I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 129 : Pengakuan Dosa



Reus mengatakan bahwa dia yang membantu mantan selir itu pergi melarikan diri, dengan wajah pahit dia membuka rahasia itu pada Mavis alih-alih menyembunyikannya. Tentu, Mavis sudah lama menyadarinya, dan dia sedikit salut karena tidak menyangka Reus berani jujur padanya.


"Pangeran, sebenarnya aku telah menyembunyikan sesuatu darimu." Sasha yang mendengar pernyataan Reus menunduk malu karena sebenarnya kedatangannya kali bukan semata-mata menyampaikan pesan dari sang ratu, akan tetapi dia memiliki maksud yang lain. "Sebenarnya aku telah berhenti menjadi pelayan di mansion kerajaan, aku telah mendapatkan persetujuan dari kakakku dan ibumu. Selepas aku menyampaikan pesan ini, aku tidak akan kembali ke pekerjaanku di ibu kota. Apa aku boleh terus menetap di tempat ini? Seperti halnya dulu, Pangeran bisa mengandalkan aku untuk menemanimu berpergian, aku bisa menjadi penjagamu."


Sontak Mavis langsung saja berdehem, karena tidak menyangka gadis itu benar-benar tidak malu mengatakan hal manis seperti itu.


"Boleh saja, kamu dapat memilih tinggal di tempat ini jika kamu menginginkannya. Lagipula semakin banyak pekerja di tempat ini semakin cepat perkembangan segala sesuatunya. Hanya untuk menjadi pengawalku sepertinya itu tidak diperlukan. Kamu telah melihatnya sendiri, mereka lebih dari cukup untuk melindungiku." Kemudian sang pangeran menoleh ke arah para makhluk bayangannya yang berbaris di samping, menunjukan betapa kuatnya para pelayannya itu kepada Sasha.


Dasar Pangeran bodoh! Mengapa juga dia sama sekali tidak peka? Jauh-jauh aku datang ke tempat ini, apa dia tidak tau aku hanya ingin dekat dengannya? Dalam hati Sasha mengutuk tuannya itu. Terlihat wajahnya memerah dan sedikit cemberut karena rencananya gagal untuk bisa terus mengikuti pangerannya itu.


"Baiklah, jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, kalian bisa kembali ke tempat peristirahatan. Ah ya Sasha, sebelum kembali kamu bisa bertanya kepada Mikaela untuk posisi barumu," kata Mavis sembari menunjuk ke arah pelayannya satu itu.


"Tuan, bukankah aku akan menjadi seperti adikku? Maksudku, aku sudah siap jika kamu ingin merubahku seperti dia," kata Reus, tubuhnya gemetar tapi mencoba untuk tetap berani.


"Tidak perlu buru-buru untuk itu." Mavis bangkit dan berjalan hendak meninggalkan ruangan, sampai berhenti di belakang Reus, dia pun melanjutkan, "Aku mempercayaimu, lagipula kamu tidak akan mungkin mengkhianatiku. Kau tau, adikmu masih melayaniku, keberadaanya ada di tanganku."


Selanjutnya Mavis tersenyum dan menepuk bahu pria itu, sebelum akhirnya meninggalkan pria itu sendirian di dalam ruangan. Dalam hati Mavis pun mengasihani pria itu karena tanpa pria itu sadari, sang pangeran telah menaruh kutukan dalam dirinya. Yah, meski Mavis sudah mempercayai Reus sepenuhnya, tidak ada salahnya berjaga-jaga.


Sore itu berakhir dengan persiapan acara besar di tengah alun-alun, dalam rangka menyambut kembalinya sang tuan yang telah pergi hampir sebulanan. Sebenarnya Mavis menyayangkan pesta malam itu, karena para penduduk sangat senang dan menikmatinya, itu akan sangat sulit untuk mengumumkan tentang pesan yang datang dari ibu kota. Baik-baik saja jika itu berita baik, akan tetapi kenyataannya itu justru sebaliknya.