I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 56 : Musuh Para Iblis?



Kemunculan Yennefer secara tiba-tiba membuat hati Earl Edward dan Sasha berdegup kencang. Menjadi tidak tenang, makhluk panggilan yang melihat pun ikut bertanya-tanya saat merasakan sesuatu yang berbeda terpancar dari dalam gadis itu. Samantha tidak luput dari perasaan yang tidak nyaman, dia pun diam-diam mencoba mencari tau keanehan darinya.


Dulu, saat Mavis mengobrol dengan Yennefer, mereka sudah bergabung menjadi makhluk panggilan--kecuali Mikaela, jadi mereka tau betul perbedaan gadis itu sekarang dengan sebelumnya. Gadis itu kini memancarkan sedikit aura mengamuk yang suci dan tercerahkan, bertentangan dengan kesukaan para iblis pada umumnya. Meski demikian, para makhluk panggilan di tempat itu hanya merasa tidak senang, sejatinya mereka tidak menerima dampak dari aura itu karena mereka sudah menjadi makhluk panggilan.


Mereka hanya tidak senang karena gadis itu samar-samar memancarkan aura yang sama seperti yang dimiliki para dewa terdahulu! Musuh para iblis!


"Siapa manusia itu?" Para makhluk panggilan itu sama-sama menerawang.


"Samantha, apa kau melihat sesuatu darinya?" kata Akio.


Samantha menggeleng perlahan, kemudian dia mengatakan, "Aku tidak mendapat pengelihatan tentangnya, yang aku dapatkan hanyalah informasi umum darinya saja," kata Samantha, dia sendiri cukup bingung dan merasa ada sesuatu ada yang salah di sini, siapa gadis itu?


Samantha jelas mendapatkan sepotong informasi kalau gadis itu hanyalah seorang manusia biasa, tapi mengapa dia bisa mengeluarkan sedikit aura dari seorang dewa terdahulu?


"Gadis itu harus dibunuh!" Bintang mengirimkan pesan kepada makhluk panggilan lainnya melewati telepati. Namun, Bulan dengan cepat menolak gagasan itu, mereka harus memberitahu kepada tuannya terlebih dahulu. Dia merasa sekarang bukan saat yang tepat.


Bintang sendiri cukup sensitif begitu merasakan sedikit aura yang merembes keluar dari gadis itu, dia mencoba tidak menampilkan wajah bengisnya dan menggertakan gigi. Jika saja tuannya itu tidak memiliki hubungan tertentu dengan gadis itu, percayalah, Bintang sudah merobek dan memotong-motong tubuhnya menjadi beberapa bagian begitu mendeteksi aura itu.


"Apa kalian mengenal dia?" kata Earl Edward. Sasha sendiri mendukung pertanyaan bangsawan itu dan dalam hati ikut bertanya untuk hal yang sama.


Bangsawan itu bertanya ketika semua orang tengah terdiam dan saling memandang. Bangsawan itu bingung, mengapa identitas seorang pangeran menjadi begitu murah diketahui oleh orang-orang? Melirik dengan sekilas Yennefer yang berada di hadapannya itu bahkan terlihat seperti orang biasa dengan pakaian yang sangat sederhana di mata. Para makhluk panggilan hanya terdiam dan tak membalas pertanyaan bangsawan itu, meski dia tau. Dia pun tidak bisa untuk tidak bertanya langsung kepada sang pangeran.


"Tuan mengenalnya?" kata Earl Edward, sambil dia mengoreksi penampilan gadis itu dari atas sampai bawah.


"Ya, dia Yennefer, waktu itu aku bertemu dengan dia di tempat ini."


Earl Edward saling bertatapan dengan Yennefer, kemudian tak tau siapa yang lebih dulu tersenyum, keduanya saling memberi salam.


Sasha baru bangun dari keterkejutannya dan dia segera berbisik dari arah samping Mavis, dia bertanya mengapa tuannya itu memberitahu identitas dirinya sebagai seorang pangeran kepada orang yang bahkan baru bertemu dengannya sekali. Ini tidak masuk diakal!


Sasha hanya terdiam setelah mendengar jawaban pangerannya itu. Dia masih tidak setuju meski itu hanyalah nama yang dia berikan. Bagaimana jika gadis itu benar-benar mengira Mavis adalah pangeran yang sebenarnya? Tidak ada yang tau apa yang dipikirkan gadis itu.


"Kau tidak lupa dengan janjimu sebelumnya, kan?" kata Yennefer.


"Umm...."


Mavis kesulitan untuk menjawab. Benar dia ingat pernah berjanji untuk mengunjungi bisnis orangtua gadis itu, akan tetapi dia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya, itu karena dia pikir tidak akan bertemu dengan gadis itu lagi.


"Ya, aku mengingatnya. Hanya saja kali ini aku masih belum bisa datang untuk berkunjung," kata Mavis.


Pada akhirnya dia hanya bisa memasang muka memelas dan meminta maaf karena dia belum bisa pergi berkunjung, dia sedang terburu-buru.


"Baiklah, Asta, aku tidak akan bertindak lebih jauh untuk menyeretmu." Yennefer melihat wajah tak berdaya pria dihadapannya itu dan tertawa kecil. "Ini masih berlaku untuk selanjutnya, datanglah jika kamu sedang tidak terburu-buru."


Mavis mengangguk.


"Tuan."


Seorang pria diam-diam muncul dari belakang Earl Edward dan melaporkan bahwa segala persiapannya telah selesai. Pria itu tidak lain adalah penjaga yang dulu pernah Mavis temui di kediaman bangsawan itu. Kali ini dia tidak mempunyai kesombongan, itu terlihat saat dia menunduk begitu Mavis melirik ke arahnya. Barang-barang bawaan bangsawan itu seperti bahan-bahan tertentu untuk meracik obat sudah terkumpul dan tersimpan rapih dalam kereta pengangkut kuda. Empat pengawal lain terlihat sudah berdiri di dekat kereta pengangkut itu.


Earl Edward mengangguk untuk mengisyaratkan Mavis agar segera mengakhiri obrolan ini.


Mavis pun mengerti dan segera berbicara dengan Yennefer bahwa sudah saatnya dia untuk pergi bersama yang lain. Gadis itu tersenyum dan melepas mereka pergi, dia tidak mengatakan apa-apa untuk membalas, dia hanya mengangguk sambil mengusap hewan peliharaannya.


Mereka pergi meninggalkan wilayah pusat kerajaan dan melajukan kuda-kudanya. Earl Edward berada di paling depan memandu jalan bersama Bulan di sampingnya. Beberapa kali bangsawan itu bertanya dengan Bulan tentang masalah-masalah kecil, Bulan sendiri menjawab pertanyaan itu sesekali sesudah Mavis memberi izin untuk itu. Lagipula bangsawan itu tidak menganggap iblis sebagai musuh, dia bahkan memiliki hubungan yang dekat dengan si iblis penyembuh.