I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 68 : Menyembuhkan Sang Ratu



Berada di depan halaman taman kediaman Ratu Lilian, kelompok Mavis tiba sore itu. Tanpa beristirahat, begitu menginjakan kaki kembali di mansion keluarga, Mavis langsung membawa pergi kelompoknya untuk menyembuhkan sang ratu. Sebagai pengecualian, Sasha dan anak-anak dari tempat pembuangan yang mengikuti Bulan diperintahkan untuk berpisah. Meski penasaran dengan apa yang akan dilakukan sang pangeran, Sasha dengan berat hati pergi dan kembali untuk membantu kakaknya. Anak-anak dari tempat pembuangan juga menunduk hormat dan mengucapkan salam perpisahan dengan senang kepada tuan besarnya Mavis dan tuannya Bulan.


"Ayo."


Setelah melihat mereka lenyap dari pandangan Mavis, dia segera berbalik dan berjalan masuk ke dalam mansion sang ratu. Bertemu dengan para pengawal, Mavis dengan ramah tersenyum kecil dan para penjaga hormat menyambut sang pangeran. Setibanya mereka di depan pintu kamar sang ratu, langsung disambut dengan bangsawan wanita yang merupakan pelayan sang ratu, namanya Hina. Wanita itu menatap serius ke arah Mavis yang datang bersama dengan kelompok besar di belakangnya.


"Pangeran, apa kau datang untuk mengunjungi sang ratu?" sapa pelayan Hina dengan sopan.


Mavis mengangguk.


"Pangeran, sepertinya kamu belum tau tentang perintah baru dari Yang Mulia. Kalau begitu izinkan saya untuk menjelaskan, Yang Mulia telah memberi perintah untuk melarang siapapun datang berkunjung sejak dua hari yang lalu. Itu karena kondisi Yang Mulia Ratu semakin memburuk. Pangeran, semoga kamu bisa mengerti."


"Bibi Hina, aku datang untuk menyembuhkan sang ratu. Di sini aku membawa seorang ahli untuk datang memeriksa," kata Mavis, kemudian dia menunjukan Lily yang berada di antara kelompok itu.


"Pangeran...., ini... aku masih tidak bisa mengizinkanmu. Bagaimana jika kamu berbicara dengan Yang Mulia Raja terlebih dahulu?" Dengan sangat malu, Hina dengan tidak enak menolak keinginan Mavis.


"Bibi, apa kamu tidak percaya denganku? Beri aku sedikit waktu untuk melihat kondisi ibuku, oke? Aku sangat rindu, aku sudah tidak melihatnya beberapa hari ini," kata Mavis.


Hina memiliki ekspresi rumit di wajahnya. Di sisi lain dia merasa kasihan dengan Mavis atas kondisi sang ratu, dari kabar yang beredar, dia tau kalau sang ratu itu sudah tidak bisa diselamatkan. Tabib kerajaan sendiri yang telah memberikan pernyataan menyerah terhadap sang ratu, Yang Mulia Raja jatuh terpukul karena itu. Akan tetapi, dia juga memiliki tanggung jawab atas kondisi ratu, sesuai perintah sang raja.


Mavis tidak tau apapun dengan gosip yang beredar tentang sang ratu, karena sudah beberapa hari dia berada di luar kerajaan. Optimis dengan kemampuan iblis Lily, Mavis yakin dia bisa menyembuhkan penyakit yang dimiliki sang ratu, apapun jenis penyakit itu dan seberapa parahnya.


Akhirnya, Hina menyerah dan memperbolehkan Mavis masuk bersama dengan kelompoknya. Para penjaga yang berdiri di dekat Hina juga mengangguk setuju dan menutup rapat mulut mereka. Mavis pun berterimakasih untuk itu dan segera masuk ke dalam. Sesampainya di dalam ruangan itu, segera, Mavis melihat sosok yang tidak asing baginya itu tengah ertidur dengan kondisi yang sangat buruk.


Lily melihat sejenak sosok sang Ratu Lilian yang sudah terlihat memburuk, memar berwarna ungu sudah nampak di beberapa titik, seperti daging didalamnya membusuk, itu menunjukan betapa seriusnya penyakit tersebut. Tak ingin mengecewakan tuannya, Lily memfokuskan diri dan mulai mengaktifkan kemampuannya. Dia sedikit gugup karena dia tidak percaya diri, itu karena sudah bertahun-tahun sejak terakhir dia mengaktifkan kemampuannya.


"Tenanglah Lily, kau pasti bisa." Menyadari temannya itu memiliki gelagat tidak yakin, Samantha mendekatinya dan memberikan tepukan pelan di pundak Lily.


Lily menarik napas sambil memejamkan matanya. Yah, ini bukan saatnya untuk ragu-ragu, dia akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan sang ratu. Kemudian setelah dia merasa lebih tenang, dia mulai membacakan mantra dalam bahasa iblis kuno yang Mavis tidak pahami. Lily menjulurkan tangannya dan memposisikannya di atas bagian titik memar berwarna ungu. Segera, tangan Lily mengeluarkan aura berwarna hijau dan tiba-tiba muncul suatu akar semu seperti bayangan keluar dari telapak tangan Lily, kemudian itu menembus kulit sang ratu. Perlahan akar itu membersihkan racun penyebab penyakit sang ratu, dan daerah yang sebelumnya berwarna ungu berubah menjadi seperti semua berwarna cerah. Mavis yang melihat itu tidak bisa membantu tapi tersenyum senang.


Lily sendiri juga menarik napas lega karena berhasil untuk pertama kalinya, dia melirik sejenak ke arah Mavis. Mavis membalas dengan senyuman dan mengangguk. Lily menjadi bersemangat dan melanjutkan untuk membersihkan semua racun yang masih ada di beberapa titik di tubuh sang ratu. Setelah menunggu beberapa lama, tubuh sang ratu telah kembali menjadi mulus. Mavis beranjak dan mendekati ibunya dari sisi lain yang berhadapan dengan Lily. Kemudian dia menggenggam tangan ibunya itu dan mengusapnya sambil bersukacita.


"Terimakasih, Lily. Kamu telah menyelamatkan ibuku."


"Sudah menjadi tugasku untuk melayani Tuan. Aku akan sangat senang bisa membantu banyak Tuanku." Lily tersenyum, matanya sedikit menyipit. Setelah selang beberapa saat, dia berkata dengan berat hati kepada Mavis, "Hanya saja Tuan, aku masih butuh waktu untuk menetralkan seluruh racun yang telah menyebar di aliran darah sang ratu."


"Separah itu?" Mavis membelalakkan matanya dan melihat wajah sang ratu dengan ekspresi rumit. "Ibu, pasti sangat kesulitan di dalam sana. Maafkan aku karena datang terlambat."


Mavis mencium kening sang ratu lalu melirik ke arah Lily, "Tolong sembuhkan ibuku. Aku akan mengandalkanmu."


"Baik, Tuan."


Mavis beranjak dan meninggalkan ruangan sang ratu bersama dengan yang lainnnya. Dia terlihat jauh lebih ceria dari hari-hari biasanya. Itu karena beban paling berat yang selama ini ada di pundaknya telah terangkat berkat kehadiran Lily yang sangat membantu dalam mengobati sang ratu. Mavis tidak bisa berhenti tersenyum. Benar-benar pemandangan yang langka bagi para makhluk panggilan yang mengekori Mavis dari belakang, mereka ikut merasa senang atas kebahagian tuannya.