tingkatan lencana hijau, tidak begitu lemah ternyata. Mavis pun mengangguk dan membawa kelompoknya itu untuk mendekat. Sesampainya barulah para penjaga itu bersiaga dan memblokir jalan Mavis untuk lewat.


"Kalian tidak diizinkan masuk ke tempat ini, pergilah!" Penjaga yang berada di tengah mengirimkan tatapan tidak suka kepada kelompok Mavis.


"Kau pikir siapa? Beraninya mengusir Pangeran!" kata Velinka.


"Pangeran?"


Penjaga itu seketika linglung. Lelucon macam apa ini? Sebelumnya, dia adalah aorang yang meneruskan pesan dari si pria berkacamata kepada para prajurit, untuk segera pergi menghabisi sang pangeran di luar pemukiman. Namun, mengapa prajurit wanita itu mengatakan bahwa bocah ini merupakan pangeran itu sendiri? Penjaga itu pun menjadi gugup seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh kru tersebut, dan mendapati pakaian yang dikenakan prajurit dari kelompok itu memang pakaian khas yang sering digunakan prajurit di wilayah benteng utama kerajaan.


Penjaga itu pun berbisik di telinga penjaga lainnya, kemudian itu pergi masuk ke dalam untuk melaporkannya kepada baron yang mereka layani.


Sementara itu, berada di lantai dua bangunan itu, ketika Baron Gustav tengah menyantap buah-buahan dan ditemani tiga pelayan wanitanya, penjaga yang sebelumnya berada di bawah itu masuk dengan tergesa-gesa. Mimik wajahnya menjadi jelek begitu dia bersujud memohon ampun karena telah lancang masuk tanpa izin terlebih dahulu. Kemudian dia mulai memberikan alasan mengapa dia datang dengan sembrono seperti itu.


"Tuan, Pangeran Asta telah tiba dan sekarang sudah berada di bawah," kata penjaga itu dengan wajah cemas.


"Omong kosong! Para prajurit seharusnya sudah membunuh dia!" Baron Gustav mendorong nampan yang dibawa salah satu pelayannya. Sehingga buah anggur yang merupakan buah langka jatuh ke tanah dengan sia-sia. Selanjutnya baron itu menarik pinggul pelayan wanita itu, kemudian memangkunya dengan wajah penuh napsu dan juga bejat.


"Ini ...." Pria berkacamata yang berada di sudut tempat itu awalnya ragu untuk berkomentar. Hanya saja keadaan ini begitu penting, jika apa yang dikatakan penjaga itu benar maka itu sangatlah bahaya! Dia pun mengumpulkan keberanian dan kemudian bertanya kepada penjaga itu.


"Ya, itu haruslah dia. Bagaimanapun berada di kelompok yang sama terlihat beberapa prajurit berpakaian khas lengkap seperti prajurit di benteng utama. Mereka pastilah ... tidak salah lagi," kata penjaga itu menjawab pertanyaan si pria berkacamata seraya bangkit dan berdiri tegak.


Baron Gustav pun murka. Dia yang sebelumnya tengah meraba-raba tubuh pelayannya itu mendadak mencengkram keras leher sang pelayan, hingga wanita itu berjuang melepaskan cengkraman tangan baron itu dan memohon belas kasih kepada tuannya. Pelayan itu pun meneteskan air mata dan mulai memukul dada baron itu, hanya saja usahanya tidaklah cukup untuk menyelamatkan nyawanya. Pelayan itu pun tewas karena tidak bisa bernapas, para pelayan yang tersisa yang melihat adegan mengerikan itu langsung menggigil di tempat dan pergi menjauh dari tuannya itu.


Berjalan mendekati penjaga yang saat ini menunduk, Baron Gustav langsung menampar penjaga itu hingga penjaga itu kehilangan keberaniannya. Baron itu sekali lagi menampar, lalu melakukan tendangan keras dan melukai kaki penjaga tersebut.


Penjaga itu pun jatuh dengan posisinya yang sekarang setengah bersujud.


"Sangat disayangkan, sepertinya aku telah melewatkan sebagian tonton bagus dari drama ini."


"Siapa!"


Datang dari arah luar pintu, seorang pria muda muncul bersama dengan anak kecil yang berpakaian kumuh dan beberapa pengikut di belakangnya. Kehadiran itu memicu amarah yang berlebih di hati baron tersebut, membuatnya geram dan memaki untuk beberapa saat.


"Sial! Ke mana perginya para penjaga! Mengapa ada orang luar bisa masuk seenaknya!" Baron itu pun memaki ke arah pria berkacamata.


Baton Gustav sangat kesal dan dia pun mulai berjalan menuju kelompok itu dan berniat memberi mereka semua pelajaran yang berharga. Mereka haruslah tau, dihadapan dirinya yang berkuasa atas wilayah pemukiman ini, mereka tidak boleh sombong dan harus tunduk hormat kepadanya! Bangsawan kecil seperti mereka tidak seharusnya memprovokasi tuan rumah ini, atau mereka semua akan mendapatkan hukuman berat.


"Kalian berani-beraninya masuk ke tempatku ini! Apa kalian tidak tau tempat ini adalah milik penguasa pemukiman ini? Baron Gustav! Ya, itu aku! Apa para penjaga di luar tidak memberi tau kalian?" Baron Gustav tiba di hadapan Mavis dan mendekatkan kepalanya hingga begitu dekat dengan wajah Mavis. Di sisi lain Mikaela yang merasa risih melihat tampilan baron tersebut yang bertelanjang dada dengan perut yang seperti bukit itu, segera maju untuk mengusir baron itu mundur.


"Tuanku, mohon beri perintah untuk menghabisi lemak tercela ini." Melalui telepati, para makhluk bayangan seperti Bintang dan Becky yang memiliki tempramen buruk segera menghubungi tuannya itu, dengan maksud meminta persetujuan untuk membunuh si gempal ini.


"Sangat baik, hanya seorang pelayan berani mengusirku pergi?" Lemak itu tertawa seakan ini hanya sebuah lelucon. Kemudian dia membalik badan untuk melihat di mana si pria berkacamata itu berada. Kemudian dia melanjutkan, "Cepat pergi panggilkan para penjaga! Dasar para penjaga tidak berguna! Bisa-bisanya mereka melalaikan tugas mereka menjaga lantai bawah! Sudah bagus mereka aku gaji dengan mahal!"


"Baik Tuan." Pria berkacamata itu gugup dan segera berjalan dan berniat untuk pergi melewati kelompok Mavis. Hanya saja, sebelum dia keluar dari pintu itu, suara Mavis berhasil menghentikannya.


"Tidak perlu repot-repot untuk memanggil penjaga yang lain, karena mereka semua sudah tertidur untuk selamanya," kata Mavis dengan nada mengejek.