
Peperangan berakhir dengan dimenangkan oleh pasukan milik Mavis. Para prajurit dari aliansi tiga kerajaan berhamburan dan mengambil langkah melarikan diri begitu mengetahui Pangeran Gregor telah terbunuh ditangan musuh. Tak sampai itu saja, belasan ahli berlencana merah telah tumbang dan hanya segelintir yang berhasil melarikan diri dari pengejaran.
"Buster dan Ivar, kalian tidak perlu lagi mengejar banyak dari mereka, jumlah segini sudah sangat cukup untuk membangun wilayah perbatasan selatan." Mavis tersenyum sembari mengirimkan pesan suara melalui telepati kepada kedua pelayannya itu. Saat ini mereka masih sangat bersemangat mengejar para prajurit yang berniat melarikan diri. Keduanya pun mengangguk paham dan berhenti seperti yang telah diintruksikan, lalu berbalik arah untuk kembali ke tempat tuannya.
Prajurit yang kehabisan napas pada pihak musuh ikut menghentikan langkah, melihat dengan heran bagaimana kedua sosok itu yang sebelumnya mengejar, kini tidak lagi menaruh minat kepada mereka. Entah apa mereka harus senang atau merasa terhina karena kedua makhluk aneh itu tidak lagi mengejar mereka. Yang jelas, para prajurit itu harus lanjut berlari, takut-takut kedua makhluk itu berubah pikiran dan mengejar mereka lagi.
Lily, Mikaela, dan Samantha terlihat datang menaiki tanaman menjalar di atas permukaan tanah, bergerak dengan kontrol kemampuan milik salah satu dari mereka. Tak lama mereka turun dan langsung memposisikan diri setengah bersujud untuk memberi salam penghormatan kepada tuan mereka. Selain itu mereka juga meminta hukuman yang layak karena mereka telah gagal menangkap utusan dari kuil suci itu. Tentu, Mavis tidak mempermasalahkan hal tersebut dan menyuruh ketiga pelayannya itu untuk lebih bersantai.
"Kali ini sepertinya aku mendapatkan tangkapan yang besar. Sangat baik mereka mengirimkan aku orang-orang berkemampuan tinggi." Mavis tersenyum puas ketika melirik jasad belasan petualang yang dikumpulkan para makhluk bayangannya itu.
"Kita kembali ke perbatasan." Kemudian Mavis membalik badan, lalu berjalan ke arah kuda tunggangannya. Masing-masing makhluk bayangan pun membopong kembali jasad para ahli dan menyusul sang pangeran pergi, begitu juga para prajurit yang berasal dari kekaisaran menara kembar, serta para goblin dan juga dwarf.
Sementara itu berada di medan pertempuran yang lain, tepatnya di wilayah selatan kerajaan, para petualang berlencana merah yang berasal dari Kerajaan Baratajaya telah berhasil mengalahkan seluruh ahli dari aliansi ketiga kerajaan. Namun sayangnya mereka tidak merasa puas alih-alih harus menanggung rasa malu. Pasalnya beberapa saat yang lalu mereka barulah menyadari bahwa sebagian kekuatan para petualang yang mereka lawan tiba-tiba saja menghilang, dan itu terjadi bukan hanya satu atau dua saja melainkan keseluruhan dari mereka.
Mendengar laporan yang baru saja dia terima dari para petualang, Raja Cornelius pun terdiam dan kehabisan kata-katanya. Dia benar-benar tidak menyangka akan semudah itu masuk ke dalam jebakan yang telah disiapkan oleh pihak musuh. Sang raja merasa bersalah karena telah keliru dalam mengambil keputusan, awalnya dia pikir bila mencegat pasukan musuh di wilayah selatan, itu akan mencegah korban dan kerusakan yang lebih banyak dibandingkan jika pertempuran itu terjadi di wilayah ibu kota kerajaan.
"Fokus utama pihak musuh sedari awal bukanlah pertempuran hidup dan mati di daratan terbuka ini, melainkan langsung menyerbu menuju ibu kota kerajaan untuk mengambil alih kekuasaan secara paksa. Taktik semacam ini juga bukan sekali dua kali digunakan dalam pertempuran antar kerajaan di benua bagian timur, tapi mengapa aku ...." Sang raja jatuh dalam pemikiran yang mendalam.
Kayle yang mengetahui suasana hati sang raja berjalan mendekat dan mulai menghiburnya. "Yang Mulia, mereka akan baik-baik saja. Masih belum terlambat untuk mempertahankan ibu kota kerajaan, sekarang lebih baik kita segera membawa pasukan kembali ke ibu kota."
Raja Cornelius segera memberi perintah kepada seluruh pasukan untuk mundur dan kembali ke ibu kota secepatnya, berharap mereka belum terlambat untuk melindungi para penduduk yang tinggal di dalamnya. Terlihat wajah sang raja sangat pucat dan gelisah ketika membayangkan hal buruk apa yang mungkin saja terjadi pada keluarganya yang ditinggalkan di ibu kota, terutama anak kesayangannya Asta dan juga sang ratu yang baru saja sembuh dari penyakitnya. Dia benar-benar tidak akan memaafkan diri sendiri jika sesuatu hal yang buruk terjadi pada mereka.
"Nona Lily, bertahanlah." Di sisi lain Pangeran Arslan yang berada di barisan yang sama dengan para petualang, tanpa orang ketahui memiliki kekhawatirannya sendiri dalam hati. Pria itu mengikuti arahan sang raja untuk bergegas kembali menuju ke ibu kota kerajaan.
Pangeran dari utara itu pada dasarnya tidak meragukan kemampuan wanita yang dikaguminya itu, yang mana sudah dia ketahui sangatlah kuat. Hanya saja bila dihadapkan dengan banyaknya jumlah pasukan yang dikerahkan oleh aliansi tiga kerajaan, ibu kota Kerajaan Sriwijaya sudah dapat dipastikan tidak akan memiliki harapan untuk bertahan. Belum lagi petualang berlencana merah dari pihak musuh yang mereka lawan sebelumnya hanya sebuah pengalihan, sedangkan yang asli pasti berada di pasukan utama yang sedang bergerak menuju ke arah ibu kota kerajaan.