I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 104 : Dia Seorang Master



Deretan prajurit telah bersiaga di luar gerbang dengan atribut pakaian lengkap, beberapa kavaleri pun dikerahkan dalam operasi militer kecil itu. Berada di barisan terdepan, seorang pria menggunakan stelan pakaian zirah berwarna hitam--kontras dengan yang dikenakan para prajurit--tengah terdiam di atas tunggangannya. Dengan wajah tidak santai pria itu melihat ke arah kejauhan datangnya sosok misterius bertudung hitam, yang semakin lama semakin bergerak mendekat ke arahnya.


Ketika kedua penjaga dinding yang sebelumnya telah kembali dari melapor melihat dari atas menara, mereka berdua sejenak saling bertatapan dan jatuh dalam pemikiran yang mendalam. Keduanya bertanya-tanya, siapa sebenarnya dia? Sepenting itukah sampai harus mengerahkan sejumlah prajurit elit untuk berjaga di luar gerbang?


Sebenarnya, dia kuat?


"Ketua, apa kau sudah tau dari awal bahwa orang itu adalah seorang master?" kata salah satu penjaga menara, melirik ke arah kepala pimpinan dinding pengawasan yang berdiri tidak jauh darinya itu.


"Tidak." Pria berjenggot itu terkekeh sambil mengelus jenggotnya seperti seorang penatua saja, padahal umurnya hanya berkisar lima puluh tahunan.


"Ha?"


Kedua penjaga itu melongo dan kehabisan kata-katanya.


"Hanya firasatku saja," kata kepala penjaga dinding melanjutkan perkataannya. Kemudian dia tersenyum sambil memperhatikan sosok berjubah hitam itu.


Perlu diketahui, kerajaan saat ini mengalami krisis yang berkepanjangan akibat suatu wabah penyakit. Orang-orang tentu disibukan dengan berbagai macam hal, termasuk kemiliteran pastilah memiliki banyak pengaturan untuk dilakukan. Sebenarnya banyak wilayah kerajaan yang mengalami kerusuhan akibat protes para warga terhadap kinerja kerajaan dalam menyikapi wabah penyakit ini. Sampai sekarang pun eselon atas kerajaan masih belum menemukan solusi dan jalan tengah yang tepat dari masalah ini. Itu yang lagi-lagi membuat kepanikan para penduduk.


Peran prajurit di sini adalah menahan dan mencoba menenangkan para penduduk. Maka dari itulah para prajurit kerajaan telah dikerahkan dan kini terpencar di berbagai wilayah kerajaan. Yang berarti jumlah prajurit di ibu kota kerajaan telah berkurang secara signifikan. Itu sejatinya tidak memiliki banyak bahkan lebih dari tiga ribu prajurit.


Mereka para penduduk bukan hanya dilarang untuk meninggalkan pemukiman mereka masing-masing, tapi juga tidak boleh pergi ke ibu kota kerajaan ini. Bukan tanpa alasan, instruksi itu telah dipikirkan secara matang-matang sebagai langkah untuk memutus rantai penyebaran. Dan juga untuk melindungi keselamatan keluarga kerajaan dan eselon atas yang berada di dalam ibu kota kerajaan.


"Pangeran, di sini kau sudah memiliki pimpinan penjaga dinding yang handal, tapi mengapa kau masih mau menyusahkan nenek tua ini?" Nenek itu berkata dengan nada santai, sebenarnya tidak ada jejak ketidak senangan alih-alih tersenyum tipis ke arah pria itu.


"Benar apa yang menjadi firasat pimpinan kepala dinding. Dia adalah seorang master yang kuat, aku bisa melihat mana spirit alam terkumpul dalam dirinya dalam jumlah yang sangat besar. Setidaknya orang itu memiliki lencana berwarna merah di tangan. Aku takut di kerajaan ini bahkan hanya ada dua orang yang bisa menandinginya. Mohon Pangeran untuk tidak memprovokasi master ini."


"Bukankah dia hanya petualang berlencana merah saja? Mengapa itu terlihat seakan-akan sangatlah kuat? Bukankah dari pihak kerajaan memiliki belasan petualang berlencana merah? Apa maksud Tetua berkata hanya dua orang saja yang bisa menandinginya?" kata pria itu seraya menaikan alisnya setengah.


"Ya, nenek ini sangat yakin hanya Master Guan dan Nona Yu yang bisa. Hanya saja, seperti yang Pangeran ketahui, Master Guan dan Nona Yu sedang tidak ada di ibu kota kerajaan. Dengan demikian akan sangat sulit nantinya jika pihak kerajaan harus berurusan dengan master ini." Setelah membisikan perkataannya, nenek itu pun berjalan kembali ke barisan belakang dengan dibantu seorang wanita muda.


"Apa yang Nenek katakan kepada Pangeran tadi?" Sambil berjalan menuntun sang nenek, wanita itu bertanya dengan tingkahnya yang berlagak sok manis. "Nek, bisakah kau memberitahuku?"


Nenek ini merupakan penatua mantan penasihat raja sebelumnya. Seorang yang memiliki kemampuan dalam menghitung seberapa banyak spirit alam yang terkumpul dalam diri seseorang. Dengan demikian, dia bisa menilai seberapa kuat seseorang hanya dengan melihatnya saja.


"Lihat anak ini...." Nenek itu terbatuk-batuk dan memotong perkataannya. "Apa belum cukup kau menyeret seorang nenek pergi sampai sejauh ini? Ah, punggungku... cepat bawa aku pergi untuk beristirahat!"


Wanita itu dengan wajah malu membantu sang nenek kembali masuk ke dalam. Dia benar-benar tidak berani berkata-kata lagi. Pasalnya, ini memang murni kesalahannya karena membawa nenek tua itu dalam kesusahan, ketika dia bahkan sudah pensiun dari pekerjaannya. Sebelumnya, hanya karena kemampuan nenek itu dalam menilai, wanita itu bersama dengan sang pangeran datang dan memohon kesediaan dari sang nenek.


"Baiklah, kali ini saja. Ini sebagai balas budiku pada ayahmu karena dulu pernah membantuku. Lain, aku tidak akan mau membantu meski itu sang raja sendiri yang meminta." Begitu yang dikatakan sang nenek sebelumnya, yang pada akhirnya bersedia ikut bersama wanita itu dan sang pangeran untuk melihat keluar dinding.