I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 44 : Sepertinya Ada Yang Salah Denganku



Berakhirnya acara penyambutan murid Akademi Lynford, orang-orang dari Osaka mempersiapkan segala keperluan untuk kembali ke kerajaannya. Mengenai pembatalan perjodohan, Raja Ragnar telah memberikan kompensasi kerugian kepada keluarga kerajaan Sriwijaya secara rahasia. Kompensasi itu lebih seperti hadiah yang raja berikan untuk pangeran Asta, sebidang tanah desa yang berada di wilayah paling selatan dari Kerajaan Osaka.


Yang lebih mengejutkan lahan itu diberikan atas nama Pangeran Asta, bukan Kerajaan Sriwijaya, bagaimanapun jika orang lain tau tentang masalah ini, akan menjadi suatu kegemparan tersendiri. Raja Cornelius yang mana satu-satunya orang yang tau tentang kompensasi ini bahkan terkejut sampai- sampai jantungnya terasa mau copot! Tangannya gemetar tiada henti bahkan sampai beberapa jam sesudah Raja Ragnar pergi meninggalkan obrolan.


"Apa yang dilakukan anak itu sampai-sampai Ragnar begitu menyukainya?" Raja Cornelius memasuki pemikirannya yang mendalam. Di lihat dari sisi manapun itu sebuah keajaiban Raja Ragnar memberikan kompensasi hanya karena pembatalan itu.


Yang sedang dibicarakan adalah Ragnar! Raja Osaka yang berafiliasi tingkat lima, jika dia mau dia bisa saja membatalkan perjodohan ini dengan kekuasaannya, dan Raja Cornelius yang hanya dari kerajaan yang bahkan baru-baru ini naik ke tingkat tiga tidak mempunyai kekuatan untuk memprotes hal tersebut. Namun, dengan murah hati Raja Ragnar memberi kompensasi? Dan itu dia memberikan atas nama anaknya, Pangeran Asta?


Semakin dipikirkan semakin membuat dirinya pusing dan menemui jalan buntu. Orang yang paling penasaran yaitu Kayle, dia tetap terjaga di samping sang raja dan menerka apa yang sedang dipikirkan kakak iparnya itu. Sebelumnya dia sudah menanyakan apa terjadi sesuatu antara dirinya dan Raja Osaka, karena setelah kedua raja itu berbincang secara tertutup, Raja Cornelius mulai bertingkah aneh sesudahnya. Akan tetapi Raja Cornelius hanya diam dan tidak menjawab pertanyaannya, itu membuat Kayle lebih curiga lagi ada sesuatu yang sedang dirahasiakan sang raja.


"Kayle, aku ingin menemui Asta, antar aku ke tempatnya." Tiba-tiba Raja Cornelius berbicara setelah beberapa saat terdiam dalam pikirannya sendiri.


"Maaf Yang Mulia?" Kayle yang awalnya sudah menyerah mencari tau apa yang sedang dipikiran sang raja, mulai mengantuk, dan jelas dia terkejut ketika sang raja tiba-tiba mengatakan hal yang aneh.


"Yang Mulia, ini sudah terlalu larut malam untuk berkunjung, dan lagi mungkin Asta sudah tertidur."


"Ah." Raja Cornelius baru tersadar kalau ini sudah waktunya jam istirahat malam. Dia bertanya-tanya sudah berapa lama dia merenung dalam pikirannya?


"Kalau begitu bawa aku melihat dia besok, sekarang aku akan pergi beristirahat," kata Raja Cornelius.


"Baik, Yang Mulia." Keduanya pun pergi ke tempat kediaman sang raja dengan pengawalan para penjaga.


Keesokan harinya, di kediaman Pangeran Asta Dixon.


Setelah membasuh wajahnya dan mengelap dengan kain kering, Asta berjalan menuju balkon kamarnya. Karena balkon kamarnya itu mengarah langsung dengan taman, begitu Mavis menginjakan kaki keluar, dia langsung disambut dengan hawa sejuk di pagi hari. Sangat jarang Mavis bisa merasakan angin sepoi yang tidak terkontaminasi saat di kehidupannya yang dulu, akan tetapi dia sangat senang bisa merasakannya di sini. Juga, perasaan damai selalu dia rasakan saat melihat pepohonan dan tanaman bunga yang tumbuh di taman.


"Itu..."


Dia melihat Sasha bersama teman pelayan yang lain tengah merawat rumput-rumput itu dengan riang. Mereka memotong setiap hari rumput-rumput itu dan rak jarang Mavis melihatnya.


"Gadis bodoh itu, apa yang dia pikirkan tentangku saat aku tidak ada di sini? Bagaimanapun setelah mendengar penjelas Sera sebelumnya, sepertinya dia dan kakaknya mencurigai sesuatu tentang tingkah aneh Sera saat menyamar menjadiku." Mavis merenungi sambil menyanggah kepalanya dengan tangan.


Beberapa saat dia tetap ada posisinya mengikuti gerak dari Sasha kemanapun gadis itu pergi. Merawat rumput, menyirami tanaman bunga, membersihkan dedaunan yang jatuh, semua yang dia lakukan Mavis melihatnya. Dan dia tersenyum tanpa sadar dan begitu menikmati.


"Sepertinya ada yang salah denganku..."


Setelah Sasha dan pelayan lainnya selesai pada pekerjaannya, Mavis melangkah kembali masuk. Dia merapihkan diri dan mulai memanggil para makhluk panggilan. Begitu dia mengintruksikan dalam telepati, semua langsung muncul dari asap hitam dan mengambil bentuk tubuh mereka masing-masing.


"Tuanku..."


"Kalian sepertinya semangat sekali hari ini? Apa sesuatu telah terjadi pada kalian di dalam sana tanpa aku ketahui?" kata Mavis, dia membalas dengan senyuman.


"Tidak Tuan, kami hanya senang bisa bertemu dengan Tuan lagi," kata Mikaela.


"Kalian ini ya, selalu saja mengatakan hal yang dapat membuatku malu." Mavis terkekeh dan bersukacita.


"Hari ini aku akan pergi mengantar kepergian Raja Ragnar dan rombongannya. Setelah itu mari kita bicarakan untuk rencana perjalanan kita selanjutnya."


"Dimengerti."


"Tuan, aku sudah tidak sabar mengajari para iblis rendahan itu sopan santun!" Bintang menyangga tangannya di pinggang, sambil memasang ekspresi serius.


"Tenanglah, kita juga belum tau kondisi sebenarnya di sana," kata Mavis.


Ketika mereka mengangguk setuju dengan perkataan tuannya, salah satu yaitu Buster yang memiliki visi yang jelas berkomentar, "Tuan, dua pelayan yang sering mengunjungi Tuanku tengah menuju ke sini."


"Marrie dan Sasha?"


"Kalau begitu aku mempunyai satu hal lain yang perlu diurus, aku ingin Becky dan Becca bersama Bulan pergi menemui Earl Edward yang tengah menetap di ibu kota. Beri dia peringatan untuk tidak mencampuri urusanku, atau nyawanya sebagai taruhan," kata Mavis dengan serius di wajahnya.


"Kalian bisa pergi."


Setelahnya Bulan dan si kembar menghilang menjadi setumpuk asap hitam. Mereka langsung bergerak sesuai pesanan. Mavis ingin menyelesaikan segala yang masih mengganjal sebelum pergi, takut-takut masalah sepele seperti ini akan membesar tanpa bisa dia kendalikan.


"Maaf Tuan, jika saja saat itu aku tidak ceroboh."


"Lupakan, lagipula kamu juga tidak sengaja juga melakukannya."


Kejadian itu terjadi di Bar Paman Hammer sewaktu pertikaian dengan anggota petualang asing. Mavis sendiri sebenarnya tidak ingat persis seperti apa kejadiannya waktu itu, dia bahkan tidak sadar tentang detailnya.


Mikaela yang pada saat itu diberi perintah oleh Mavis untuk memberikan pelajaran kepada para petualang, tanpa sadar membuka sedikit identitasnya.


Dia melepaskan tudung hitamnya dan memperlihatkan penampilan sejatinya, sehingga tanduk kecil di kepalanya pun terekspos. Untuk orang-orang biasa mungkin tidak memperhatikan itu dan lebih fokus pada wajah Mikaela yang mempesona. Jika melihat pun seharusnya mereka tidak tau tanduk apa itu, tapi siapa sangka ada seorang ahli berada di kerumunan para petualang dan mengenalinya.


Ahli itu seorang yang melayani Earl bernama Edward. Diketahui dari informasi yang Becky dan Becca dapatkan, Earl Edward adalah bangsawan yang memiliki wilayah kecil di bagian timur kerajaan. Kebetulan saat ini dia sedang melakukan transaksi dengan bangsawan di kota untuk menjual obat-obatan.


Mavis sendiri cukup kaget awalnya, bagaimana hanya seorang pedagang obat-obatan seperti dia mempelajari tentang makhluk mitos seperti iblis yang bahkan orang-orang jaman sekarang menganggapnya sudah musnah.