
Suara berdesing, ketika belati milik Bintang menabrak penghalang tak kasat mata yang muncul dari belakang sosok pria itu. Bintang melompat mundur dan berdiam sesaat, begitu pun dengan Bulan yang sejak tiba di ruangan itu memilih berdiri di tempatnya dengan tenang.
"Kalian berdua?" Sosok itu langsung menyunggingkan senyuman tebaik, dia yang pada saat itu tengah melihat ke arah lain segera berbalik dan menemukan sosok Bintang dan Bulan dengan pandangan tak percaya.
"Flint? Ezekiel, kau juga ada di sini." Bintang berjalan mendekat dan mengembalikan belatinya ke dalam kehampaan. Bintang memeluk keduanya dengan sukacita, dia pikir keduanya sedang dalam bahaya yang serius dan terjebak di suatu tempat, sampai-sampai tidak kunjung kembali ke sisi Mavis.
"Dari mana saja kalian? Apa kalian tidak tau? Tuan sangat mengkhawatirkan kalian berdua," kata Bintang, kemudian dia melepaskan pelukan dari tubuh Ezekiel.
"Siapa mereka?" Bintang menyadari kehadiran tiga sosok lain di belakang keduanya. Ketiga sosok itu terlihat familiar. Menggunakan pakaian bertudung hitam tertutup, seperti yang sering dia lakukan dulu sebagai penyamaran, Bintang sedikit penasaran dengan sosok di balik tudung itu.
"Ah maaf, aku lupa mengenalkan mereka kepada kalian." Flint menggaruk kepalanya sebelum memulai memperkenalkan ketiga sosok misterius yang datang bersamanya. "Mereka adalah kawan-kawan kita yang masih setia untuk mengikuti amanah dari raja terdahulu."
"Biar aku perkenalkan satu persatu dari mereka. Mulai dari yang paling termuda, namanya Scott, dia memiliki semangat yang sangat tinggi. Kemudian wanita cantik disampingnya bernama Violet, meski dia terlihat jauh lebih tua dibandingkan Scott, mereka adalah sepasang kekasih. Dan yang terakhir, pak tua di sana namanya...."
"Dia pastilah Wed."
Bintang memotong perkataan Flint, ketika manik matanya menatap pak tua yang akan diperkenalkan padanya itu. Bintang tau persis siapa dia, karena hubungan di antara keduanya tidaklah sesederhana yang terlihat. Pak tua itu pun menyangga kedua tangannya di pinggang, terkekeh ketika Bintang menyebut namanya dengan sangat baik.
"Rupanya kau masih mengingat pak tua ini. Dan lihat, kau sudah tumbuh menjadi gadis yang lebih kurang ajar."
"Salam Tetua." Berbeda dengan kebiasaan adiknya yang berbicara kasar, Bulan berjalan mendekat untuk menyapa pak tua itu. "Senang bisa bertemu dengan Tetua lagi. Di mana tetua lainnya?"
Wajah Wed berubah masam dan dia enggan untuk menjawab. Begitu juga dengan empat lainnya yang datang bersamaan, ikut memasang senyuman yang dipaksakan. Bulan yang memiliki kecerdasan tinggi segera tau sesuatu sedang disembunyikan, hal buruk pasti telah terjadi pada mereka.
"Apakah mereka semua berkhianat? Tidak adanya mereka di sini menandakan mereka jelas tidak mengindahkan amanat dari raja terdahulu!" Bintang menjadi marah, begitu menyadari apa yang terjadi.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Pintu ruangan itu terbuka dan sosok pria muda dengan pakaian menawan masuk diikuti dengan para pelayannya. Pria itu tak lain dan tak bukan yakni Mavis itu sendiri. Dia berhenti sejenak di depan pintu untuk mencaritahu apa yang sedang terjadi.
"Flint? Ezekiel? Rupanya itu kalian?" Mavis menghela napas berat saat mengetahui bahwa dugaannya telah salah. Ternyata itu bukanlah sekelompok pembunuh yang datang mencarinya, melainkan sosok yang telah lama dia kenal.
Sementara ketiga lainnya yang menyadari apa yang terjadi, ikut memposisikan diri setengah bersujud ke arah Mavis. Ketiganya tidaklah bodoh, jika Flint dan Ezekiel melakukan penghormatan seperti itu, pastilah sosok yang ada dihadapan ketiganya sekarang adalah sosok yang akan menjadi tuan dari mereka.
"Suatu kehormatan bagi aku untuk bisa bertemu dengan Tuan Agung. Dengan membawa nama Wed dan keluargaku, aku bersumpah setia kepada Tuanku," kata Wed dengan penuh keteguhan hati.
"Salam, kepada Tuan Agung, terimalah kesetiaan dari darah keluarga Cloud, keturunan terakhir, Violet bersumpah untuk melayani Tuanku."
"Aku Scott, juga bersumpah setia kepada Tuan Agung. Meski aku masih muda, Tuanku dapat mengandalkan aku."
Ketiganya mengukir hati Mavis dan membuatnya bersukacita. Meski Mavis belum tau jelas apa yang terjadi, dia mengangguk dan mempersilahkan ketiganya untuk berdiri. Bagaimanapun Mavis menjadi begitu senang karena Flint dan Ezekiel sudah kembali dari perjalanannya.
Mavis sebenarnya sudah memiliki niatan untuk pergi mencari keduanya dan sekaligus berkunjung ke tempat persembunyian ras iblis. Dia berencana pergi setelah urusannya di kerajaannya ini telah selesai, termasuk hal baru tentang pemindahan tempat tinggalnya di pemukiman yang berada di wilayah perbatasan selatan.
"Bisakah kalian menceritakan kepadaku, apa saja yang telah terjadi selama kalian berada di luar?" Mavis bertanya setelah dia menempatkan tubuhnya duduk di ranjang, sementara mereka berlima berbaris tak jauh di depannya. Seperti sedang disidang, kelimanya tidak bisa untuk tidak mengatakan yang sebenarnya, terlebih mereka sudah bersumpah setia kepada Mavis.
"Tuan, sesuatu telah terjadi di pemukiman ras iblis kami. Tempat itu sekarang telah berubah, mereka menyebutnya sebagai Kerajaan Iblis. Itu terjadi setelah munculnya sosok Iblis bernama Azazel yang merupakan salah satu komandan iblis terdahulu. Tentu, kemunculan itu sangatlah aneh bagi sebagian dari kaum kita. Banyak yang berpendapat bahwa Azazel melakukan pengkhianatan dan melarikan diri di tengah peperangan dengan para dewa langit. Menyebabkan dia masih selamat setelah semua kehancuran saat itu. Akan tetapi sebagian yang lain memilih untuk mendukung Azazel untuk memimpin kembali ras iblis menuju kemuliaan," kata Flint.
"Ketika aku dan Ezekiel tiba pertama kali di tempat itu, kami langsung dibawa dan menjalani sidang penghakiman. Para iblis di sana telah mendapat doktrin yang salah tentang para iblis yang berada di luar pengasingan. Mereka menganggap iblis sepeti kamilah yang berkhianat karena pergi meninggalkan pemukiman. Oleh karena itu, kami sempat mengalami hukuman dan terkurung di sana."
"Untungnya, setelah aku dan Ezekiel membuka mulut saat sidang penghakiman, membeberkan semua informasi bahwa telah munculnya Tuan Agung seperti yang telah diramalkan oleh raja terdahulu untuk memimpin ras iblis menuju masa kemenangan dan kehidupan yang damai, banyak teman-teman yang masih setia dengan amanah raja terdahulu diam-diam berkumpul dan merencanakan."
"Para tetua seperti Tetua Wed, pergi bersama yang lain untuk menyelamatkan aku dan Ezekiel. Kemudian kami berencana segera melarikan diri dari tempat itu. Hanya saja, bawahan Azazel segera menemukan kami dan mencegat kami di jalan. Terjadi pertempuran di luar pemukiman, banyak dari saudara kita yang berkorban untuk membeli sedikit waktu agar kami bisa pergi."
"Namun, sangat disayangkan. Hanya kami berlima yang selamat dalam pelarian. Di saat-saat terakhir, kami sempat melihat Azazel datang dan mulai membantai saudara-saudara kami."
"Kalian tidak perlu merasa terbebani, kematian mereka tidaklah sia-sia karena kalian selamat dan datang kepadaku. Percayalah, aku akan membalaskan kematian mereka suatu saat. Jadi, kalian berhenti untuk menyalahkan diri sendiri." Mavis berkata dengan senyuman hangat, dia tau itu sangatlah berat bagi kelimanya.
"Darah dibalas dengan darah, akan kupastikan Azazel mendapatkan balasan yang setimpal dari tindakannya." Dalam diam, Mavis mengirimkan pesan itu kepada seluruh makhluk panggilannya.
Mavis benar-benar bertekad pada janjinya, suatu saat dia akan datang dan mengetuk pintu rumahnya untuk menagih hutang nyawa kepada iblis bernama Azazel. Mavis akan membalasnya berjuta kali lipat sebagai harga karena telah menyinggung dirinya, juga telah menghukum pelayan setianya, Flint dan Ezekiel tanpa seizinnya.