I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 143 : Kematian Yang Menyakitkan



Smith kehabisan tenaganya ketika selesai menghancurkan belasan monster ilusi yang telah dibuat oleh Scott dan Violet. Dengan napas yang tersengal-sengal dia menatap ke arah sekeliling dan mendapati bahwa para makhluk mengerikan itu berdatangan layaknya banjir yang tidak ada habisnya. Pria itu pun sejenak berhenti dan mengamati dari mana asal makhluk itu bermunculan.


"Mereka ada di sana."


Smith kemudian melesat begitu mengetahui posisi kedua dalang yang berada dibalik penciptaan makhluk mengerikan itu. Dia menerobos barisan musuh dan melancarkan serangan kejutan kepada sepasang kekasih tersebut. Tentu Scott dan Violet, keduanya menyadari kedatangan pria itu dan buru-buru mengaktifkan susunan array ilusi sebagai bentuk pertahanan diri. Segera kabut putih mulai tercipta dan perlahan meluas hingga jarak belasan meter dari tempat keduanya berada. Smith pun tertegun dan menghentikan langkahnya. Namun sayangnya, sudah terlambat bagi pria itu untuk menyadari karena sesungguhnya dia telah terperangkap di dalam kabut asap yang pekat itu.


Smith berdecih dan wajahnya berubah jelek ketika mengedarkan pandangannya, tetapi tidak menemukan jalan ke mana dia harus melangkah. Dia pun bergumam sembari terus waspada dengan sekelilingnya. "Berapa banyak trik yang disembunyikan keduanya? Sepertinya aku terlalu menganggap remeh mereka, ini sangat tidak mungkin bagiku untuk melawan mereka hanya seorang diri. Sebaiknya aku menunggu Rosita datang untuk membantu, seharusnya dia berada tidak jauh dari tempat ini."


Dunia miniatur Ilusi.


Kemampuan pertahanan yang diperlihatkan oleh Scott dan Violet. Sinar terang muncul dan menyilaukan pandangan, kemudian memaksa pria itu untuk menutup kedua matanya rapat. Tak sampai semenit kemudian pria itu kembali membuka matanya, akan tetapi dia segera menyadari bahwa dia telah berpindah tempat ke hamparan padang rumput yang sangat luas. Sekarang berdiri di sekitarnya, belasan monster bermata merah seperti yang telah dia lihat sebelumnya tengah mengepung pria itu dari segala arah.


"Celaka!"


"Sepertinya aku harus berjuang sedikit lebih lama lagi. Rosita, kuharap kau segera datang membantuku. Lain, aku benar-benar akan kehilangan semuanya begitu durasi kemampuan ini berakhir," kata Smith dengan ekspresi rumit di wajahnya. Kemudian pria itu mengambil langkah ancang-ancang, lalu melesat dan meninju keras salah satu monster yang berada di sekitarnya.


Sementara itu, berada di posisi medan pertempuran yang lain, terlihat seorang wanita dengan mulut yang tengah memuntahkan darah, terlungkup tak berdaya di atas tanah. Di hadapannya, sudah berdiri sosok Bintang yang tengah menyeringai dengan penuh kepuasan. Salah satu matanya terluka dan meneteskan darah. Makhluk bayangan itu pada dasarnya terluka akibat serangan yang dikirimkan ahli wanita itu, membuat wanita iblis itu murka dan datang untuk membalas seribu kali lipat padanya. Bintang menginjak punggung ahli wanita itu dari belakang, kemudian tertawa seraya mengarahkan kedua belatinya itu menghujam bagian pundak dan bagian tak fatal lainnya berulang kali, berniat membuat ahli wanita itu merasakan penderitaan yang teramat sangat sebelum kematiannya.


"Smith, ma-afkan ku...." Ahli wanita itu pun tersenyum ketika di penghujung napas terakhirnya. "Ku-harap kau bi-sa menjaga rosita kecilku."


Bintang menggeram dan menancapkan belatinya itu jatuh tepat di jantungnya, membuat wanita itu terbelalak dan kemudian mati.


Berada tak jauh dari tempat itu, Bulan terlihat tengah berjalan seraya membawa jasad seorang ahli pria di lengannya. Begitu dia melihat sang adik mulai kehilangan kendali, Bulan pun sejenak menghentikan langkahnya dan mengingatkan kepada sang adik untuk berhenti melakukan hal itu.


".... Tuan sudah menunggu. Bawa juga tubuh wanita itu, dia memiliki kualifikasi untuk dinilai oleh Tuanku." Bulan kemudian melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Bintang yang masih duduk diam di atas tubuh wanita itu.