I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 98 : Kesempatan Kedua



Sampailah Mavis dan rombongannya tiba di depan gerbang pemukiman itu. Terlihat sebuah pintu besar tertutup yang terbuat dari kayu tengah dijaga oleh beberapa sosok prajurit. Sementara di sisi atas dinding yang terbentuk dari tumpukan kayu itu, ada beberapa pemanah yang mengarahkan busur mereka ke arah kelompok Mavis. Para pemanah itu siap kapan pun jika pimpinan sementara mereka di sana memerintahkan mereka untuk menembak.


"Siapa kalian!" Para penjaga yang bertugas di depan pintu masuk besar itu bertanya dengan nada tidak suka.


Begitu kelompok Mavis berhenti tak jauh dari hadapan mereka, para prajurit pemberontak itu mengeluarkan pedang mereka dari sarung, kemudian mengarahkan itu pada kelompok Mavis sebagai tanda penolakan atas kehadiran mereka. Para penjaga itu tampak memasang wajah serius, keringat bercucuran di pelipis masing-masing dari mereka. Sedikit jejak keraguan pun mulai muncul, mengapa juga sang pangeran bisa tiba di tempat ini? Ke mana perginya ratusan prajurit yang dikirimkan keluar sebelumnya? Para prajurit yang menjaga gerbang pun mulai membuat dugaan buruk.


"Kalian menyingkirlah, jika tidak ingin bernasib sama seperti mereka!" Salah satu prajurit bawahan Wed melemparkan sebuah karung ke arah prajurit penjaga pintu masuk tempat itu. "Ini sebagai hadiah untuk kalian semua, ambilah."


"Siapa yang menjamin kalau itu tidak berisikan bahan peledak?" kata prajurit penjaga pintu dengan nada mengejek. "Kau pikir kami bodoh, ha?"


"Lihat orang ini." Prajurit sebelumnya yang melemparkan karung turun dari tunggangannya dengan terkekeh pelan, kemudian berjalan ke depan, dan langsung ke tempat di mana karung itu berada. "Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang membukanya untuk kalian, tapi mungkin setelah itu kalian tidak akan suka dengan isinya."


Kemudian, prajurit itu pun membuka karungnya. Para prajurit penjaga pun memasang kuda-kuda mereka, bersiap untuk mengantisipasi hal tak terduga yang akan dilakukan orang itu.


Selanjutnya, apa yang membuat prajurit penjaga merasa seakan beban berat jatuh menimpa mereka tatkala prajurit itu mengeluarkan sesuatu dari dalam karung tersebut. Kemudian dengan wajah jijik dia meludahinya dan menendang benda tersebut dan itu berguling ke arah para penjaga pintu dengan noda darah yang menggaris di sepanjang jalan yang dilaluinya.


Sontak saja kedua manik mata seluruh prajurit pemberontak membelalakkan mata dan beberapa ada yang terhuyung jatuh ke belakang. Kejutan bukan hanya dirasakan prajurit yang berada di luar pintu gerbang pemukiman, tapi para pemanah yang berdiri di atas tembok kayu ikut merasakannya. Tentu itu bukan tanpa alasan, pasalnya benda yang baru saja mereka lihat tak lain adalah kepala milik komandan mereka sendiri! Selanjutnya prajurit dari sisi pangeran lagi-lagi mengirimkan tendangan dan itu muncul satu kepala lagi yang tak lain dan tak bukan teman akrab mereka.


Adegan itu membuat syok di hati mereka. Kepahitan dan ketakutan terlihat begitu dia melirik ke arah sang pangeran. Tak berselang lama, beberapa di antara mereka jatuh dengan kaki yang lemas.


"Komandan!"


"Mungkinkah ...." Pemanah yang didominasi wanita itu tiba-tiba merasakan sengatan di tubuh mereka ketika mengetahui apa maksud sebenarnya prajurit dari sisi sang pangeran itu. Yang pada dasarnya memberi peringatan untuk tidak mencoba menghalangi jalan sang pangeran, atau mereka akan mengalami nasib yang sama dengan rekan-rekan mereka.


"Kau ...."


"Tidak akan aku maafkan!" Seorang pemanah wanita yang meledak marah menarik busur panahnya dan menembak ke arah di mana sang pangeran berada. Pemanah itu pun memasang wajah bengis dan merasa puas karena setidaknya dia bisa membalaskan dendam sang adik yang pasti bernasib sama seperti komandannya itu.


Namun, apa yang membuat pemanah wanita itu membulatkan mata ketika panah yang seharusnya tepat mengenai kepala sang pangeran, dengan mudahnya ditangkis oleh panah yang datang dari arah berlawanan. Panah itu melesat dan bertabrakan, dengan salah satunya menghancurkan panah yang lain. Pemanah wanita itu syok dan hendak mengungkapkan keterkejutannya, tidak mungkin! Hanya saja sebelum dia menyadarinya, sesuatu telah menancap tepat di jantungnya. Pemanah itu merasakan rasa sakit teramat sangat dan melirik dengan perlahan ke arah panah yang menancap di tubuhnya.


"Semuanya, tahan! Jangan ada yang menembak!" Salah seorang pemanah wanita yang terlihat paling tua dibandingkan yang lainnnya, berteriak dengan keras. Dengan wajah jelek dia mengedarkan pandangannya untuk menegaskan kepada pemanah yang lain untuk menjatuhkan busur mereka.


"Kak, tapi itu ...."


"Sudah, dengarkan saja aku! Saat ini kalian hanya perlu diam, jika tidak ingin bernasib sama dengan dia." Pemanah itu berkata dengan wajah jelek ketika menatap pemanah yang sebelumnya nekat menyerang sang pangeran.


"Sungguh tidak tau malu. Sudah baik Tuan Agung memberi dia kesempatan untuk hidup, tapi dia malah berniat mencelakakan Tuanku?" Ezekiel mengerutkan kening seraya mengarahkan busurnya ke arah atas tembok, untuk mengantisipasi adanya para pemanah yang akan menyerang tuannya lagi.


"Tahan," kata Mavis seraya mengangkat tangannya rendah, sebagai tanda agar Ezekiel menurunkan busurnya. Kemudian, dia melanjutkan, "Di sini kalian dapat memilih, seperti mereka sebelumnya. Hanya ada dua pilihan, menyambut aku sebagai tuan kalian yang baru, atau tetap berpihak pada pengkhianat Gustav. Kuberi kesempatan untuk kalian memutuskan, tapi ingatlah aku tidak memiliki banyak waktu untuk kalian."