
Baron itu jatuh dengan kaki gemetar, wajahnya pucat dan berubah begitu jelek. Saat ini Bulan tengah menekan tubuh baron itu sehingga membungkuk di hadapan sang pangeran. Sementara itu Mavis sendiri sudah duduk di kursi singgasana layaknya penguasa tempat ini, dia menatap baron itu dengan tersenyum geli. Dia benar-benar tidak habis pikir, ke mana perginya harga diri baron itu? Mengapa yang dilihatnya sekarang hanya orang bodoh yang tidak tau malu? Padahal sebelumnya dia bahkan berani berbicara lantang dihadapan Mavis. Namun, sekarang baron itu dengan melas tengah berlutut memohon ampun atas nyawanya.
"Pangeran, aku benar-benar tidak memiliki mata untuk melihat. Sungguh, jika aku mengetahuinya, aku tidak akan berbuat kurang ajar seperti itu." Baron itu memohon dengan air mata penuh penyesalan.
"Apa benar begitu? Lalu mengapa aku menemukan begitu banyak prajurit mengepungku di luar? Bagaimana kau menjelaskan ini padaku?"
"Pangeran, itu tidak benar. Mereka melakukan itu tanpa sepengetahuanku."
"Oh?"
Mavis terkekeh pelan dan mengirimkan pesan melalui telepati kepada Mikaela yang saat ini berada di sampingnya. Dia memberikan perintah untuk membawakan para prajurit dan pemanah yang sebelumnya menjaga pintu gerbang dan juga tembok. Mikaela pun melirik ke arah tuannya itu dan mengangguk, kemudian dia memberi salam penghormatan dan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Kembali Mavis melirik ke arah baron itu, melihat kegusaran yang tercetak jelas di wajahnya.
Sementara itu, berpindah tempat di pemukiman bekas dungeon break, di mana para goblin hidup dan mulai melakukan perubahan dan pembangunan. Ketika beberapa goblin pengintai yang berjaga menemukan keberadaan manusia di dalam hutan, mereka jatuh dari atas pepohonan dan memblokir jalan kelompok itu.
"Kalian tidak diizinkan untuk pergi lebih jauh lagi," kata salah satu goblin yang berada di barisan paling depan. Kemudian goblin itu mengangkat tangannya rendah, sebagai isyarat kepada goblin lainnya yang masih berada di pohon untuk tidak melepaskan serangan anak panah.
Di sisi lain, seorang pemuda yang terlihat ramah turun dari kereta kuda dan muncul di hadapan para goblin. Dia tersenyum, sebelum akhirnya menyapa para goblin itu dengan nada hormat.
"Salam, aku Pangeran Julius dari Kekaisaran Menara Kembar. Kehadiranku di sini bermaksud untuk menjalin hubungan baik dengan kalian. Mohon sampaikan pesanku kepada tuan kalian, ada beberapa hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya," kata Pangeran Julius.
"Kalian dapat melupakan omong kosong itu, tuanku tidak akan tertarik. Kalian sudah membuat marah tuanku sebelumnya, karena menyerang pemukiman kami. Pergilah, aku akan melepaskan kalian kali ini karena perintah dari tuanku untuk tidak menyerang manusia tanpa alasan." Goblin itu berkata dengan nada provokasi dan menatap tajam sang pangeran.
"Kalau begitu, aku akan undur diri." Sang Pangeran tersenyum pahit dan melangkah kembali memasuki kereta kudanya. Sang kusir pun yang gugup segera membalik arah dan membawa pergi sang pangeran meninggalkan tempat itu.
"Kau, kembali ke pemukiman dan sampaikan kepada Tuan Ivar. Katakan bahwa pangeran dari Kekaisaran Menara Kembar telah datang seperti yang telah diperkirakan oleh Tuan Besar." Goblin itu memberikan instruksi kepada goblin lainnya untuk pergi menyampaikan pesan.
Goblin itu mengangguk dan mengambil langkah pergi.
Pesan itu sampai dan diterima oleh Ivar. Berada di camp pelatihan para goblin, Ivar yang pada saat itu sedang melatih para goblin segera berhenti dan lekas menghubungi Mavis.
"Tuan, orang dari kekaisaran baru saja datang berkunjung. Sesuai dengan apa yang Tuanku perintahkan, para goblin yang menjaga hutan sudah mengusir mereka pergi." Ivar pun menjelaskan bagaimana pangeran dari kekaisaran itu menitipkan pesan permohonan maaf kepada Mavis.
"Kerja bagus." Mavis tiba-tiba tersenyum ketika menatap baron itu, membuatnya tampak semakin gelisah. "Kalau begitu kembali pada pekerjaanmu."
"Dimengerti."
Setelahnya Mavis memutuskan sambungan dengan Ivar. Mikaela pun telah kembali bersama dengan para prajurit dan pemanah yang kini sudah berpihak padanya. Tanpa ragu mereka menghadap Mavis mengikuti Mikaela dari arah belakang.
Mavis pun mengangguk.
"Berdirilah."
"Terimakasih, Pangeran," kata para prajurit itu sembari bangkit.
"Sekarang, jelaskan bagaimana para prajurit itu pergi keluar dan menghadangku. Baron Gustav mengatakan kalau itu sepenuhnya kesalahan para prajurit karena bertindak di luar instruksinya, apa benar begitu?" kata Mavis dengan serius.
"Pangeran, itu tidaklah benar! Dia sendiri yang telah menyuruh para prajurit pergi untuk membunuh Pangeran!" kata salah seorang pemanah wanita dengan berani.
"Dia pembohong! Pembohong besar! Mereka telah menjebak aku, Pangeran! Tolong hukum mereka!" Baron itu berteriak memaki para prajurit dan pemanah seakan-akan dia yang telah dijebak.
"Sudah sampai sejauh ini kau masih berniat menyangkal?" Mavis pun murka dan bangkit dari duduk. Dengan nada tidak suka, Mavis memerintahkan kepada Velinka dan anak buahnya untuk membawa baron itu pergi. "Kalian, bawa orang ini dan masukan dia ke penjara!"
"Pangeran, tolong! Mereka berbohong! Aku tidak bersalah!"
"Pangeran, maafkan aku ... beri aku kesempatan!"
"Pangeran...."
Baron itu pun lenyap dari pandangan Mavis, membuat ruangan itu seketika menjadi lebih menenangkan baginya. Mavis pun kembali duduk dan menyambungkan kembali telepati dengan Ivar. Sebelumnya, dia belum sempat bertanya tentang sejauh mana perkembangan para goblin itu. Ketika komunikasi itu kembali tersambung, dia segera menanyakan bagaimana kondisi di pemukiman para goblin.
Kondisi di pemukiman itu ternyata sudah berkembang seperti apa yang diperkirakan oleh Mavis. Melihat bagaimana pertumbuhan populasi para goblin yang dapat meningkat dengan cepat, kinerja empat bidang telah menambah para pekerjanya. Sampai saat ini para goblin telah membangun lima pos pemantau yang mengelilingi goa. Pos pemantauan tersebut dijaga oleh beberapa goblin yang telah dilatih oleh Ivar. Dan juga sudah dibentuk tim pengintai yang menyebar di beberapa titik di dalam hutan. Salah satu tim sebagai contohnya yang bertemu dengan utusan dari kekaisaran.
"Tuan, sebenarnya kami memiliki informasi lain yang perlu untuk disampaikan." Ivar berkata dengan nada antusias.
"Katakan."
"Itu, tiga hari yang lalu ada sekumpulan goblin yang datang ke pemukiman kami. Mereka merupakan para goblin asli yang mendiami domain ini sejak berakhirnya perang jaman dahulu," kata Ivar.
"Mereka datang? Bagaimana bisa tau tempat pemukiman kalian?"
"Tuan, itu karena mereka telah mendengar kabar tentang kemenangan pertempuran kami sebelumnya. Dengan demikian mereka datang untuk bergabung. Sampai saat ini mereka masih bermukim di luar goa, aku perlu mendengar instruksi Tuanku selanjutnya. Perlukah aku mengusir mereka?"
"Tidak, biarkan mereka bergabung. Namun, sebelum itu kamu perlu memberitahukan aturan apa saja yang harus mereka ikuti, termasuk tunduk setia padaku. Mereka bisa memilih untuk menerimanya atau pergi," kata Mavis dengan seringai di wajah. Sebenarnya dia cukup tertarik dengan kemunculan para goblin itu. Hanya saja, jika kedatangan mereka akan menghambat kinerja para goblin bawahannya, lebih baik mereka pergi saja.